Oleh: hurahura | 14 Oktober 2017

Melihat Manfaat Peninggalan Arkeologi di Dataran Tinggi Dieng

Dieng-01Kompleks Candi Arjuna (Dok. Naufal)

Dieng merupakan kawasan dataran tinggi yang terletak di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah. Di daerah ini banyak ditemukan bangunan candi, baik yang masih utuh maupun tinggal reruntuhan. Pada masa Hindu-Buddha, Dieng merupakan kawasan peribadatan yang disucikan oleh masyarakat. Saat ini kawasan Dieng berkembang menjadi tujuan pariwisata. Daya tarik wisata utama di wilayah Dieng adalah bangunan candi, antara lain Kompleks Candi Arjuna, Candi Setyaki, Dharmasala, Gangsiran Aswatama, Candi Bima, Candi Dwarawati, Tuk Bimolukar, dan Watu Kelir.

Menurut Handoko (2008: 23) sumberdaya arkeologi masih memiliki korelasi dengan sejarah dan budaya masyarakat setempat yang masih memiliki ciri lokal atau mempertahankan tradisi dan norma-norma adat yang diwarisi dari leluhurnya. Sumber daya arkeologi dapat dimanfaatkan oleh publik atau masyarakat. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, pemanfaatan adalah pendayagunaan Cagar Budaya untuk kepentingan sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertahankan kelestariannya. Di dataran tinggi Dieng masyarakat mendapatkan manfaat dari peninggalan arkeologi berupa candi. Manfaat tersebut berupa peningkatan kesejahteraan dari pengembangan pariwisata candi.


Cenderamata

Banyak wisatawan umumnya memilih menginap di Dieng, karena candi-candi yang ada di Dieng tersebar luas. Jika hanya berkunjung selama satu hari memang mereka tidak dapat menjelajahi semua candi. Potensi tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat dengan mendirikan homestay, seperti yang dilakukan masyarakat di Desa Dieng Kulon dan Dieng Wetan. Keberadaan usaha homestay meningkatkan pendapatan masyarakat Dataran Tinggi Dieng. Masyarakat yang memiliki homestay akan menjelaskan candi dan budaya di Dataran Tinggi Dieng kepada tamu.

Dieng-02

Warung Oleh-oleh khas Dataran Tinggi Dieng di Kompleks Candi Arjuna (Dok. Naufal)

Masyarakat di Dataran Tinggi Dieng sebagian besar berprofesi sebagai petani kentang. Dengan pendampingan dan edukasi dari arkeolog, mereka diharapkan mendapatkan manfaat dari bangunan cagar budaya. Pendampingan yang dilakukan oleh arkeolog dan berbagai pihak kepada masyarakat Dieng, membuahkan hasil yang menggembirakan. Masyarakat Dieng membuat cenderamata dari bentuk candi yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Cenderamata tersebut berupa miniatur bangunan candi, lukisan, dan batik. Cenderamata tersebut sangat bermanfaat bagi pengunjung yang mencari oleh-oleh khas Dieng. Wisatawan yang berkunjung di Kompleks Candi Arjuna, misalnya, dengan mudah akan melihat warung-warung yang menjajakan cenderamata khas Dieng.

Selain cenderamata, masyarakat Dieng juga mengembangkan kuliner. Kuliner yang dikembangkan oleh masyarakat adalah olahan kentang dan carica. Komoditas tersebut merupakan hasil budidaya masyarakat Dieng. Dieng merupakan dataran tinggi yang cocok untuk ditanami kentang dan carica. Masyarakat mengolah kentang menjadi olahan kentang goreng. Sedangkan carica diolah menjadi manisan. Olahan kentang goreng banyak diminati oleh wisatawan yang berkunjung ke Kompleks Candi Arjuna, karena di area tersebut udara terasa dingin sehingga olahan hangat sangat cocok untuk dinikmati. Olahan manisan carica oleh wisatawan biasanya dibawa pulang untuk oleh-oleh.


Seni Budaya

Pengembangan wisata yang ada di Dieng dilakukan dengan memadukan seni dan budaya masyarakat setempat. Di Kompleks Candi Arjuna wisatawan dapat menikmati seni budaya khas masyarakat Dieng, yaitu tari lengger. Tari lengger merupakan budaya masyarakat Dataran Tinggi Dieng. Keberadaan candi yang ada di Dieng, salah satunya Kompleks Candi Arjuna dapat memperkenalkan seni dan budaya masyarakat Dataran Tinggi Dieng. Wisatawan yang berkunjung di Kompleks Candi Arjuna dapat mengelilingi kompleks candi ditemani pertunjukan tari lengger. Kegiatan kesenian yang dilakukan di Kawasan Candi Arjuna selain tari lengger adalah potong rambut gimbal. Rambut gimbal merupakan tradisi untuk memotong rambut gimbal pada anak-anak. Masyarakat Dieng memiliki kepercayaan bahwa rambut gimbal merupakan sesuatu yang sakral, sehingga untuk memotongnya dilakukan upacara khusus. Upacara khusus tersebut dilakukan di Kompleks Candi Arjuna. Upacara potong rambut gimbal menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Kompleks Candi Arjuna.

Peninggalan arkeologi di Dataran Tinggi Dieng berupa candi memiliki peran yang besar pada masyarakat. Peran tesebut terlihat dalam bidang ekonomi dan seni budaya. Masyarakat Dieng mendapatkan manfaat dari hasil penelitian dan pengembangan peninggalan arkeologis berupa candi. Banyaknya wisatawan yang mengunjungi candi di Dataran Tinggi Dieng, merupakan hasil kerja keras antara arkeolog, masyarakat, dan pemerintah. Pemberdayaan masyarakat di Dieng menggambarkan bahwa peninggalan arkeologi memiliki peran yang sangat besar pada masyarakat di sekitar situs arkeologi.


Daftar Pustaka

  • Handoko, Wuri. 2008. “Arkeologi Komunitas: Pengelolaan dan Pengembangan Penelitian Arkeologi di Indonesia,” Jurnal Kapata Arkeologi, Vol. 4 Nomor 7/ November 2008.
  • Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

*******

Penulis: Naufal Raffi Arrazaq, Mahasiswa Departemen Arkeologi UGM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: