Oleh: hurahura | 14 Juli 2011

Tim Arkeologi UI Kembali Menggali Situs Khayangan Api

Sejumlah warga, melakukan penggalian di lokasi penemuan candi di areal persawahan di Desa Puri, Kabupaten Mojokerto, Minggu (2/1). Penemuan bangunan yang diperkirakan komplek candi serta tempat tinggal petinggi Kerajaan merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-13, dan penggalian dilakukan masyarakat karena tidak ada respon Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan. FOTO ANTARA/Syaiful Arif

tempointeraktif.com, Senin, 11 Juli 2011 – Tim arkeologi Universitas Indonesia (UI) kembali melakukan penggalian tahap kedua di situs Khayangan Api di Dander, Bojonegoro, Jawa Timur. Penggalian tahap pertama situs yang diduga tempat pemujaan masa Kerajaan Majapahit itu dilakukan pada pertengahan Desember 2010 lalu.

Ekskavasi tahap kedua akan dilakukan mulai Senin, 11 Juli 2011-Ahad, 24 Juli 2011. Seperti pada penggalian pertama, kali ini tim ekskavasi dipimpin arkeolog UI Dr. Ali Akbar bersama 3 staf pengajar UI. Untuk penelitian awal, para arkeolog memetakan titik-titik yang akan digali. Penggalian difokuskan pada tumpukan bata ukuran besar di lahan galian dengan lebar 40 meter dan panjang 60 meter.

Menurut Kepala Seksi Sumber Daya Alam Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Suyanto, tim penggalian berjumlah 20 orang. Terdiri dari 5 dosen arkeologi dan 15 mahasiswa Arkeologi dari UI. Mereka akan membantu penggalian di areal situs yang bersebelahan dengan lokasi pariwisata Khayangan Api, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro. “Mulai hari ini ada pemasangan tanda pada lokasi yang akan digali,” kata Suyanto kepada Tempo, Senin, 11 Juli 2011.

Suyanto menjelaskan, tim menduga di sebelah api abadi itu kemungkinan terdapat bangunan purba masa sebelum Islam atau sebelum abad XV Masehi. Bangunan itu masih terpendam di dalam tanah. Diduga ada benda-benda purbakala masa Kerajaan Malawapati yang saat itu dipimpin Maha Prabu Angling Dharma yang melatih prajurit Malawapati di lokasi Khayangan Api, sekitar 26 kilometer dari Kota Bojonegoro.

Diduga, Kerajaan Malawati memiliki keterkaitan dengan sejarah wilayah kekuasaan Majapahit, hingga abad XV menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit. Saat itu diduga mulai masuk penyebaran Islam di Pulau Jawa, di antaranya dibuktikan dengan berdirinya Kerajaan Demak.

Dalam melakukan ekskavasi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Biaya penggalian bersumber dari APBD 2011 Bojonegoro senilai Rp 80 juta untuk tahap kedua. Sedangkan tahap pertama telah menghabiskan biaya Rp 60 juta dari APBD Bojonegoro 2010.

SUJATMIKO


Responses

  1. boleh tau perkembangannya untuk sekarang, apakah situs arkeologi yang ditemukan di khayangan api tersebut merupakan kompleks candi atau berupa setapak sisa-sisa taman?

    • Semoga peneliti atau yang menangani situs tersebut bisa memberikan penjelasan, tks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori