Oleh: hurahura | 27 Oktober 2015

Jejak Batujaya di Tiga Museum

Candi-06Salah satu candi di kompleks Batujaya, Karawang

Umumnya bangunan (per)-candi-(an) ada di bagian tengah dan timur Pulau Jawa. Kita tentu mengenal Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Gedongsanga, dan beberapa candi lain di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sebagian bahkan pernah mendengar nama Candi Singhasari, Candi Brahu, dan Candi Tikus di Jawa Timur.

Karena itu Sejarah Kebudayaan Indonesia mengelompokkan dua langgam candi berdasarkan bentuk dan arah hadapnya, yakni langgam Jawa Tengah dan langgam Jawa Timur. Candi-candi di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur sudah populer sejak awal abad ke-19, terutama setelah Raffles menulis buku The History of Java.

Sayang di bagian barat Pulau Jawa, yang saat ini terdiri atas wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten sangat langka ditemukan bangunan purbakala berupa candi. Baru setelah kita merdeka, masyarakat mengenal candi, meskipun candi-candi itu tidak semegah candi-candi di bagian tengah dan timur Pulau Jawa.

Dari sekian banyak situs percandian di bagian barat Pulau Jawa, nama yang paling mencuat adalah kawasan situs Batujaya di Karawang. Situs ini terletak sekitar 20 kilometer sebelah barat Cibuaya atau berjarak 39 kilometer dari arah barat Kota Karawang. Dari garis pantai utara, letaknya sekitar enam kilometer.

Keberadaan kawasan situs Batujaya diketahui pada 1984 oleh tim survei Jurusan Arkeologi UI yang dipimpin oleh Ayatrohaedi. Pada waktu itu baru teridentifikasi lima buah situs berupa gundukan tanah yang pada permukaannya banyak dijumpai bata sisa runtuhan bangunan.

Pada 1985 situs Batujaya diekskavasi oleh Jurusan Arkeologi UI dan dijadikan ajang Kuliah Kerja Lapangan bagi para mahasiswa arkeologi. Bahkan kemudian dijadikan skripsi oleh Budi Teguh Prasetyo (1987) dan disertasi oleh Hasan Djafar (2007). Situs ini juga pernah diekskavasi oleh Asdep Urusan Arkeologi Nasional yang kemudian berubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, sekarang Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Berdasarkan metode pertanggalan relatif dari temuan-temuan arkeologi dan pertanggalan absolut melalui analisis C-14, diketahui kompleks percandian Batujaya dibangun pada masa Kerajaan Tarumanagara dalam dua fase, yakni Fase I sekitar abad ke-6 dan abad ke-7, selanjutnya diteruskan pada Fase II antara abad ke-8 dan ke-10. Fase kedua merupakan fase pendudukan Tarumanagara oleh Sriwijaya.


Arca dan Emas

Beberapa sisa arca pernah ditemukan di situs Batujaya. Arca-arca tersebut terdiri atas arca batu, arca perunggu, arca stuko (semacam batu kapur), dan arca terakota. Entah mengapa arca-arca ini dalam kondisi tidak utuh. Mungkin rusak oleh penggali harta karun.

Sri-badugaArca kepala koleksi Museum Sri Baduga, diperkirakan berasal dari Batujaya

Salah satu koleksi yang cukup baik terdapat di Museum Sri Baduga, Bandung. Ujudnya berupa kepala arca terakota, dengan sedikit pecahan, setinggi 25 sentimeter. Meskipun dalam label disebutkan berasal dari situs Batujaya, namun tidak dirinci dari situs mana. Hal ini tentu saja menyulitkan penyusunan konteks sejarah artefak tersebut.

Di situs Batujaya pernah ditemukan tujuh buah inskripsi atau tulisan pendek. Ini cukup menguatkan pendapat bahwa agama Buddha memang berkembang di Batujaya. Inskripsi-inskripsi tersebut dituliskan pada meterai terakota, bata, lempengan terakota, dan lempengan emas tipis. Inskripsi ditulis dalam aksara Palawa dan bahasa Sansekerta. Namun kebanyakan isinya tidak diketahui karena banyak aksaranya sudah aus.

Hanya inskripsi pada lempengan emas yang terbaca isinya, yakni berupa ayat-ayat suci agama Buddha. Lempengan emas tipis itu rata-rata berukuran 12 sentimeter x 0,8—1,2 sentimeter.

Di Museum Nasional Jakarta tersimpan satu kumpulan inskripsi Buddhis yang digoreskan pada 11 lempengan emas. Inskripsi itu ditulis dengan aksara Palawa dan bahasa Sanskerta. Tiga lempengan di antaranya memuat ayat-ayat Buddhis seperti yang tergores pada inskripsi-inskripsi Batujaya.

J.G. de Casparis mengatakan kumpulan inskripsi koleksi Museum Nasional itu tidak diketahui asal-usulnya. Ia berpendapat seharusnya inskripsi tersebut berasal dari pusat agama Buddha yang besar. Apakah inskripsi-inskripsi tersebut berasal dari Batujaya? Hasan Djafar dalam bukunya Kompleks Percandian Batujaya: Rekonstruksi Sejarah Kebudayaan Daerah Pantai Utara Jawa Barat (2010) menduga ya. Kalau dugaan itu benar, jelas betapa dahsyatnya peranan Batujaya waktu itu.


Museum Situs

Koleksi Batujaya bukan hanya terdapat di Museum Sri Baduga dan Museum Nasional. Secara khusus koleksi Batujaya kini disimpan di Museum Situs Cagar Budaya Batujaya. Museum situs berada di pinggir jalan, jadi mudah dicapai. Dengan adanya jejak Batujaya di tiga museum, tentu orang akan lebih mudah mengenal situs Batujaya.

Museum-05Koleksi Museum Situs Batujaya

Museum ini berawal dari sebuah tempat untuk menampung benda-benda purbakala hasil temuan di kawasan Batujaya. Tempat itu diberi nama Gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya Situs Batujaya. Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan meresmikan tempat itu pada 9 Maret 2004.

Dua tahun berikutnya, lewat masa penataan 2005 dan 2006, tempat tersebut dikembangkan sebagai museum. Meskipun masih dalam standar minimal, pada Oktober 2006 Museum Situs Cagar Budaya Batujaya diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan.

Sebagian besar koleksi museum berkaitan dengan kawasan percandian situs Batujaya yang berlatar Buddha. Sebagian lagi berasal dari situs Cibuaya yang berlatar Hindu. Museum Batujaya memang masih kecil, paling-paling seluas 40 meter persegi. Namun isinya cukup beragam, terutama benda-benda tanah liat, seperti meterai tanah liat, amulet, bata berprofil, manik-manik, arca, gerabah, fosil hewan, dan fosil tumbuhan.

Rencananya, situs percandian Batujaya termasuk museumnya akan dikembangkan. Di kompleks museum sendiri sudah tersedia beberapa tempat, seperti musholla, gazebo, dan ruangan kios. (Djulianto Susantio)

Iklan

Responses

  1. Jadi makin semangat buat tandang ke Situs Batujaya :)). Terima kasih informasinya!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: