Oleh: hurahura | 5 Januari 2014

GUNUNG PADANG: Situs Megalitik yang ”Menggelitik”

Situs Megalitik Gunung PadangKOMPAS/HARIS FIRDAUS

Penulis spesialis situs megalitik asal Inggris, Graham Hancock, dan ahli ilmu alam asal Amerika Serikat, Robert Scoch (tengah), berbincang dengan anggota Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang di situs megalitik Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Kunjungan keduanya berlangsung saat acara Festival Gotrasawala.

Kompas, Minggu, 5 Januari 2014 – Pakena gawe rahayu pakeun heubeul jaya di buana…. Itulah pepatah Prabu Raja Wastu yang tertulis dalam prasasti Kawali pada tahun 1375. Pepatah yang artinya bekerja keraslah supaya berjaya di dunia itu barangkali relevan apabila dikaitkan dengan aktivitas situs megalitik Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Raja dari Kerajaan Sunda Galuh yang terkenal dengan sebutan Niskala Wastu Kancana (1371-1475) itu adalah pemimpin visioner Ki Sunda. Pandangannya selalu jauh ke depan. Ia juga ingin keturunan Ki Sunda memiliki etos kerja keras, all out, tidak setengah-setengah dan tidak malas. Baginda raja paham benar bahwa sebuah karya besar tidak akan pernah bisa diperoleh tanpa kerja keras dengan jalan mudah.

Sejak awal tahun 2012, kawasan situs megalitik Gunung Padang dikaji oleh Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM), yang bekerja sama dengan Staf Kabinet RI dan Staf Khusus Presiden RI bidang Bantuan Sosial dan Bencana. Tim melakukan penelitian terhadap cagar budaya tersebut. Situs ini ditengarai sebagai bangunan megalitik yang konon membuktikan adanya peradaban manusia sejak beberapa abad sebelum Masehi (SM) atau lebih dari 500 tahun SM.

Untuk menyikapi proses penelitian tersebut, pada 26 April 2013 berkumpul sejumlah ahli dari berbagai bidang ilmu yang peduli terhadap pelestarian cagar budaya, khususnya situs Gunung Padang di Cianjur. Dalam pertemuan itu, para ahli menyatakan kekhawatirannya atas kelestarian situs Gunung Padang sehubungan dengan penelitian yang dilakukan secara besar-besaran.

Proses ekskavasi itu menggelitik tokoh dan budayawan Sunda, termasuk warga setempat sebab dilakukan pengeboran menggunakan alat-alat berat yang didahului peledakan. ”Di situlah terjadi insiden berupa penganiayaan ringan oleh warga terhadap anggota peneliti karena peledakan itu dilakukan di tanah mereka,” ujar Bah Ruskawan, budayawan Cianjur.

Karena khawatir menimbulkan konflik, berbagai unsur masyarakat Sunda yang memiliki kepedulian atas kelestarian Gunung Padang pun berkumpul di Kabupaten Cianjur. Mereka menolak penelitian Gunung Padang. Para tokoh Ki Sunda itu juga mengajukan penangguhan penahanan terhadap ketiga warga yang dituding menganiaya. Permohonan itu dikabulkan Pengadilan Negeri Cianjur.


Pelestarian cagar budaya

Pernyataan sikap itu dipelopori oleh Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, organisasi terbesar masyarakat Sunda dan Lembaga Swadaya Masyarakat Ma’soem Peduli Umat (Mampu), yang diikuti 700 orang dari berbagai unsur komunitas kesundaan, seperti Sundawani, Kabuyutan, aktivis mahasiswa Cianjur, serta pakar hukum dan budayawan di Jawa Barat.

Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi menyatakan, keterlibatan Paguyuban Pasundan semata-mata karena kepedulian terhadap kelestarian situs Gunung Padang sebagai cagar budaya warisan leluhur. ”Sama sekali tak ada kaitannya dengan keinginan untuk menguasai kekayaan di dalam perut cagar budaya itu,” kata Didi.

Ketua LSM Mampu Asep Sujana menambahkan, kehadirannya di Cianjur untuk mendukung kelestarian cagar budaya Gunung Padang sebagai aset dan kekayaan budaya leluhur Ki Sunda. LSM Mampu juga menuntut agar penelitian oleh TTRM dihentikan hingga proses hukum terhadap tiga warga Gunung Padang tuntas. ”Jika dilanjutkan, kami khawatir berujung konflik horizontal,” katanya.

Namun, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan justru berpendapat berbeda. Dia justru berharap semangat mengkaji Gunung Padang terus dilakukan untuk mengungkap kejayaan masa lalu yang bisa mengubah sejarah Indonesia. ”Saya tegaskan, pembahasan Gunung Padang harus tuntas agar pro-kontra juga tuntas,” ujar Heryawan saat Festival Gotrasawala yang digelar di Bandung.

Untuk mendukung penelitian, luas kawasan Gunung Padang yang semula ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seluas 1,7 hektar, lewat peraturan gubernur diperluas jadi 25 hektar. ”Jika para ahli bangsa lain begitu peduli, apalagi kita sebagai pemiliknya,” kata Heryawan.


Mirip Machu-Picchu

Sementara itu, kesimpulan awal TTRM antara lain menyatakan, semula di atas bukit situs Gunung Padang dianggap berupa teras-teras dari tumpukan batu yang disusun sederhana, tetapi ternyata tidak demikian. Tim sudah membuktikan, situs Gunung Padang adalah sebuah struktur punden berundak raksasa yang menutup lereng-lereng bukitnya dan dibuat dengan desain arsitektur-konstruksi tingkat tinggi.

”Bisa kita bilang setara atau mirip dengan konstruksi bangunan Machu-Picchu di Peru,” ungkap Boediarto Ontowirjo atas nama TTRM melalui surat elektronik.

Ahman Sya, budayawan, yang juga Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya memaklumi reaksi sebagian budayawan terhadap TTRM. Persoalannya, tidak hanya koordinasi antarberbagai unsur yang terabaikan, tetapi juga aspek etika kultural yang mungkin terlupakan. Masyarakat di sekitar Gunung Padang punya kepercayaan yang harus dihormati.

”Sebab itu, diperlukan kesepakatan sebelum kegiatan riset dilanjutkan,” kata Ahman.

Penelitian boleh saja dilakukan, apalagi untuk mengungkap misteri masa silam. Namun, tentu tata krama harus diindahkan agar tradisi dan adat istiadat yang berlaku tidak dilanggar. Dedi Muhtadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: