Oleh: hurahura | 9 Oktober 2016

Memahami Literasi Masa Kerajaan Kuno di Jawa*

Prasastipohsarang-1Prasasti Poh Sarang (Ilustrasi/Sumber: Google)


PENDAHULUAN

Tulisan dan bahasa dari masa Jawa Kuno menjadi salah satu bukti peninggalan budaya yang paling penting untuk dipelajari. Ditemukannya tulisan tersebut dan dengan pengamatan yang teliti, akan dapat diketahui tentang arti kata demi kata serta kalimat demi kalimat. Selanjutnya kalimat-kalimat yang termuat pada tulisan tersebut, baik yang tersurat maupun tersirat, mengandung informasi-informasi berharga dan dapat dijadikan sebagai pedoman untuk mengetahui peristiwa serta aspek-aspek kebudayaan yang terjadi pada masa lalu. Kajian tentang tulisan aksara Jawa Kuno di Indonesia adalah pekerjaan bagi para peneliti arkeologi  yang membidangi tulisan kuno atau epigrafi, sedangkan dalam kajian kebahasaan Jawa Kuno lebih banyak dikaji dalam ilmu sastra bidang filologi  atau naskah kuno. Dalam ilmu sejarah hal tersebut menjadi pekerjaan ilmuwan sejarah atau sejarawan yang membidangi sejarah Indonesia Kuno. Masing-masing peneliti tersebut memiliki teknik-teknik tersendiri dalam penggunaan metode, pendekatan, serta kajian teori dalam mendukung proses penelitiannya. Dalam hal ini peran dari referensi berupa buku-buku dari hasil pemikiran seorang ahli di bidangnya menjadi sebuah bahan bacaan yang wajib.

Kerajaan-kerajaan kuno di Pulau Jawa masa Hindu-Buddha telah berkembang sejak abad V Masehi, dimulai dari Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Mḍang (Mataram Kuno) abad VIII Masehi, kemudian berkembang terus dari masa ke masa hingga Kerajaan Kaḍiri abad XII Masehi, Kerajaan Singhasari abad XIII Masehi, dan terakhir Kerajaan Majapahit abad XIV-XV Masehi (Hardiati dkk, 2010). Masing-masing kerajaan tersebut meninggalkan bukti-bukti tertulis (tekstual) yang mayoritas berupa prasasti dan beberapa di antaranya adalah karya sastra, baik yang berbentuk puisi Jawa Kuno (kakawin) maupun gancaran (prosa). Penulisan karya sastra Jawa Kuno menjadi puncaknya pada abad XII Masehi yaitu pada masa Kerajaan Kaḍiri. Selanjutnya pada masa Kerajaan Majapahit juga banyak ditemukan beberapa karya sastra, misalnya Kakawin Sutasoma dan Nagarakrtagama.

Dapat dijadikannya karya sastra Jawa Kuno untuk mengetahui aspek-aspek kebudayaan masa Jawa Kuno, meskipun kerangka ceritanya dalam bentuk fiksi, namun diperkirakan tentang penggambaran-penggambaran mengenai hal-hal tertentu yang diceritakan di dalamnya telah mencerminkan sebuah kenyataan-kenyataan pada masa penulisannya (Sedyawati, 1985: 296). Menjadi sebuah kajian yang menarik lagi apabila berdasarkan isi dari karya sastra Jawa Kuno tersebut digunakan untuk mengetahui tentang literasi dalam kehidupan kerajaan kuno di Jawa. Karena pada masing-masing kerajaan kuno tersebut, meskipun jarang yang memberitakan secara lengkap tentang hal-hal yang berkaitan dengan literasi di zamannya, namun beberapa kutipan kalimat yang terdapat di dalamnya mampu membantu dalam memberikan sedikit gambaran tentang literasi pada masa tersebut. Berdasarkan penjelasan di atas maka dari itulah penulis memberikan judul pada karya tulis ini, “Memahami Literasi Masa Kerajaan Kuno di Jawa”. Karya tulis ini berdasarkan kajian pustaka tentang hal-hal yang berkaitan dengan literasi dalam karya sastra masa Jawa Kuno.


PEMBAHASAN


1. Penulis dan Pengguna Literasi Masa Kerajaan Kuno di Luar Istana

Istilah “literasi’ merupakan serapan kata dari bahasa Inggris yang berasal dari kata literacy, berarti “kepandaian membaca dan menulis” (Wojowasito, 1985), sedangkan yang dimaksud dengan literator, yaitu seorang ahli sastra atau pengarang profesional dan juga dengan disebut dengan istilah “pujangga” (Wojowasito, 1985 & Alwi dkk, 2005). Di Pulau Jawa kepandaian tentang membaca dan menulis sudah ada sejak sekitar abad V Masehi meskipun hanya terbatas pada kalangan-kalangan tertentu dalam masyarakat di zamannya. Para pujangga atau ahli sastra dalam Bahasa Jawa Kuno disebut dengan istilah ” Sang Kawi, Bhujangga, atau Rakawi. Mereka semua mayoritas dari kalangan kasta brahmana. Berdasarkan tempat keberadaannya, para pujangga tersebut ada yang berasal dari lingkungan keraton dan ada yang berasal dari lingkungan luar keraton (pusat pendidikan keagamaan di lereng gunung atau tengah hutan). Kitab Sarasamuccaya, menyebutkan bahwa dharmma (kewajiban) dari seorang brahmana salah satunya yaitu mangajya (memberi pengajaran) (Sedyawati dkk, 1991: 33). Para brahmana dalam memberikan pengajaran bertempat di pusat pendidikan keagamaan masa Jawa Kuno atau yang disebut dengan istilah maṇḍala atau kadewaguruan. Pengertian dari maṇḍala atau kadewaguruan yaitu sebuah tempat kediaman dari komunitas religi yang terdiri dari seorang siddhaṛṣi atau mahāṛṣi atau disebut juga dengan dewaguru beserta para sisya (siswa) yang terdiri dari beberapa jenjang tingkat pengetahuannya untuk melaksanakan pendidikan keagamaan (Santiko, 1990: 163-164). Para sisya (siswa) di maṇḍala atau kadewaguruan yang diajar oleh sang guru (dewaguru) terutama yang masih usia dini (9-12 tahun) disebut dengan istilah brahmacari. Keterangan dari Kitab Korawasrama menyebutkan bahwa seorang brahmacari (orang yang tinggal bersama brahmana) adalah orang yang sedang belajar tentang sang hyang sastra (pengetahuan tentang sastra) dan sang hyang aksara (pengetahuan tentang tulisan) (Sedyawati dkk, 1991: 40).

Mengenai seorang brahmacari yang sedang belajar tentang ilmu sastra hal ini seperti yang diceritakan dalam Kitab Gancaran Pararaton, menyebutkan adanya pendidikan tentang sastra yang harus dipelajari oleh tokoh Ken Angrok saat mencari ilmu dan belajar di Maṇḍala Sagênggêng, sebagai berikut:

“…. tumuli sira ring Kapuṇḍungan amanggih sira raryângon anakira Tuwan Sahaja, buyut ing Sagênggêng, aran sira Tuwan Tita, apasakan kalawan sira Ken Angrok. Antyanta dening paḍâsihsihan sira Tuwan Tita kalawan sira Ken Angrok. Atêhêr angher sira ring sira Tuwan Sahaja, tan hana wiyatanira Ken Angrok kalawan Tuwan Tita, harêp ta sira wikana ring rupaning akṣara, mara sira ring sira Janggan ring Sagênggêng, ati amarajakaha, amalaku winarahan sastra. Ya ta winarahan sira ring rûpaning akṣara lawan panujuning swarawyañjanaśastra, sawrêdhining akṣara, winarah sira ring rupacandra kapêgataning tithi, māsa lawan sakakala, ṣadwāra, pañcawara, saptawara, triwara, dwiwara, sangawara, wuku. Bisa Ken Angrok kalawan sira Tuwan Tita kalih sama winarahan ing sastra denira Janggan…” (Padmapuspita, 1966:11).

Artinya: … kemudian dia ke Kapundungan, dia bertemu dengan anak gembala yang merupakan anak dari Tuwan Sahaja kepala wilayah di Sagênggêng yang bernama Tuwan Tita, yang nantinya bersahabat dengan Ken Angrok. Pada akhirnya antara Tuwan Tita dan Ken Angrok saling mengkasihi. Kemudian Ken Angrok diaku anak oleh Tuwan Sahaja. Tidak ada perselisihan antara Ken Angrok dan Tuwan Sahaja, mereka berharap untuk mengerti tentang wujud aksara, datanglah dia ke seorang guru yang berada di Sagênggêng. Dalam hatinya ingin menjadi murid untuk diajarkan tentang sastra. Untuk itulah dia diajarkan tentang wujud aksara dan mengetahuan tentang huruf hidup, huruf mati, diajarlah dia tentang bentuk candra sengkalan, masing-masing hari, bulan serta waktu, hitungan hari berjumlah enam, hari berjumlah lima, hari berjumlah tujuh, hari berjumlah tiga, hari berjumlah dua, hari berjumlah sembilan, wuku. Ken Angrok dan Tuwan Tita dapat belajar bersama dalam ajaran sastra disampaikan oleh guru.

Berdasarkan cerita di atas menunjukkan bahwa pengetahuan tentang ilmu sastra wajib diberikan kepada seorang brahmacari khususnya orang yang nantinya akan menjadi raja. Namun untuk mempelajari pengetahuan khususnya yang berada pada sebuah pustaka, harus mendapatkan izin dari sang guru, dewaguru, atau bhujangga. Karena pustaka-pustaka yang dijadikan bahan materi ajaran sang guru kepada para sisya (siswa) dianggap suci atau sakral, sehingga tidak sembarangan orang dapat mempelajarinya. Hal ini seperti yang tersirat dalam Kitab Gancaran Pararaton yang menceritakan tentang adanya pohon jambu di halaman perguruan yang berbuah lebat dan sang guru berpesan agar tidak dimakan oleh para murid kecuali nanti kalau sudah matang. Namun pada malam harinya tiba-tiba ada kelelawar yang memakan jambu itu, dan paginya sang guru melihat banyak buah jambu yang berserakan di halaman dan kemudian dibereskan oleh pengiringnya. Sang guru mengambil duri rotan untuk mengurung jambunya serta dijaga semalaman. Pada saat mengawasi jambunya, dia melihat kelelawar berbondong-bondong yang banyak sekali dari ubun-ubun Ken Angrok sedang memakan buah jambu itu. Karena telah mengetahui hal demikian maka sang guru lalu mengusir Ken Angrok (Padmapuspita, 1966:50-51).

Berdasarkan cerita di atas, sebuah makna yang tersirat yaitu adanya peristiwa yang dilakukan oleh tokoh Ken Angrok yang secara diam-diam mempelajari pustka-pustaka yang belum mendapatkan izin resmi dari sang guru hingga karya sastra tersebut jatuh berserakan di bawah. Kemudian sang guru membereskan karya sastra tersebut dan kemudian menyimpannya di tempat yang aman. Setelah sang guru mengetahui kesalahan Ken Angrok, dia langsung mengusirnya dari perguruan Sagênggêng. Hal ini juga diperkuat bahwa sebelum adegan cerita tersebut, dalam cerita sebelumnya menampilkan Ken Angrok bersama Tuwan Tita sedang belajar tentang sastra. Selain itu juga menunjukkan selama proses pendidikan, para siswa harus taat pada perintah guru. Menariknya lagi dari cerita di atas yaitu adanya tindakan untuk mengumpulkan pustaka yang tercecer di bawah dan upaya penyimpanan yang lebih ketat agar tidak mudah dicuri orang. Dengan demikian menunjukkan bahwa menyimpan pustaka terutama yang mengandung ajaran suci pada masa Jawa Kuno tidak boleh dilakukan secara sembarangan dan harus selalu dijaga dengan teliti. Hal ini seperti yang diceritakan dalam Kitab Korawāśrama menceritakan tentang sebuah pustaka yang seharusnya wajib disimpan dengan sebaik-baiknya dan tidak boleh rusak, yaitu dengan disimpan di dalam peti, kemudian terbungkus dalam karung, dan bersaput dalam kain. Kemudian diceritakan juga adanya pustaka bernama Śāstāgama (sastra dan agama) yang rusak akibat tindakan yang sembarangan. Kemudian Sang Gaṇa (Ganesha) memperbaikinya untuk diserahkan kepada orang yang dipercaya bisa merawat dan menyimpannya yaitu Bhagawān Citragotra (Sedyawati, 1985:288-292). Berdasarkan keterangan di atas dapat dipahami bahwa pada masa Jawa Kuno tentang penyimpanan, perawatan, dan perlindungan pada sebuah pustaka harus dilakukan oleh orang yang mendapatkan kepercayaan dari penulisnya, sang guru (dewaguru) atau sang bhujangga yang menggubah maupun memilikinya. Selanjutnya terdapat beberapa ajaran-ajaran dalam sebuah pusat pendidikan masa Jawa Kuno (maṇḍala atau kadewaguruan) seperti yang tertulis dalam karya sastra Jawa Kuno, di antaranya: ajaran yatha bhuta (ajaran tentang kebenaran), siksa sisyakrama (aturan tingkah laku seorang siswa), astiti silakrama (aturan bertingkah laku baik), gurususrusa (patuh kepada guru), susilasthiti (senantiasa berkelakuan terpuji), wruh ing kawi / sastra (pemahaman pada kesusasteraan), dan lain-lain (Sedyawati dkk, 1991: 32&43).

Para pujangga yang berasal dari luar istana jarang yang menuliskan namanya dalam karya sastra gubahannya. Terkadang hanya menyebutkan nama naskah, tempat ditulisnya, dan waktu penulisannya. Seperti pengarang Kitab Kuñjarakarṇa yang menamai dirinya dengan sebutan “Mpu ḍusun”, yang berarti seorang penulis dari pedalaman (Zoetmulder, 1974:478). Alat yang digunakan untuk menulis karya sastra Jawa Kuno yaitu tanah (sebuah pisau pena) untuk menggores aksara pada karas (daun tal yang telah diolah) sebagai media penulisannya. Kedua alat tersebut disimpan dalam sebuah kotak kayu. Daun tal dalam Kitab Korawasrama disebutkan dengan istilah “goḍong tal”. Oleh karena itulah kata “rontal” dalam bahasa Jawa Kuno berasal dari kata “ron” berarti daun dan “tal” berarti pohon tal (Zoetmulder, 1974:42, 159&153). Nama lain pohon tal yaitu pohon siwalan yang sampai saat ini di Jawa Timur masih banyak dijumpai di Kabupaten Tuban. Pohon ini menghasilkan sebuah minuman yang disebut legen. Daun tal digunakan sebagai media dalam penulisan sebuah karya Jawa Kuno yang diawetkan dan diharapkan dapat bertahan lama, salah satunya yaitu karya sastra kakawin atau gancaran. Selanjutnya untuk tulisan yang tidak diawetkan dengan kata lain setelah dibaca kemudian dibuang, lebih menggunakan bunga pandan (Manu, 1985:91). Kegiatan menyalin dan menulis naskah-naskah pada media rontal sampai saat ini masih berlangsung pada beberapa daerah di Pulau Bali.


2. Penulis dan Pengguna Literasi di Dalam Istana

Dalam lingkungan kerajaan kuno di Jawa sejak abad VIII sampai XV Masehi, literasi juga berkembang cukup pesat. Namun uniknya mencapai puncaknya pada sebuah periode masa pemerintahan tertentu. Menurut Poerbatjataka (1957) dalam Hardiati dkk (1990:1) menyebutkan bahwa pada masa Kerajaan Kaḍiri abad XII Masehi kegiatan penulisan karya sastra Jawa Kuno mencapai masa kejayaannya. Penulisan tersebut dilakukan oleh para pujangga (kawi) dari beberapa periode masa pemerintahan masing-masing raja Kerajaan Kaḍiri. Selanjutnya Sedyawati (1985:13) juga menyatakan bahwa Kerajaan Kadiri meninggalkan hasil budaya tertulis berupa karya sastra. Seorang Pujangga atau Sang Kawi yang berasal dari lingkungan keraton, dalam menulis karya sastra puisi Jawa Kuno (Kakawin) dilaksanakan karena ingin mengungkapkan sebuah keindahan (kalangwan) dalam bentuk apapun yang dapat disajikan dalam karya yang ditulisnya (Zoetmulder, 1974:202). Lebih uniknya lagi pada masa Kerajaan Kaḍiri pengetahuan tentang menulis sebuah karya sastra tidak hanya dikuasai para pujangga (sang kawi) saja, bahkan Raja Kaḍiri juga diberitakan ahli dalam seni sastra. Hal ini seperti yang disebutkan dalam Kakawin Sumanasāntaka menyebutkan bahwa raja “prasiddha guru ning gurulaghu”, artinya sempurna sebagai guru dalam seni sastra (Sedyawati, 1985:321). Hal ini menunjukkan bahwa Raja Kaḍiri memiliki ketertarikan yang tinggi pada kegiatan yang berhubungan dengan seni sastra. Dengan demikian dapat diperkirakan hal tersebut menjadi salah satu alasan dapat berkembangnya penulisan karya sastra pada masa Kerajaan Kaḍiri dapat tumbuh dan berkembang dengan pesat. Selanjutnya pengetahuan tentang literasi juga wajib dimiliki oleh para mantri dalam sebuah kerajaan. Sedyawati (1985:328) berdasarkan hasil penelitiannya pada prasasti-prasasti masa Singhasari, mennjelaskan bahwa dalam Kerajaan Singhasari khususnya dibawah pemerintahan Sri Maharaja Krtanagara, seorang mantri kerajaan harus memiliki beberapa kemampuan yang salah satunya yaitu wāgmimaya, yang artinya mahir dalam sastra.

Selanjutnya dalam kerajaan kuno di Jawa dahulu juga ada pegawai istana atau abdi dalem kerajaan yang tugasnya berhubungan dengan pustaka. Pegawai kerajaan atau abdi dalem prasasti masa Jawa Kuno sering disebut dengan istilah “sang mangilala drwya haji”. Menurut Stutterheim (1925) dan Boechari (1977) dalam Yogi (1996:34) menjelaskan bahwa pengertian dari mangilala drwya haji merupakan abdi dalem keraton atau pegawai istana terdiri dari banyak profesi dan mereka tidak mendapatkan tanah lungguh, namun bekerja untuk melayani raja beserta keluarganya serta penghuni kerajaan lainnya. Mereka mendapatkan gaji dari perbendaharaan kerajaan. Mereka mendapatkan kebutuhan dan perlindungan secara penuh dari kerajaan. Pegawai istana masa Jawa Kuno yang profesinya berhubungan dengan sebuah pustaka yaitu mantri bhujangga, yaitu seorang cendekiawan, patahan (juru tulis), manghuri (juru tulis dan baca) (Yogie, 1996:88). Selian itu pengetahuan mengenai baca dan tulis juga wajib dikuasai oleh sang citralekha, yaitu orang yang pekerjaannya menulis prasasti. Para citralekha pada masa Kerajaan Kaḍiri selain menuliskan sertifikat tanah sima (perdikan) pada media batu, juga menuliskannya pada rontal atau yang dikenal dengan istilah “ripta prasasti” sebelum disalin ke upala prasasti (prasasti batu). Hal ini seperti yang tertulis pada prasasti-prasasti masa Kerajaan Kaḍiri di antaranya Prasasti Panumbangan (1062 Saka/1140 Masehi), Prasasti Hantang (1057 Saka/1135 Masehi), Prasasti Talan, Prasasti Cker (1107 Saka/1185 Masehi), Prasasti Kamulan (1116 Saka/1194 Masehi).

Hasil penciptaan karya sastra Jawa Kuno dalam bentuk puisi (kakawin) sebagai bentuk puja sastra sang kawi kepada raja pelindungnya dari masa Kerajaan Kaḍiri, berlangsung dari beberapa masa pemerintahan raja yang berkuasa pada suatu periode tertentu. Beberapa macam kakawin dari masa Kerajaan Kaḍiri beserta sang kawi atau pujangga yang menggubahnya, di antaranya yaitu:

  • Kakawin Arjunawiwāha digubah Mpu Kanwa pada pemerintahan Raja Airlangga
  • Kakawin Hariwangśa digubah Mpu Panuluh dan Mpu Sêdah pada pemerintahan Raja Jayabhaya
  • Kakawin Bhāratayuddha digubah Mpu Panuluh dan Mpu Sêdah pada pemerintahan Raja Jayabhaya
  • Kakawin Gaṭotkacaśraya digubah Mpu Panuluh dan Mpu Sêdah pada pemerintahan Raja Jayabhaya
  • Kakawin Hariwangśa digubah Mpu Panuluh dan Mpu Sêdah pada pemerintahan Raja Jayabhaya
  • Kakawin Kṛṣṇāyana digubah Mpu Triguṇa pada pemerintahan Raja Jayabhaya
  • Kakawin Smaradahana digubah Mpu Dharmaja pada pemerintahan Raja Kāmeśwara
  • Kakawin Sumanasāntaka digubah Mpu Monaguṇa pada pemerintahan Raja Kṛtajaya
  • Kakawin Lubdhaka digubah Mpu Tanakung diduga berasal dari pemerintahan Raja Kṛtajaya
  • Karya sastra dari masa Kerajaan Kadiri yang lain yaitu: Pārthayajña (Zoetmulder, 1974)

Mempelajari hasil peninggalan budaya dari Kerajaan Kaḍiri selain mengetahui keindahan-keindahan yang tertulis dalam karya sastra puisi Jawa Kuno (kakawin) dalam jumlah banyak yang mencerirminkan sebuah keagungan, dalam karya tersebut juga dapat ditemukan sikap-sikap dari sang kawi atau pujangga sebagai penulisnya yang selalu memiliki kerendahan hari dalam mempersembahkan hasil karyanya. Sikap kerendahan hati tersebut tersurat dalam kakawin-kakawin masa Kerajaan Kaḍiri, di antaranya telah tertulis oleh Mpu Kanwa dalam karyanya Kakawin Arjunawiwāha pada bagian penutup menyatakan, ”kirang wêwêhana, lêwih sudanên, kapuraha de sang amaca lawan sang mangrêngê”, artinya: “yang kurang hendaklah ditambah, yang kelebihan hendaklah dikurangi, hendaklah diampuni oleh sang pembaca dan sang pendengar” (Wiryamartana, 1990). Mpu Dharmaja dalam karyanya Kakawin Smaradahana pada bagian pembuka menyatakan, “ndah dūrân kawaśângaweśa waśa ning punggung riyâpan tuhu”, artinya: “namun dia masih jauh untuk mengatasi kebodohan yang benar-benar menguasainya” (Manu, 1985). Mpu Monaguṇa dalam karyanya Kakawin Sumanasāntaka pada bagian penutup menyatakan, “sih karaṇa nira n anumāna mājara rikang pangikêt amanisa”, artinya: ”karena belas kasihnya, (Raja) berkenan memberikan perhatian untuk mengajarkan cara menulis (kakawin) secara diam-diam” (Worsley dkk, 2014). Sikap kerendahan hati seperti yang ditulis oleh sang kawi dari masa Kerajaan Kaḍiri tersebut harus kita teladani dalam kehidupan. Semoga paparan tentang sikap rendah hati dari sang kawi tersebut dapat mendukung pendidikan budaya dan karakter bangsa yang sedang dilaksanakan pada dunia pendidikan masa dewasa ini.


PENUTUP

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penulis dan pemilik sebuah pustaka pada masa Jawa Kuno yang tinggal di luar istana yaitu sang guru atau dewaguru, bhujangga atau sang kawi, sedangkan penggunanya yaitu para sisya (siswa) yang sedang menuntut ilmu di tempat pendidikan keagamaan (maṇḍala atau kadewaguruan) dengan mendapatkan izin dari sang guru. Selanjutnya para sang kawi yang berasal dari lingkungan kerajaan menulis karya sastra puisi Jawa Kuno (kakawin) untuk dipersembahkan kepada rajanya. Dalam sejarah Nusantara masa Hindu-Buddha, Kerajaan Kaḍiri abad XII Masehi menjadi tempat berkembangnya penulisan karya sastra. Dengan pesatnya perkembangan penulisan karya sastra Jawa Kuno (kakawin) tersebut, pastinya juga diimbangi dengan dengan pendidikan yang memadai mengenai pengetahuan tentang sastra, serta tempat penyimpanan sebuah karya sastra yang membutuhkan perhatian khusus dari pihak kerajaan. Oleh karena itu kita dapat menyebut bahwa “Kerajaan Kaḍiri adalah negeri pujangga dengan pesatnya penulisan karya sastra di masa itu”.

Pada masa Jawa Kuno dalam menyimpan pustaka tidak boleh dilakukan sembarangan dan harus dijaga dengan teliti. Selanjutnya untuk menyimpan, merawat, dan melindungi sebuah pustaka harus dilakukan oleh orang yang mendapatkan kepercayaan dari sang guru (dewaguru) atau sang bhujangga yang menggubah maupun memilikinya. Pengetahuan tentang sastra selain harus dimiliki oleh raja dan sang kawi, juga harus dimiliki oleh para mantri kerajaan, khususnya pada masa Kerajaan Singhasari.

Dalam lingkungan kerajaan kuno di Jawa, profesi dari sang mangilala drwya haji (pegawai atau abdi dalem kerajaan) yang berhubungan dengan pustaka, di antaranya yaitu mantri bhujangga (cendekiawan), patahan (juru tulis), dan manghuri (juru tulis dan baca). Pastinya masih banyak lagi namun kelemahannya terdapat pada terbatasnya sumber data yang menjelaskan tentang hal tersebut. Penting untuk kita pahami dan teladani dari para pujangga masa Jawa Kuno yaitu tentang sikapnya yang selalu berendah hati dan tetap mengatakan bahwa karyanya masih kurang sempurna. Meskipun karya yang ditulis oleh mereka merupakan sebuah karya seni sastra yang sangat bernilai dan indah kata dalam kalimatnya.


Daftar Rujukan

Alwi, H., dkk. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Hardiati, E.S., Djafar H., Soeroso, Ferdinandus, P.E.J., & Nastiti, T.S. 2010. Zaman Kuno. Dalam Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

Hardiati, S. H., Soeroso & Suhadi, M. 1990. Laporan Penelitian Situs, Kepung, Kediri, Jawa Timur. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Manu. 1985. Kakawin Smaradahana: Sebuah Studi Filologi dalam Rangka Ilmu Sastra. Skripsi tidak diterbitkan. Yogyakarya: Fakultas Sastra UGM.

Padmapuspita, J. 1966. Pararaton: Teks dari Bahasa Kawi Terjemahan Bahasa Indonesia. Jogjakarta: Taman Siswa.

Santiko, H. 1990. Kehidupan Beragama Golongan Rsi di Jawa. Dalam Edi Setyawati (Eds), Persembahan Ilmiah No. 11 Edisi Khusus “Monumen”: Karya Persembahan untuk Prof. Dr. R. Soekmono (hlm. 156-171). Depok: Universitas Indonesia.

Sedyawati, E. 1985. Pengarcaaan Gaesa Masa Kairi dan Siŋhasāri: Sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian. Disertasi tidak diterbitkan. Jakarta: Pascasarjana UI.

Sedyawati, E., Zainuddin, M., & Wuryantoro, E. 1991. Sejarah Pendidikan di Indonesia Sebelum Kedatangan Bangsa-bangsa Barat (A. Gonggong, Ed.). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wiryamartana, I.K. 1990. Arjunawiwāha. Yogyakarta: Duta Wacana.

Wojowasito, S. & Poerwadarminta, W.J.S. 1985. Kamus Lengkap: Inggeris-Indonesia, Indonesia-Inggeris. Bandung: Hasta.

Worsley, P., Soepomo, S., & Fletchert, M. 2014. Kakawin Sumanasāntaka: Mari karena Bunga Sumanasa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Yogi, D. 1996. Mangilala Drwya Haji: Kedudukan dan Peranannya dalam Struktur Pemerintahan. Skripsi tidak diterbitkan. Jakarta: Fakultas Sastra UI.

Zoetmulder, P.J.  1974. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Panjang. Terjemahan Dick Handoko SJ.1985. Jakarta: Djambatan.

Zoetmulder, P.J. 1982. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Terjemahan Darusuprapta & Sumarti S. 1994.  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Aang Pambudi Nugroho, S.Pd
Komunitas Jawa Kuno Sutasoma
Email: aangpambudinugroho@gmail.com

*Dipresentasikan pada Seminar Literasi di SMA Negeri 4 Kota Kediri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: