Oleh: hurahura | 30 Desember 2012

Masih Tersisa di Condet (2)

100_1039Rumah Abdussalam di Condet masih lestari meskipun ada beberapa kerusakan di sana sini.

Rumah tradisional Betawi ada di beberapa wilayah DKI Jakarta, antara lain di pesisir dan pedalaman. Rumah di pesisir biasanya berbentuk panggung, untuk menghindari air laut. Dulu rumah tradisional Betawi banyak terdapat di Condet, Jakarta Timur. Namun sekarang rumah-rumah itu sudah berganti rupa. Salah satu rumah yang masih tersisa terletak di Jalan Ciliwung Ujung, Condet, milik Haji Abdussalam (77 tahun).

Bentuk rumah ini berbeda dengan rumah milik Sarbinih. Namun nuansa Betawi tetap sama berdasarkan bahan-bahan yang digunakan. Rumah Abdussalam berbahan kayu nangka. Menurut dia, rumah itu tadinya bukan di tempat sekarang. Tahun 1911 rumah tersebut dipindahkan dengan cara digotong. Abdussalam sendiri merupakan generasi kelima yang menempati rumah tersebut.

Rumah Abdussalam memiliki jendela bujang. Jendela ini bisa digeser untuk melihat tamu yang datang. Namun sejak beberapa tahun lalu jendela tersebut tidak berfungsi lagi karena rusak. Bahkan adat pun sudah berubah sehingga keluarga tidak perlu lagi melihat jejaka yang datang. “Sekarang pacaran aja di mal,” kata Abdussalam terkekeh.

Karena kemajuan zaman, pagar kayu yang terletak di bagian depan sejak 1956 diganti dengan tembok. Teras tetap tidak berpintu dan dilengkapi meja kursi. Bagian-bagian lain kebanyakan masih tetap asli. Hanya yang rusak pernah mengalami pergantian sejak zaman Jepang. Menurut Abdussalam, rumahnya memiliki tiga kamar tidur. Kamar ini ditempati dia dan isterinya. Kamar-kamar lain diisi anak-anak gadisnya. Sementara anak-anak lelakinya tidur di luar kamar. Seandainya anaknya berkeluarga, maka dia harus mengontrak rumah.

Dulu rumah Betawi tidak memiliki kamar mandi, karena biasanya fasilitas itu dibuat di tanah kosong di belakang rumah. Namun lama-kelamaan kamar mandi bersatu dengan rumah. Rumah Betawi sendiri tidak memiliki aturan tentang arah hadap rumah. Namun dulu orang-orang tua senang menempatkan rumah ke arah utara, soalnya di arah tersebut terletak bank. Jadi, kata Abdussalam, diibaratkan kita melihat uang. Dengan demikian diharapkan rezeki akan terus datang.

Abdussalam bersyukur rumahnya diperhatikan Balai Konservasi. Di rumah inilah keenam tim yang mengunjungi rumah-rumah Betawi di Kwitang, Angke, Rorotan, dan Condet memberikan laporan. Memang sungguh disayangkan Condet gagal menjadi cagar budaya Betawi. Mudah-mudahan rumah milik Abdussalam tetap menjadi saksi bisu bahwa budaya Betawi pernah berkembang di Jakarta. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Responses

  1. mas alamat lengkap rumah ini dimana yah?
    saya mau survey kesana..
    terimakasih..

    • Alamat pastinya kurang tau tapi di Balekambang. Tanya saja masyarakat sekitar pasti tau yang namanya rumah betawi, tks.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: