Oleh: hurahura | 29 Januari 2018

Bangunan Gaya Indis dan Bisnis Kopi

Indis-01Rumah bergaya Indis di Jalan Wot Gandul Barat Semarang (Foto-foto: dokumentasi pribadi)

Sebuah bangsa yang besar berawal dari peninggalan sejarahnya. Gambaran itulah yang membuat sebagian masyarakat di Indonesia mulai peduli dengan sekitarnya. Tidak berbeda dengan masyarakat Tionghoa, mereka juga banyak menaruh perhatian kepada peninggalan leluhur dan peninggalan lainya. Salah satunya adalah keluarga Basuki Dharmowiyono yang saat ini tinggal di Semarang, Jawa Tengah.

Semarang  memang terkenal dengan peninggalan kolonialnya, seperti Lawang Sewu dan Kota Lama. Akan tetapi masih banyak peninggalan lain yang berada di dalam kompleks pecinan dan di beberapa sudut kota. Jalan Wot Gandul Barat Semarang atau “Kebon Karang”, memang masuk dalam kawasan pecinan, tetapi juga ada bangunan milik Tionghoa bergaya Indis yang berbeda dengan rumah Tionghoa lain.


Gaya Indis

Gaya Indis merupakan bagian dari budaya Indis yang berkembang pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Awalnya komunikasi antar golongan dan pernikahan antara orang Jawa dan orang Eropa, terjadilah perpaduan dua unsur budaya yakni Jawa dan Eropa yang melahirkan Indo-Eropa hingga akhirnya memunculkan budaya Indis dan aliran bangunan bergaya Indis.

Rumah bergaya ekletik ini didirikan sekitar 1850-1900. Dalam penuturan cerita Om Bas didapati bahwa tidak hanya orang Eropa yang mempunyai rumah seperti ini. Rumah ini awalnya dihuni keluarga Tan Ing Tjong selaku pacht opium dan garam, hingga akhirnya dihuni oleh Tan Tiong Le selaku pendiri “Margorejo”, kakek om Bas dan berakhir menjadi kediaman pribadi sekaligus pabrik penyangaraian kopi.

Yang membedakan rumah Tionghoa dan Eropa meski dengan konstruksi yang sama adalah keberadaan almari altar leluhur. Almari ini berisi papan arwah leluhur atau sinci dan sebagai sarana penghormatan untuk leluhur. Uniknya rumah ini, meskipun memiliki tiga pintu masuk, pintu utama atau pintu tengah tidak difungsikan sebagai pintu keluar masuk. Pintu tersebut digunakan hanya untuk acara khusus, sehingga akses keluar masuk melalui salah satu pintu di kanan dan kiri.


Renovasi

Om Bas memaparkan lebih lanjut bahwa pada 1920-an rumah ini direnovasi menjadi seperti saat ini. Renovasi difokuskan pada bagian beranda depan, terutama pada bagian kolom bergaya art deco tersebut. Liem Bwan Tjie adalah salah satu orang yang berkontribusi besar terhadap renovasi pada rumah Tionghoa di Hindia-Belanda (Indonesia). Beliau merupakan lulusan Belanda dari masyarakat Tionghoa di Indonesia. Liem juga memiliki kontribusi besar terhadap bangunan tempat tinggal masyarakat Tionghoa lain. Selanjutnya beliau memaparkan bahwa almari altar leluhur ini didesain oleh Th van Oijen, yakni sang arsitek kelahiran Belanda yang juga berkontribusi di Indonesia, terlebih dalam gedung pemerintahan dan tempat tinggal bergaya Indis.

Indis-02

Tan Tjoa Pie (berbaju putih) ketika mendapat kunjungan dari Widya Mitra Walk Heritage 

Setelah puas bercengkerama dengan Om Bas, kami menyempatkan diri untuk foto bersama dan saling tukar nomor telepon untuk menjaga silaturahmi. Om Basuki hingga saat ini sangat loyal dan peduli terhadap apa yang telah diberikan oleh leluhur beliau dan menjaganya hingga saat ini. Dalam peribahasa Jawa “Ora Kepaten Obor” dengan kata lain adalah tidak kehilangan jati diri.

Rumah peninggalan Tan Tiong Lie yang sekarang dirawat dan masih digunakan sebagai tempat tinggal oleh keluarga Basuki ini, ternyata menarik minat beberapa orang untuk melihat secara dekat dan mencoba mencicipi atau sekadar membeli biji kopi yang kemudian diseduh sendiri. Saat ini apabila ada yang ingin membeli kopi siap minum disediakan tempat tersendiri. Letaknya tidak jauh dari pusat sangrai. Layaknya sebuah coffee shop, tempat ini buka pada sore hari hingga malam.

Hingga saat ini keluarga Basuki ini masih mempertahankan keaslian bangunan tempat tinggal mereka. Mereka hanya melakukan beberapa perbaikan, termasuk memperbaiki balok penopang beranda lantai dua yang mengalami pelapukan. Di sini kita tidak hanya belajar mengenai kopi, tetapi juga belajar tentang kehidupan seorang “petualang” dari negeri seberang.***

Penulis: Ibnu Rustamaji, Lulusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UNS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: