Oleh: hurahura | 20 Juni 2013

Tafsir Cerita pada Relief Candi Jawi: Sebuah Telaah Pendahuluan

ABSTRAK: Candi Jawi ditemukan dan mulai didokumentasikan pada tahun 1914, dalam keadaan runtuh, hanya bagian batur (dasar kaki) saja yang tampak berdiri. Dalam naskah Negarakertagama, Pu Prapanca menyebutkan bahwa candi Jawi didirikan oleh raja Kertanegara dari kerajaan Singasari. Secara jelas dia menyebutkan bagian-bagian bangunan candi serta sifat keagamaan yang melandasinya. Seperti pada sebagian candi-candi yang lain, candi Jawi memuat sejumlah relief yang dipahatkan pada dinding dasar kaki candinya, di mana relief tersebut harus dibaca secara pradaksina, yaitu searah jarum jam. Namun sayangnya hingga kini cerita relief tersebut belum diketahui dengan pasti makna dan intinya, serta diambilkan dari naskah apa.

Dengan mengamati beberapa kesusastraan Jawa kuno masa Majapahit yang dianggap sejaman atau dekat dengan masa pembuatan relief, berhasil ditemukan alur cerita dalam salah satu naskah yang hampir seluruhnya sesuai dengan alur cerita yang dipahatkan pada relief candi Jawi. Cerita tersebut terdapat pada naskah Sutasoma dan tercantum dalam syair ke LVIII sampai dengan LXXI, yaitu episode tentang Dewi Candrawati, sang putri kembang dalam puri kerajaan Kasi, hingga sampai pada pertemuan dewi Candrawati dengan pangeran Sutasoma di taman Ratnalaya.

Kata Kunci: Relief, Candi Jawi, Sutasoma

ABSTRACT: Jawi temple discovered and began to be documented in 1914. Ruined, only the soubassement was standing. In the script of Negarakertagama, Pu Prapanca mentioned that Jawi temple founded by the king of the Kingdom Singasari, Kertanegara. Clearly he mentioned parts of the temples building and the religion behind as the believe. Like some of other temples, Jawi contains a number of reliefs carved on the walls of the soubassement, that should be read in pradaksina, or clockwise. But unfortunately until now the reliefs story is not yet known with the surely meaning and essence, and what kind of manuscript it was taken from.

By observing some of the ancient Javanese literature in Majapahit period, that might be considered or maybe closed by the time the relief had created, found the storyline of one manuscript that is almost suitable with the storyline that carved on the relief. The story contained in the manuscript Sutasoma and listed in the poem LVIII until LXXI, which is about the Goddess Candrawati episode, flowers princess in the Kasi royal castle, until the meeting of goddess Candrawati and prince Sutasoma in the Ratnalaya park.

Key words: Reliefs, Jawi Temple, Sutasoma


PENDAHULUAN

Candi Jawi berada di desa Candiwates kecamatan Prigen kabupaten Pasuruan provinsi Jawa Timur, terletak pada ketinggian 285 m DPL, sekitar 700 m arah barat dari Pandaan (Ditlinbinjarah, 1982:5). Pu Prapanca dalam Negarakertagama syair 55 bait 3 menyebut ‘Jajawa’ (Pigeaud, 1960:41). Sementara juga disebut ‘Jawajawa’ pada syair 73 bait 3 (Pigeaud, 1960:57). Dihubungkan dengan raja Kertanegara, karena Negarakertagama syair 56 bait 1 menyebutkan bahwa bangunan tersebut dibangun sendiri oleh sang raja, yang kabarnya ketika sang raja meninggal didharmakan pula di tempat tersebut(Pigeaud, 1960:41).

Seperti yang dapat dilihat di lapangan bahwa candi Jawi menghadap ke timur, memiliki struktur bangunan dengan sifat keagamaan ganda. Bagian bawah mengikuti struktur mandala agama Hindu (adanya relung dan arca untuk pantheon Siwa), sementara bagian atap (puncaknya) mengikuti struktur agama Budha, yang ditandai oleh adanya dagoba. Dengan demikian bangunan ini dikatakan sebagai bangunan ‘Siwa Budha’. Hasil penggalian untuk merestorasi candi Jawi pada tahun 1938-1941, ditemukan arca-arca seperti Ardhanari, Siwa, Durga, Siwa Mahaguru, Ganesya, Mahakala, dan Nandiswara. Hasil penyelidikan dapat diketahui berdasarkan temuan angka tahun pada sebuah balok batu bahwa bangunan candi yang bersifat Siwa di bawah dan bersifat Budha di atas ini pernah dibenahi kembali pada tahun 1332 (Bidang Muskala, 1982:11).

Keistimewaan berikutnya adalah dibangun di atas halaman yang dikelilingi oleh parit, dengan jembatan di sisi timur. Dengan gambaran seperti itu dapat dikatakan bahwa bangunan candi ini diduga sebagai tiruan dari gunung Meru sebagai gunung kosmos atau gunung Mandara berkenaan dengan peristiwa ‘Samodramanthana’ atau ‘Amertamanthana’ (Soekmono, 1985:43-47). Ditilik dari bahan batu yang digunakan juga cukup menarik perhatian, bagian batur dan kaki menggunakan bahan batu andesit, sementara bagian tubuh hingga puncak menggunakan bahan batu kapur (Dirlinbinjarahkala, 1982:5).

Dari keistimewaan-keistimewaan tersebut, ada keistimewaan yang sangat menarik perhatian dan perlu untuk dikaji, yaitu belum adanya kepastian secara meyakinkan tentang cerita yang terkandung dalam relief yang terpahat pada dinding batur kaki candinya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa penelitian terhadap candi Jawi masih terbuka lebar bagi para peneliti di bidangnya.


PERMASALAHAN

a. Relief Candi Jawi
Relief candi Jawi dipahatkan pada bagian batur kaki candi. Relief ini secara nyata dibaca dengan cara pradaksina (searah jarum jam) (Soekmono, 1974:42). Dipahat dalam lima panel yang diawali dari dinding sudut tenggara, berlanjut ke selatan, barat, utara, dan berakhir pada dinding timur laut. Panel pada dinding selatan, barat, dan utara dipahat memanjang tanpa tanda pembatas. A.J. Bernet Kempers dalam Ancient Indonesian Art menyatakan, ‘The base of the chandi is decorated with relief extending from corner to corner. Their style is naturalistic when compared with various other monuments of about the same period. This may bear relation to the matter treated by the sculptor or to chronological differences. The text or texts illustrated, however, have not yet been identified (1959:82). Kaki candi dihiasi dengan relief yang memanjang dari sudut ke sudut. Gayanya naturalistik bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan lainnya yang bermacam-macam terdapat di sana dan yang berasal dari sekitar jaman yang bersamaan. Hal ini mungkin disebabkan karena pemahat pembuatnya berlainan atau berbeda jaman. Naskah-naskah yang dipahatkan di sini, belum dapat diketemukan persamaannya.

Sementara Satyawati Suleiman dalam suatu kesempatan mengungkap tentang relief candi Jawi sebagai berikut ‘….mengenai relief yang menggambarkan suatu cerita yang belum dapat dikenali kembali, tetapi mungkin sekali relief itu semacam cerita Panji, karena para pria memakai tutup kepala panji. Suatu hal yang menarik adalah bahwa pada salah satu adegan digambarkan suatu candi dalam halamannya dan ketika dibandingkan dengan candi Jawi ternyata bahwa gambar itu melukiskan candi Jawi sendiri’ (tanpa tahun:274). Dalam karya terbitan yang lain ia menyatakan: ‘…. Dinding candi Jawi berhiaskan sebuah cerita yang belum dapat dikenali kembali. Ternyata bahwa lakonnya berjalan dalam sebuah pertapaan, karena ada tokoh pertapa. Banyak cerita pahat di Jawa Timur mengenai peristiwa-peristiwa dalam sebuah pertapaan (Suleiman, 1980:56-57).

Dalam sebuah wacana yang berbentuk buku laporan pemugaran yang diterbitkan oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Dep. P dan K Propinsi Jawa Timur yang mendapat pengawasan dari Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, masing-masing menyatakan bahwa ‘Pada bidang tubuh bagian bawah candi terdapat beberapa relief yang belum jelas apa yang digambarkan dan dipetik dari cerita mana’ (Dirlinbinjarahkala, 1982:7). Relief candi Jawi dipahatkan pada batur candi. Kebanyakan menggambarkan tokoh-tokoh wanita dan sebagian tokoh punakawan. Penggambaran semacam ini merupakan ciri khas bentuk pahatan yang terdapat di candi-candi Jawa Timur. Hanya sayang pahatan relief pada candi Jawi sementara ini ceritanya belum diketahui secara pasti. Namun demikian ada sebagian relief yang cukup penting, yang diperkirakan merupakan bentuk sesungguhnya candi Jawi secara lengkap. Hal semacam ini tidak jarang terjadi pada bangunan kepurbakalaan, yaitu bentuk sesungguhnya terdapat pada relief yang berada pada bangunan itu sendiri. Relief yang terdapat di candi Jawi dimaksud, yaitu yang terdapat di sisi utara, yang melukiskan sebuah komplek bangunan yang terdiri dari sebuah bangunan induk, yang beratap tinggi dan di depannya ada tiga bangunan kecil yang berdiri di atas batur. Relief ini nantinya akan dipergunakan sebagai landasan dalam pelaksanaan pemugaran (Bidangmuskala, 1982:12).

Buku terbitan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur tahun 2001, juga membicarakan tentang candi Jawi dan menyatakan bahwa ‘Batur dihias relief memanjang dari sudut ke sudut dengan gaya yang naturalistik, namun ceritanya tidak diketahui identitasnya’ (Abbas, 2001:23). Melihat redaksinya agaknya pernyataan tersebut dikutip dari keterangan Bernet Kempers. Paling aktual adalah ulasan dari Agus Aris Munandar yang menyatakan bahwa relief cerita pada candi Jawi sampai sekarang masih belum dapat dikenali dengan baik. Adanya tokoh pria yang dilukiskan berulang-ulang, memberikan asumsi bahwa sementara tafsiran yang diperoleh menggambarkan seorang pria bangsawan yang berupaya mencari pengetahuan keagamaan atau kepuasan religius. Setelah berpamitan pada istrinya, ia lalu mengembara sampai di kompleks percandian yang mirip dengan keadaan candi Jawi. Setelah cukup puas tinggal di sana, kemudian ia kembali pulang menemui istrinya (Munandar, 2011:208-215).

Dari beberapa keterangan di atas nyatalah bahwa kepastian tentang cerita serta jalan cerita relief candi Jawi sampai saat ini masih kabur. Hal yang demikian wajar dan dapat dipahami, dikarenakan sulitnya mengidentifikasi lakon cerita tersebut di lapangan, yang terbentur oleh kondisi:

  1. Lakon penokohan yang dilukiskan memang asing dan tidak pernah muncul dalam bentuk lakon cerita di relief percandian manapun.
  2. Belum ditemukannya ‘kunci’ adegan sebagai relief pandu yang sesuai dengan naskah-naskah Jawa kuna yang sudah umum dikenal.
  3. Reliefnya sendiri sudah banyak yang rusak karena aus, sebab hampir seluruh wajah tokoh tidak dapat dikenali kembali dengan sempurna, dengan demikian menghalangi proses pengidentifikasian.

b. Cerita Sutasoma
Cerita Sutasoma yang sampai kepada kita merupakan naskah gubahan Pu Tantular pada masa kerajaan Majapahit. Nama Sutasoma yang diambil oleh Pu Tantular tentunya bersumber pada cerita jataka Budhis yang menceritakan tentang Sutasoma. Di antaranya terdapat dalam Suttapitaka no.537, cerita tentang Maha-Sutasoma-Jataka serta no. 525, cerita tentang Culla-Sutasoma-Jataka (Wijaya, 2008:641).

Cerita Sutasoma yang bersumber pada Jataka didapati pula pada panel relief Jatakamala Borobudur pada langkan pertama sisi selatan depan pintu selatan. Di sana terdapat empat panil yang dibaca dari kiri ke kanan. Cerita Sutasoma karya Pu Tantular, awal manggalanya menyebut Sri Bajrajñana (sang Budha) sebagai perwujudan sempurna dari sunyata dan merupakan kekuasaan tertinggi. Di samping itu di sana sini tampak adanya penyatuan (syncretism) kepercayaan Budha dan Siwa (Santoso, 1974:40-45). Dalam perjalanan hidupnya ketika sang pangeran dewasa, maka ia merupakan titisan dari Jina-Wairocana. Bahkan ketika ia akan menikah dengan saudari sepupunya dari pihak ibu, yaitu sang putri dari kerajaan Kasi, bernama Dewi Candrawati adik dari raja Dasabahu, dikatakan bahwa sebenarnya sang putri adalah titisan Locana.

Berdasarkan beberapa uraian di atas, tujuan yang dikehendaki dalam telaah ini adalah berusaha untuk mentafsir dan mengungkap makna relief cerita yang terdapat pada batur candi Jawi atas dasar kesamaan alur cerita yang terdapat dalam naskah Sutasoma. Dalam hal ini hasil kajian nantinya dapat melengkapi data-data tentang keberadaan candi Jawi saat ini sebagai tempat wisata budaya maupun wisata pendidikan.


METODE

Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan historical archaeology, yaitu mengkaji sumber data arkeologi yang berkaitan dengan data sejarah. Data yang digunakan adalah data arkeologi berupa relief candi dan naskah Jawa kuna. Sedangkan metode pengumpulan data terdiri dari metode eksplorasi (survei) dan kajian kepustakaan.

Metode eksplorasi lebih menitik beratkan pada observasi obyek yang diteliti yaitu relief candi Jawi secara cermat dan mendalam. Selama observasi di lapangan dilakukan perekaman secara verbal berupa pendeskripsian relief cerita, dan secara piktoral berupa penampilan gambar relief. Sementara kajian pustaka dilakukan dengan mengamati beberapa naskah Jawa kuna yang dipilih atas dasar sumber sejaman dengan relief candi. Proses pelaksanaannya meliputi tahap pengumpulan data kepustakaan yang relevan dengan pola mencari, menentukan, dan mencatat. Selanjutnya dilakukan pengolahan data yang meliputi penjernihan dan pengelompokan data. Dan yang terakhir adalah penulisan karya tulis yang disusun setelah dilakukan sinkronisasi dengan data lapangan. Hasilnya merupakan suatu interpretasi yang dituangkan guna menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian.


PEMBAHASAN

a. Telaah Pembacaan Relief Candi
Pembacaan dan penelitian yang dilakukan berulang-ulang terhadap semua naskah Jawa kuna untuk mencocokkan jalannya lakon cerita pada relief kiranya membuahkan hasil. Memang benar apa yang disangkakan Stutteirheim bahwa lukisan bangunan candi pada relief sisi utara merupakan gambaran bangunan candi Jawi. Dengan demikian kunci pertama sebagai relief pandu tersebut adalah lukisan bangunan candi yang mirip dengan bangunan candi Jawi. Hal ini dapat diketahui melalui naskah Sutasoma bahwa dewi Candrawati akan bertemu dengan pangeran Sutasoma di taman Ratnalaya, di mana di sekitar taman tersebut terdapat sebuah pulau di tengah telaga yang di dalamnya terdapat bangunan kristal (Sphatika grha), yang penggambarannya dalam cerita Sutasoma sesuai dengan keberadaan candi Jawi.

Bangunan kristal itu dahulu menurut ceritanya dibangun sendiri oleh sang Jina sebagai tempat tinggalnya bersama dengan istrinya, Locana. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa gambar relief sisi utara dinding batur candi Jawi yang melukiskan sebuah bangunan Kristal, uraiannya mirip dengan keberadaan bangunan candi Jawi. Dan juga tidaklah mencari-cari bahwa ketika bangunan candi Jawi didirikan, bahan batu yang dipakai adalah batu andesit untuk bagian bawah dan batu putih kekuningan untuk bagian tubuh candi hingga puncak. Hal itu semata-mata bukan karena kelemahan teknis pada masa pembangunan kembali ketika candi Jawi habis disambar petir dengan alasan tidak adanya batu andesit di sekitar tempat itu. Di daerah Prigen dan Pananggungan tidak kurang bahan batu andesitnya, sementara batu putih hanya didapat di daerah pegunungan utara, antara Bojonegoro hingga pesisir pantai utara Jawa. Jadi tentunya batu putih itu sengaja dipasang dimaksudkan untuk menyelaraskan makna bangunan candi Jawi sebagai replika ‘istana kristal’ seperti yang dimaksudkan dalam cerita Sutasoma. Disebutkan bahwa bangunan kristal tersebut pagarnya terbuat dari emas murni, sedangkan bangunannya terbuat dari batu-batu permata yang bersinar bagai sinar matahari, sehingga di tempat itu tidak ada gelap, ketika malam tiba di sekitar bangunan kristal tetap benderang bagaikan siang. Demikianlah tentunya makna yang diharapkan oleh pembangun candi Jawi, sehingga candi Jawi tampak cerah terang bagaikan istana Kristal.

Oleh karena itu tidak tepat seluruhnya apabila konsep pembangunan candi Jawi didasarkan pada konsep kosmologi dalam doktrin Hindu maupun Budha. Sementara pembangun candi, yaitu raja Kertanegara diketahui sebagai seorang penganut ajaran Siwa Budha Tantra yang saleh (Moens, 1974:18). Memang dalam konsep kosmologi atau gambaran alam semesta menurut doktrin agama Hindu dan Budha antara lain disebutkan bahwa jagad raya ini terdiri dari Jambudwipa. Di tengah-tengah benua Jambudwipa itulah letak Meru sebagai gunung kosmis (Geldern, 1982:5). Dengan demikian menurut hematnya bahwa gambaran relief candi yang mirip dengan struktur candi Jawi pada dinding sisi utara tersebut, dimaksudkan untuk melukiskan istana kristal yang berlandaskan doktrin Siwa Budha Tantra.

Kunci penguat berikutnya adalah pemberitaan Prapanca ketika mengunjungi candi Jawi. Ia memberikan isyarat bahwa lukisan yang dipahatkan pada relief candi adalah lukisan sang putri dalam istana yang riang gembira. Pemberitaan Prapanca dalam Negarakertagama tentang candi Jawi. Syair 57 bait 5 (Pigeaud, 1960:42), yaitu sebagai berikut:

aparimita haļpni tińkah nika swarggatulyānurun
gupura ri yawa mekala mwaŋ balenyāśa kapwādikā
ri daļm inupacāra seh sekar sek nagapuspāndeŋ
prasama wijah arumpukan śāra saŋ strī daļm nāgarī

terjemahan menurut Slametmulyana (1956:49) adalah seperti berikut:

Tiada ternilai indahnya sungguh seperti surga turun
Gapura luar, mekala beserta rumahnya serba permai
Di dalamnya bagai hiasan nagapuspa sedang berbunga
Sisinya berlukis puteri istana yang bersinarkan hidup

Sementara dalam terbitan lain, Slametmulyana (1979:302) menterjemahkan seperti berikut:

Tiada ternilai indahnya sungguh seperti sorga turun
Gapura luar, mekala serta bangunannya serba permai
Hiasan di dalamnya nagapuspa yang sedang berbunga
Di sisinya lukisan puteri istana berseri-seri

Ketut Riana (2009:283) dalam kesempatan menerbitkan Negarakertagama, menterjemahkan seperti berikut:

Tiada bertara indah penataannya ibarat sorga turun ke dunia
Gapura luar serta tembok juga bangunannya semua indah
Di dalamnya ditata bunga-bungaan pohon nagasari sedang berbunga
Para wanita dalam istana semua gembira merangkai bunga

Slametmulyana menterjemahkan baris 4 pada bait tersebut: ‘Sisinya berlukis puteri istana yang bersinarkan hidup’. Kemudian dalam terbitan berikutnya ‘Di sisinya lukisan puteri istana berseri-seri’. Sementara Ketut Riana menterjemahkan: ‘Para wanita dalam istana semua gembira merangkai bunga’. Menurut teks kalimatnya, ‘prasama wijah arumpukan śāra saŋ strī daļm nāgarī’, dapat pula diterjemahkan ‘Seiring gambaran sang putri istana yang riang gembira bersuntingkan bunga’. Kata ‘prasama’ dapat diartikan sebagai sama-sama, seiring, pada waktu yang bersamaan (Zoetmulder, 2004:993; Mardiwarsito, 1986:495-496; Wojowasito, 1977:207). Dengan mengambil makna keempat kalimat terjemahan tersebut, maka yang diberitakan oleh Prapanca selain mengenai bangunan candi Jawi yang serba indah, juga pemberitaan adanya lukisan (relief cerita) seorang putri dalam istana yang riang gembira.Siapakah yang dimaksud oleh Prapanca sebagai ‘putri dalam istana yang riang gembira’? Menurut hematnya, itu adalah sebuah cerita yang menggambarkan kebahagiaan seorang putri istana akan sesuatu hal. Dalam cerita Sutasoma dikisahkan bahwa Dewi Candrawati (titisan Locana) adalah putri raja Candrasingha dari kerajaan Kasi, merupakan sosok putri istana yang telah dijodohkan oleh kakaknya, yaitu raja Dasabahu, dengan pangeran dari keluarga Bharata, pangeran Sutasoma (titisan Budha Wairocana). Walaupun pada awalnya hati sang putri gundah dan sedih, namun berkat hasutan manis ‘Sang Suraga, janda penyair besar istana’ pendamping serta penasehat dewi Candrawati, akhirnya kegembiraan itu timbul.

Korelasinya dengan relief candi Jawi bahwa beberapa adegan reliefnya terdapat kemiripan alur cerita dengan episode dalam naskah Sutasoma gubahan Pu Tantular. Mengikuti ikhtisar yang dibuat oleh Zoetmulder (1983:423-424) tentang cerita Sutasoma pada naskah Sutasoma yang diparalelkan dengan naskah Sutasoma disertasi Suwito Santoso, serta naskah Sutasoma terjemahan Dwi Woro Retno dan Bramantyo bahwa pada syair mulai LVIII:2-LXV:1 menceritakan tentang Dewi Candrawati, sang kembang dalam puri yang merasa gelisah dan gundah karena akan dinikahkan oleh kakaknya, raja Dasabahu, dengan pangeran Hastina bernama Sutasoma. Ia kurang senang dengan sikap kakaknya yang menjodohkannya begitu saja. Sang putri berpendapat bahwa kakaknya telah melupakan tradisi, bahwa seorang putri kerajaan menikah melalui sayembara, guna menjaga harga dirinya. Namun semua itu dijawab dengan halus oleh sang janda penyair bijak yang selalu menyertainya. Dengan penuh kelembutan, kata-kata yang manis, serta diselingi tetembangan yang merdu, akhirnya hati Dewi Candrawati merasa luluh juga. Pada syair LXV:2-5 menceritakan adegan di istana Kasi, yaitu permaisuri raja (dewi Puspawati), Dewi Candrawati, para bangsawan keraton, yaitu mahapatih sebagai pimpinannya, tiga putra raja, serta para wanita istana, sedang melakukan persiapan pemberangkatan guna penjemputan pangeran Sutasoma dengan raja Dasabahu. Arak-arakan ini, menuju ke suatu tempat yang sudah ditentukan oleh raja Dasabahu, yaitu taman Ratnalaya. Diceritakan pula alam pedesaan yang dilaluinya. Pada syair LXVI:1-6 menceritakan kedatangan rombongan di taman Ratnalaya yang pintu gerbangnya dihias dengan batu permata yang menyala, segala tanaman indah di sekitar telaga yang jernih, serta menceritakan tingkah para wanita muda yang sedang mandi dengan senda gurau yang riang gembira di telaga. Syair LXVII:1-9 menceritakan tentang keberadaan sebuah pulau di tengah telaga luas yang di tengah-tengahnya terdapat bangunan kristal ‘sphatika grha’. Penggambaran ‘Sphatika grha’. Sebuah pagar yang terbuat dari emas bercahaya melingkupi bangunan candi yang tinggi di tengah. Bagian tengah diukir sangat indah. Terdapat 4 pintu gerbang yang diukir dengan kepala makara. Balai emas sebelah timur bagai istana hyang Iswara, yang sebelah selatan bagai kediaman bhatara Dhatra, selalu berpijar dan bercahaya. Sebelah barat bagaikan kediaman hyang Mahamara, sedangkan sebelah utara bagaikan kediaman bhatara Madhusudhana. Di tengah-tengah itulah terdapat bangunan kristal (Sphatika grha). Tempat ini bagaikan surga tempat kediaman bhatara Budha atau Siwa yang agung dalam hakikatnya yang tertinggi (niratmaka). Saat malam tiba tidak ada kegelapan, dikatakan di situ selalu ada cahaya terang yang keluar dari permata mulia dari bangunan kristal tersebut Syair LXVIII:1-6-LXIX:1-11 menceritakan tentang sang putri Dewi Candrawati yang keheranan melihat gaibnya istana kristal, sehingga ia minta penjelasan kepada sang janda penyair bijak yang selaku menyertainya. Sang janda penyair menceritakan tentang asal usul bangunan tersebut yang ia dengar dari cerita sang raja Dasabahu Syair LXX:1-5 menceritakan tentang perjalanan pangeran Sutasoma dan raja Dasabahu yang hampir sampai di taman Ratnalaya. Sedangkan syair LXXI:1-5 menceritakan pertemuan antara pangeran Sutasoma dengan Dewi Candrawati di taman Ratnalaya. (Santoso, 1975:305-339; Retno Mastuti dan Bramantyo, 2009:197-235).

Berdasarkan hasil identifikasi di lapangan yang telah dikorelasikan dengan sebagian episode pada naskah Sutasoma, relief pada batur candi Jawi yang pembacaannya dimulai dari sudut tenggara dan berjalan searah jarum jam (pradaksina) dan berakhir di sudut timur laut yang terbagi dalam 5 (lima) panel tersebut, didapat bacaan sebagai berikut:

Panel-01

Panel 1 terletak di sudut tenggara, melukiskan dua orang wanita sedang menghadap seorang perempuan (sisi kanan pembaca) memperbincangkan sesuatu, sementara di sisi kiri (pembaca) tampak seseorang sedang berdiri melakukan sesuatu.

Dugaan relief tersebut menggambarkan Dewi Candrawati sedang mendengarkan petuah dari sang Suraga, janda penyair bijak istana. Tampak di sisi kiri sang putri melakukan pujamantra sesuai apa yang dianjurkan oleh sang janda penyair bijak.

Berikutnya adalah panel sisi selatan, di sini disebut sebagai panel ke 2 yang memanjang seolah tanpa batas, namun demikian menurut hematnya dapat dibagi menjadi beberapa adegan (5 adegan) guna mempermudah pembacaan. Oleh karena itu dibagi menjadi panel 2a sampai dengan panel 2e.

Dimulai dengan Panel 2a yang terletak di ujung timur. Gambaran seseorang yang sedang berjalan menuju sekelompok orang yang melakukan aktivitas persiapan perjalanan. Relief ini menggambarkan sang Suraga, janda penyair bijak yang bersiap ikut mengiring sang putri dalam persiapan menyambut kedatangan pangeran Sutasoma di taman Ratnalaya.

Panel-02

Panel 2b Relief ini menggambarkan Sang janda penyair keluar dari dalam puri menuju ke tempat sang putri dan sang permaisuri yang sedang menunggu di balai pemberangkatan. Tampak serombongan gajah istana dipersiapkan oleh para ‘srati’ guna mengangkut rombongan sang permaisuri beserta para pengikut serta perbekalannya.

Panel 2c Sisi kanan menggambarkan sais kereta sedang menyiapkan kereta, sementara sisi kiri sang putri telah berada bersama sang permaisuri. Digambarkan pula sekelompok pelayan wanita, para janda, dan wanita pengiring untuk ikut dalam rombongan tersebut.

Panel 2d. 2 prajurit istana sedang membunyikan terompet, tanda arak-arakan segera berangkat. Sementara penggambaran di sisi kanan sang permaisuri sedang dipayungi bersama-sama dengan sang putri Dewi Candrawati. Tidak ketinggalan sang janda penyair bijak selalu menyertai. Terdapat 2 punakawan yang ikut menyertai mereka.

Panel-02e

Panel 2e Penggambaran arak-arakan rombongan permaisuri serta para wanita istana sedang bergerak melakukan perjalanan.

Sampai pada didinding sisi barat, di sini disebut sebagai panel 3. Panel ini pun membagi ceritanya dalam 3 adegan, yaitu adegan alam pedesaan, adegan iring-iringan sampai di pesanggrahan, serta adegan penggambaran para wanita muda dan janda yang sedang bersenang-senang di telaga pesanggrahan.

Panel 3a Gambaran ketika iring-iringan melewati alam pedesaan yang subur dan indah permai. Digambarkan pada sisi kiri sekelompok petani dengan pikulannya, sementara gambar kanan tampak seorang penyair di pertapaannya.

Panel-03

Panel 3b Setiba di taman ‘Ratnalaya’, para rombongan yang dipimpin oleh seorang laki-laki (patih?) langsung menghadap kepada seseorang (diduga menghadap kepala pendeta pengawas pesanggrahan).

Panel 3c Penggambaran sisi kiri para wanita dan janda wanita yang masih muda sedang bersuka ria dengan suara ribut mandi telanjang di telaga di balik semak-semak dengan tingkah laku yang bermacam-macam (Panel ini panjang berakhir sampai sudut barat laut).

Berikutnya adalah panel ke 4 yang berada pada dinding sisi utara. Panel inipun memanjang dari sudut barat laut hingga timur laut, dan menurut hematnya terbagi dalam 7 adegan.

Panel 4a Diawali dengan penggambaran seseorang yang berjalan menuju sebuah bangunan suci. Dikisahkan menurut kabaran para penyair bahwa terdapat suatu bangunan bernama ‘Sphatika grha’ atau bangunan kristal.

Panel-04

Panel 4b Gambaran dari bangunan ‘Sphatika grha’. Sebuah pagar yang melingkupi bangunan candi yang tinggi di tengah.

Panel 4c Gambaran bangunan kristal ‘Sphatika grha’. Terdapat dua sosok duduk bersila. Diduga gambaran tersebut adalah gambaran dari Hyang Budha (sang Jinaraja:sisi kiri) dan Hyang Jineswari:sisi kanan (perwujudan Ardhanari), atau pengambaran dari Hyang Budha dan Hyang Siwa sebagai penguasa tertinggi bangunan kristal. Diapit oleh dua yogi?

Panel 4d Gambaran dari seseorang yang berdiri di dekat taman. Sang janda penyair bijak menceritakan bahwa di sebelah timur laut bangunan kristal konon terdapat sumber mata air yang memancar dari kuntum bunga teratai terbuat dari batu yang dipahat. Airnya mengalir ke kolam yang ada di sekitarnya.

Panel 4e Gambar dari seorang perempuan yang duduk bersila di sebuah ceruk yang pebuh dengan tanaman bunga. Dewi Candrawati sedang duduk di tempat doa di tepi jurang yang dipenuhi bunga gadung yang bermekaran (gambar tengah).

Panel 4f Gambar seorang perempuan sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Sang putri Dewi Candrawati bercakap-cakap dengan sang janda penyair bijak.

Panel 4g Gambar kanan tampak Sang putri Dewi Candrawati bercakap-cakap dengan sang janda penyair bijak yang selalu menemaninya. Gambar kiri tampak sang permaisuri datang.

Panel terakhir (ke 5) berada di sudut timur laut. Seperti pada panel permulaan di sudut tenggara, panel ini juga memuat dua adegan. Namun demikian pembacaan reliefnya dapat dijadikan satu.

Panel-05

Panel 5 Gambar sisi kiri tampak 3 orang wanita dan seorang laki-laki berdiri di taman. Sang permaisuri bersama sang putri Dewi Candrawati diiringi oleh janda penyair sang Suraga menemui raja Dasabahu. Gambar kanan, tampak seorang wanita berjalan dengan memalingkan muka, diikuti seorang abdi kerdil menuju ke tempat seorang laki-laki yang sedang menunggu di balai. Sang putri Dewi Candrawati mendekati pangeran Sutasoma sambil memalingkan muka karena malu. Sementara pangeran Sutasoma duduk di atas balai.

Tokoh yang berperan dan berulangkali muncul di sini adalah tokoh ‘Suraga si janda penyair besar istana’. Dalam naskah Sutasoma peran Suraga memang besar sekali sebagai pendamping dan penasehat dewi Candrawati. Ia berhasil meyakinkan sang putri sebagai calon permaisuri Sutasoma. Wajarlah apabila dalam relief ia tampil berkali-kali. Diceritakan ia serba tahu dalam segala persoalan. Diceritakan pula bahwa ia figur pengendali (protokoler) dewi Candrawati. Memang kesangsian dalam relief tampak pada penggambaran tokoh yang seolah-olah seperti seorang laki-laki yang berkepala hampir gundul, tetapi apabila dicermati benar, pahatan itu adalah merupakan hiasan rambut model gelung bulat yang tren pada masa Majapahit, serta mengenakan selendang yang dikalungkan di dada. Seperti halnya pada relief-relief masa Majapahit, model busana wanita digambarkan mengikuti mode tren pada saat itu (Hari Lelono, 1999:114-115). Dapat dicermati pada gambar relief arak-arakan, penggambaran wanita di sana bermacam-macam. Ada yang memakai kain hingga pundak dan bertekes (tutup kepala), ada yang hanya sampai dada, bahkan ada yang payudaranya terlihat. Untuk tokoh Suraga ini digambarkan memakai selendang., walau tipis dan hampir tidak terlihat karena aus dan rusaknya relief.

Untuk memperjelas adanya persamaan konsep candi Jawi beserta reliefnya dengan konsep istana kristal dalam naskah Sutasoma. Di bawah ini diberikan beberapa persamaan, antara lain:

No

CANDI JAWI

NASKAH SUTASOMA

1 Candi Jawi menurut Prapanca dibangun sendiri oleh raja Kertanegara Istana Kristal (Sphatika grha) menurut cerita dibangun sendiri oleh pangeran Sutasoma
2 Kertanegara ditahbiskan sebagai Jina dan disebut Sri Jnana Bajresvara (Negarakertagama) /Sri Jnana Sivabajra (prasasti Wurara) /Sri Jnanaisvarabajra (prasasti Gajahmada) Sutasoma merupakan titisan dari sang Jina dan memiliki guru rohani bernama Sri Jnanaisvarabajra
3 Candi Jawi bersifat Siwa-Budha (bagian bawah didapati Lingga, Siwa, Durga, Siwa Guru, Ganesya, Mahakala, Nandiswara, sedang bagian atas Stupa lambang Budha) Istana Kristal bersifat Siwa-Budha (bagian bawah di penjuru mata angin merupakan istana Hyang Iswara, Dhatra, Mahamara, dan Madhusudana, sedang bagian rista merupakan istana Hyang Budha)
4 Candi Jawi dibangun di atas halaman yang dikelilingi parit Istana Kristal dibangun di atas sebuah pulau yang dikelilingi oleh telaga
5 Candi Jawi bagian tengah-atas dibuat dari bahan batu putih kekuningan (cerah terang) Istana Kristal dibuat dari bahan permata-permata yang bersinar terang benderang 
6 Kertanegara dan permaisurinya (Sri Bajradewi?) dilukiskan sebagai wujud Wairocana dan Locana dalam satu arca yaitu Ardhanari Sutasoma dan Dewi Candrawati dilukiskan sebagai wujud Wairocana dan Locana yang tak terpisah dalam wujud Ardhanariswari
7 Perwujudan Kertanegara dengan permaisuri dilukiskan dalam wujud Ardhanari (Wairocana-Locana dalam satu arca) fragmen arcanya ditemukan di candi Jawi Sutasoma dan Dewi Candrawati disatukan melalui upacara perkawinan di istana ristal sebagai perwujudan dari hyang Wairocana dan Locana
8 Pertemuan Sutasoma dan dewi Candrawati berada pada panil akhir yang terletak di sisi Timur Laut dinding batur candi Jawi Pesanggrahan Sutasoma dalam menanti dewi Candrawati berada di Timur Laut istana Kristal.

Sedangkan perbedaan jalan ceritanya yang dapat diamati antara versi relief candi Jawi dengan versi cerita naskah Sutasoma episode LVIII:2-9 s.d LXXI:1-5 sedikitnya ditemukan tiga perbedaan, yaitu sebagai berikut:

No

Relief Candi Jawi

Naskah Sutasoma

1 Arak-arakan keberangkatan untuk menjemput pangeran Sutasoma di taman Ratnalaya dilakukan berjalan kaki (padahal dalam relief, gajah dan kereta bersama-sama berangkat) Arak-arakan keberangkatan untuk menjemput pangeran Sutasoma di taman Ratnalaya dilakukan dengan menaiki gajah dan kereta
2 Alam pedesaan digambarkan rinci mulai keindahan alam, penduduk yang sedang memikul, serta seorang penyair di pertapaan Alam pedesaan digambarkan singkat dengan menyebutkan banyak desa yang dilalui yang memiliki ladang padi yang menghadap ke jurang.
3 Ketika tiba di taman Ratnalaya, para rombongan diterima oleh seorang pendeta pengawas taman? Sedangkan  para wanita muda bersuka ria di taman dan mandi di telaga Ketika tiba di taman Ratnalaya, para rombongan langsung memasuki pesanggrahan, sedangkan para wanita muda bersuka ria di taman dan mandi di telaga

b. Masa Pembuatan Relief
Menilik cerita antara relief candi Jawi dengan naskah Sutasoma, maka akan dijumpai beberapa hal yang tidak persis seluruhnya. Ketidak samaan bukan pada adegan dan alur ceritanya, tetapi terutama pada penggambaran dan penokohannya. Hal ini menandakan bahwa antara relief cerita candi Jawi dengan naskah Sutasoma yang digubah oleh Pu Tantular terdapat perbedaan masa pembuatan. Relief cerita pada candi Jawi tentunya tahun 1359 sudah ada. Terbukti ketika Prapanca berkunjung ke tempat tersebut pada tahun itu, ia melihat dan mencatatnya.

Sementara naskah Sutasoma ditulis oleh Pu Tantular pada masa pemerintahan Sri Rajasanagara (Hayamwuruk), setidaknya antara setelah penulisan Negarakertagama tahun 1365 hingga masa wafatnya Sri Rajasanagara tahun 1389 (Zoetmulder, 1983:294; Retno Mastuti dan Bramantyo, 2009:xiv). Namun ceritanya rupa-rupanya bersumber pada cerita yang sama, yang oleh Pu Tantular dicatat dalam syair yang terakhir yaitu CXLVII:1 ‘bahwa cerita ini termashur di dunia dengan nama Purusadasanta’. Dengan pernyataan Pu Tantular tersebut nyata bahwa cerita Sutasoma pada masa Majapahit awal atau mungkin pula pada masa Singasari sudah dikenal orang.


KESIMPULAN

Dengan beberapa persamaan antara konsep bangunan candi Jawi dengan gambaran istana Kristal (Sphatika greha) dalam cerita Sutasoma, maka dapatlah diduga bahwa bentuk bangunan candi Jawi yang didirikan di atas halaman dengan dikelilingi parit, secara umum menurut kepercayaan Hindu dan Budha, memang merupakan gambaran atau replika dari gunung Meru. Mungkin pula disamakan dengan replika gunung Mandara dengan Ksirarnawanya. Namun secara khusus menurut kepercayaan Siwa Budha Tantra, keberadaan bangunan candi Jawi lebih dimaksudkan sebagai gambaran sebuah bangunan/istana Kristal (Sphatika greha) yang berada di tengah telaga sebagai tempat tinggal dari sang Jina tertinggi (dalam hal ini diwujudkan sebagai Wairocana) beserta permaisurinya Locana. Dengan demikian masuk akal apabila raja Kertanegara sendiri yang membangunnya, sebagai raja yang fanatis dalam ajaran Siwa Budha tantra, yang di kemudian hari, menurut kabaran Prapanca, sang raja juga didharmakan di tempat itu juga. Mengingat itu semua, di sini diajukan sebuah pendapat bahwa candi Jawi awal dibangunnya bukan dimaksudkan sebagai candi pendharmaan dalam arti pemakaman raja, tetapi sebagai dharma untuk menggambarkan istana Kristal (Sphatika greha) sebagai tempat tinggal Wairocana dan Locana. Baru setelah raja Kertanegara wafat, candi Jawi dipakai sebagai tempat pendharmaannya.

Adapun tentang reliefnya, yang mengambil dari bagian cerita Sutasoma, yaitu episode tentang kabar datangnya pangeran Sutasoma yang dijemput oleh raja Dasabahu, sehingga penghuni istana Kasi segera bersiap untuk menjemputnya, dimulai syair ke LVIII, sampai kepada syair ke LXXI, yaitu pertemuan antara pangeran Sutasoma sebagai penjelmaan Jina tertinggi (Wairocana) dengan Dewi Candrawati sebagai penjelmaan Locana di istana kristal. Relief ceritanya diduga dibuat kemudian setelah Kertanegara wafat atau pada masa Majapahit. Tujuannya sebagai penggambaran ‘sakti’ dari raja Kertanegara, yaitu Sri Bajradewi. Yang dikabarkan sebagai teman dalam tapa dan kerja dalam membesarkan kerajaan. Yang digambarkan dalam wujudnya Ardhanareswari. Dapat dikatakan bahwa relief semacam ini tergolong relief cerita tutur, bukan cerita kelepasan (moksa/ruwat).(Suwardono/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang)


KEPUSTAKAAN

Abbas, dkk. 2001. Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan di Jawa Timur. Surabaya: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.

Bernet Kempers, A.J. 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam: C.P.J. Van Der Peet.

Bidang Muskala. 1982. Candi Jawi. Surabaya: Dep. P dan K Prop. Jawa Timur

Dirlinbinjarahkala. 1982. Candi Jawi Sejarah dan Pemugarannya. Jakarta: PT. Palem Jaya.

Hari Lelono, T.M. 1999. Busana Bangsawan dan Pendeta Wanita pada Masa Majapahit: Kajian Berdasarkan Relief-relief Candi. Berkala Arkeologi Tahun XIX No.1/Mei. Hal.107-116. Yogyakarta: Balai Arkeologi.

Mardiwarsito, L. 1986. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.

Moens, J.L. 1974. Buddhisme di Jawa dan Sumatra dalam Masa Kejayaannya Terakhir. Jakarta: Bhratara.

Munandar, Agus Aris. 2011. Catuspatha. Arkeologi Majapahit. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Pigeaud. Th.G.Th.1960. Java in the Fourteenth Century:A Study in Cultural History The Negarakertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit 1365 AD. Vol 1. The Haque: Martinus Nijhoff.

Retno Mastuti, Dwi Woro, dan Bramantyo, Hastho. 2009. Kakawin Sutasoma Mpu Tantular. Jakarta: Komunitas Bambu.

Riana, I Ketut. 2009. Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.

Santoso, Suwito. 1975. Sutasoma. A Study in Javanese Wajrayana. New Delhi: International Academy of Indian Culture.

Slametmuljana. 1953. Negarakertagama. Jakarta: Siliwangi.

——————. 1979. Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Soekmono, R. 1974. Candi Fungsi dan Pengertiannya. Dissertasi UI. Semarang: IKIP Semarang.

——————- 1985. Amertamanthana. Dalam Amerta No. 1 Hal. 43-47. Jakarta: Puslit Arkenas.

Suleiman, Setyawati. Tanpa tahun. Sedjarah Indonesia Djilid I C. Bandung: KPPK. Balai Pendidikan Guru

————————-. 1980. Pengembangan Seni Arca Kuno di Indonesia. Dalam Analisis Kebudayaan Tahun 1 No. 1 Hal. 50-59. Jakarta: Balai Pustaka.

Wijaya, Johan. 2008. Suttapitaka, Khuddaka Nikaya. Medan: Indonesia Tipitaka Center.

Wojowasito, S. 1977. Kamus Kawi-Indonesia. Malang: CV. Pengarang.

Zoetmulder, P.J. 1983. Kalangwan. Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.

Zoetmulder, P. J. dan Robson, BD. 2004. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: