Oleh: hurahura | 9 Oktober 2010

Pameran Pedang Nabi: Pesan Islam untuk Perdamaian Dunia

KOMPAS Jawa Tengah, Rabu, 6 Okt 2010 – Safra’, busur panah dari bambu kuning, tersimpan di lemari kaca. Sejumlah goresan dan “keriput” penanda ketuaan membalut beberapa bagian busur buatan tahun 615 sebelum Masehi tersebut. Di dekatnya, sebuah catatan kecil mengisahkan sejarah busur yang merupakan hadiah sahabat Nabi Muhammad dari China. Oleh Nabi Muhammad, busur itu dijadikan koleksi dan tidak pernah digunakan untuk berperang.

Di seberang busur Safra’, pedang Al Battar sepanjang 101 sentimeter bersanding dekat tongkat kayu Nabi Musa. Pedang tersebut dikenal dengan nama “Pedang Nabi” karena nama sejumlah nabi terukir di pedang dalam tulisan Arab, yaitu Nabi Daud, Sulaiman, Musa, Zakaria, Yahya, Isa, dan Muhammad.

Konon, Nabi Daud memenggal kepala Goliath, sebagai pemilik pedang tersebut. Nabi Muhammad mendapatkan pedang itu sebagai barang rampasan dari Bani Qaynaqa. Nabi Muhammad tidak pernah menggunakan pedang itu untuk berperang.

Busur Safra’ dan pedang Al Battar merupakan dua dari 12 koleksi Museum Istana Topkapi, Istambul, Turki, yang dipamerkan di Gedung Olahraga Wergu Wetan, Kudus, 1-30 Oktober. Koleksi-koleksi Museum Istana Topkapi yang dipamerkan selain busur dan pedang Nabi Muhammad, juga sandal, cetakan tapak kaki dan tongkat Nabi Muhammad, serta tongkat Nabi Musa.

Pameran bertema “Pesan Islam untuk Perdamaian Dunia” tersebut diselenggarakan Mawaddah Center bekerja sama dengan Kedutaan Besar Turki dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Mawaddah Center juga menggandeng Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kudus.

Direktur Mawaddah Center Sofiyan Hadi, Selasa (5/10), mengatakan, pameran itu bertujuan mengembangkan pengetahuan dan pendidikan religius di Kudus. Pasalnya, selama ini banyak masyarakat yang belum mengetahui peninggalan-peninggalan Nabi Muhammad secara konkret.


Membawa perdamaian

Selain itu, penyelenggara ingin memberikan pesan bahwa Islam merupakan pembawa damai dan menghargai pluralisme atau keberagaman. Pedang-pedang nabi yang dipamerkan bukan merupakan simbol peperangan, melainkan toleransi dan perdamaian.

“Dari sembilan pedang Nabi Muhammad, hanya satu yang dipakai untuk berperang. Perang itu pun untuk membela diri saat seseorang hendak membunuhnya dalam perang Uhud,” kata Sofiyan.

Pedang-pedang dan busur-busur itu, kata Sofiyan, merupakan tanda kebesaran nabi yang menghargai semua orang. Pedang dan busur itu kebanyakan didapat nabi dari sahabat dan relasinya yang berbeda suku, bahkan etnis.

Dalam buku Sebilah Pedang: Bukti Sejarah Kejayaan Islam di Masa Silam (2010), karya Abidurrohman, pengumpulan peninggalan Nabi Muhammad yang tersebar di berbagai daerah itu dilakukan Kasultanan Turki yang waktu itu dipimpin Sultan Selim I (1512-1520). Dia menaklukkan Kasultanan Mamluk di Mesir dan Hijaz (Arab Saudi).

Hasilnya, Sultan Selim I memperoleh peninggalan Nabi Muhammad berupa mantel, tongkat, gigi, segenggam janggut, bendera, pena, sajadah, tasbih kayu, busur, pedang, sabuk, dan serban. Kemudian para pengganti Sultan Selim I mengikuti jejaknya dengan mengumpulkan peninggalan nabi dari Oran, Baghdad, Kairo, dan Tripoli, Libya.

Penulis buku Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa (2010) sekaligus praktisi studi agama dan lintas budaya, Nur Said, mengatakan, “Di balik benda-benda peninggalan nabi, ada makna yang tersirat, yaitu pesan perdamaian dan menghargai keberagaman,” kata dia. (HENDRIYO WIDI)

Iklan

Responses

  1. Arkeologi emang punya daya tarik hebat,dan saya amat menggemarinya, trimakasih pak atas imponya

  2. Assalamualaikum
    Pameran Pedang nabi tuk wilayah sumatra bernama pameran jejak rasul dan nabi di mulai dari pekanbaru pada tanggal 12 Feb 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: