Oleh: hurahura | 15 Februari 2014

Sejumlah Candi Ditutup: Mencegah Kerusakan akibat Erupsi Gunung Kelud

BrbdKOMPAS/REGINA RUKMORINI

Sebanyak 72 stupa di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, ditutup dengan kain tarpaulin, Jumat (14/2). Penutupan ini untuk mencegah kerusakan batu candi dari abu vulkanik letusan Gunung Kelud.

Sejumlah candi di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, ditutup untuk kunjungan wisatawan sejak Jumat (14/2). Penutupan ini karena candi-candi itu tertutup abu vulkanik akibat erupsi Gunung Kelud sehingga tak bisa dinikmati wisatawan.

Candi yang ditutup di Kabupaten Magelang, antara lain Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon. Adapun di Kabupaten Klaten adalah Candi Prambanan.

”Penutupan kunjungan wisatawan hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan,” kata Kepala Balai Konservasi Borobudur Marsis Sutopo.

Selain menutup kawasan candi dari kunjungan wisatawan, 72 stupa kecil, 1 stupa besar, dan lantai di empat tingkat teratas Candi Borobudur ditutup kain tarpaulin untuk mencegah kerusakan candi dari abu vulkanik Gunung Kelud. Kain penutup produksi Jerman tersebut tahan terhadap material bahan berbahaya, termasuk abu vulkanik.

Adapun di Candi Mendut dan Candi Pawon, upaya penyelamatan dilakukan dengan memasang atap di atas bangunan candi.

Tebal abu di ketiga candi tersebut berkisar mulai 3 hingga 5 milimeter, lebih tipis dibandingkan saat abu erupsi Gunung Merapi 2010 yang mencapai ketebalan 3 sentimeter.

Marsis mengatakan, jika wisatawan diizinkan masuk, pihaknya khawatir abu vulkanik Gunung Kelud akan melekat lebih kuat di bangunan candi. ”Akibatnya candi semakin sulit dibersihkan,” kata Marsis.

Jika aktivitas Gunung Kelud sudah mereda, sambung Marsis, mulai Senin (17/2) pembersihan candi akan mulai dilakukan. ”Biasanya dibutuhkan waktu 7-10 hari untuk membersihkan candi,” kata Marsis.

Kepala Unit Taman Wisata Candi Borobudur Bambang Irianto mengatakan, penutupan candi untuk kunjungan wisatawan akan berdampak pada pendapatan dari sektor pariwisata, baik dari penjualan tiket maupun dari penjualan berbagai produk kerajinan masyarakat.

Pada hari-hari biasa, jumlah wisatawan Candi Borobudur mencapai 3.000-4.000 orang, dan mencapai 10.000-16.000 per hari pada akhir pekan


Abu mengeras

Harry Widianto, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan, abu vulkanik Gunung Kelud mengandung 70,6 persen silika. ”Abu ini bisa mengeras dalam waktu 2-3 hari jika terkena udara lembab,” ujarnya.

Meskipun demikian, sambung Harry, abu vulkanik dari Gunung Kelud yang menutupi candi tidak bersifat sangat korosif seperti abu vulkanik yang dimuntahkan Gunung Merapi pada 2010. Abu Gunung Kelud memiliki kadar asam rendah, yaitu pH 5-6 sehingga tidak berbahaya untuk kelapukan batu, bandingkan dengan abu Merapi yang asam dengan pH 3-4.

Selain candi di Jawa Tengah, sejumlah candi di Jawa Timur seperti Candi Penataran di Blitar dan Candi Singosari di Malang juga tertutup abu vulkanik setebal 3 sentimeter.

”Saat erupsi Gunung Kelud pada 1990, debu yang menutupi candi sekitar Kelud sekitar 37 sentimeter,” kata Aris Sovyani, Kepala Badan Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur. (IND/EGI/DOE)

(Sumber: Kompas, Sabtu, 15 Februari 2014)

Iklan

Responses

  1. Reblogged this on Surya's Blog.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: