Oleh: hurahura | 18 Juni 2012

Pos Tawarkan Properti

* Diingatkan, Banyak Properti adalah Cagar Budaya

KOMPAS, Rabu, 13 Juni 2012 – PT Pos Indonesia menawarkan sebagian dari 3.296 obyek properti di 3.082 lokasi di seluruh wilayah Indonesia milik perusahaan tersebut, untuk dikelola bersama, kepada swasta yang berminat. Tapi PT Pos Indonesia diingatkan agar berhati-hati dengan cagar budaya.

Beberapa aset properti PT Pos umumnya berada di tempat paling strategis, seperti di alun-alun kota. PT Pos terbuka untuk penggunaan apa pun, seperti perhotelan, restoran, mal, stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU), dan menara untuk telepon genggam (BTS).

”Bagi PT Pos, upaya optimalisasi properti ini sebenarnya sudah dilakukan satu dekade. Yang paling sederhana gedungnya dipakai untuk acara pengantin. Namun, tahun 2012 ini, hal itu dilakukan sepenuhnya sebagai strategi pencarian laba,” kata Direktur Utama PT Pos I Ketut Mardjana di sela-sela peluncuran Pos Property Indonesia Gathering di Jakarta, Selasa (12/6), yang dihadiri komunitas pengembang dan kalangan perbankan.

”Untuk saat ini, PT Pos masih menyodorkan 100 lokasi yang dijamin status hukumnya sudah bersih dan potensi bisnisnya bahkan sudah disurvei layak ditawarkan pada dunia usaha,” kata Agus Yuhono, Wakil Presiden Properti PT Pos.

Para calon mitra strategis, demikian PT Pos menyebut bakal calon investor itu, diminta untuk mengisi formulir minat (letter of intent) setelah mengamati seratus lokasi yang ada. Identitas, gambar, dan spesifikasi lokasi-lokasi itu sudah dibuatkan bukunya dan bisa diakses pada situs PT Pos pada direktori properti.

”PT Pos siapkan waktu maksimal sebulan untuk kemudian bisa memulai pembahasan rancangan kerja sama dengan pejabat PT Pos setempat,” katanya.

Sekretaris Kementerian BUMN Wahyu Hidayat yang hadir pada acara itu menyatakan gembira dengan langkah PT Pos dan mendorong BUMN lain melakukan hal serupa. Semua BUMN se-Indonesia memiliki aset Rp 2.500 triliun. Kementerian BUMN minta jangan ada aset menganggur. PT Pos istimewa karena sejarah jaringan distribusi yang sangat luas sampai pelosok.

”Sudah ada peraturan menteri yang bisa dijadikan patokan kerja sama dengan pihak ketiga. BUMN harus pintar tidak hanya menaikkan harga aset, tetapi juga nilai aset supaya bisnis tumbuh. Untuk itu, wajar jika perlu mencari mitra. Ini bukan untuk kepentingan BUMN, juga untuk peluang dunia usaha,” ujarnya.

Wahyu membenarkan, ini membuka peluang penyelewengan. Agus menambahkan, pihaknya menyusun kriteria pemanfaatan, antara lain tidak menghapus operasional PT Pos, menggunakan prinsip nilai tertinggi dan terbaik, dan tak mengakibatkan beralihnya kepemilikan aset.

Alternatif pola kerja sama bisa dengan sewa menyewa, bangun guna serah (built, operate, transfer), bangun serah guna (build transfer and operate), kerja sama operasi hingga kerja sama usaha.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, dari Malang Heritage Society mengingatkan risiko kebijakan PT Pos ini terhadap kemungkinan rusaknya warisan budaya kota setempat. ”Banyak bangunan PT Pos terhubungan dengan arsitektur gaya kolonial atau gaya jengki tahun 1950-an. Alangkah bagusnya bila justru arsitektur bangunan pos lama itu menjadi daya tarik utama dari mal atau hotel itu,” katanya. (ODY)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori