Oleh: hurahura | 5 Oktober 2014

Peninggalan Arkeologi di Timor Leste

Sejumlah ilmuwan Australia pemburu fosil tikus raksasa di Timor Leste pernah menemukan pahatan unik pada bebatuan di Goa Lene Hara. Karya seni purba itu berujud wajah-wajah manusia, teridentifikasi berumur lebih dari 12.000 tahun. Salah satunya menggambarkan wajah dengan hiasan kepala sirkuler berbentuk matahari. Kemungkinan artefak tersebut merupakan temuan pertama di Timor Leste dan satu-satunya dari masa Pleistosen di kawasan itu. Sebelumnya, tahun 2010 lalu, tim peneliti menemukan lukisan goa di situs tersebut yang tarikhnya diperkirakan 30.000 tahun.

Di Timor Leste juga pernah ditemukan tengkorak tikus raksasa, yang memiliki berat badan sekitar enam kilogram. Dalam penggalian itu tim peneliti berhasil memperoleh 13 spesies binatang pengerat di goa, yang 11 di antaranya merupakan spesies baru bagi ilmu pengetahuan. Diketahui pula delapan spesies memiliki berat lebih dari satu kilogram.

“Indonesia Timur merupakan hot spot untuk evolusi binatang pengerat. Kami ingin pihak internasional memperhatikan konservasi di daerah itu,” kata Dr Ken Aplin dari badan penelitian internasional Commonwealth Scientific and Industrial Research (CSIRO).

Dalam pengujian karbon, tikus terbesar di Timor Leste itu hidup sekitar 1000-2000 tahun yang lalu, bersama dengan sebagian besar tikus lain yang ditemukan selama penggalian. Tikus-tikus yang bertahan hidup hingga hari ini adalah spesies yang ukurannya lebih kecil.

Menurut Dr. Aplin, kepunahan tikus-tikus raksasa itu kemungkinan besar diakibatkan kedatangan manusia di sebuah pulau besar. Mereka melakukan penebangan dan pembakaran hutan untuk pertanian.

Timor Timur atau Timor Leste sekarang bukan lagi menjadi bagian dari wilayah RI. Dalam waktu lama, Timor Leste pernah menjadi koloni Portugis, kemudian bergabung menjadi provinsi ke-27 RI pada 17 Juli 1976. Setelah itu melepaskan diri dan menjadi negara merdeka dengan nama Timor Leste pada 20 Mei 2002.


Terbelakang

Timor Leste boleh dikatakan terbelakang sejak masih menjadi koloni Portugis. Dibandingkan negara penjajah lain, Portugis memang kurang memperhatikan negara jajahannya. Malah Portugis kerap dituding memperburuk situasi karena hanya memperhatikan hal-hal keagamaan di negara jajahannya itu. Seorang naturalis dan penjelajah, Alfred R. Wallace, pada abad ke-19 mengatakan demikian, “Pemerintahan Portugis di Timor adalah pemerintahan yang sangat buruk. Agaknya tidak seorang pun peduli pada nasib daerah itu” (Menjelajah Nusantara, hal. 110).

Menurut Wallace, pemerintahan Portugis juga tidak berusaha mengembangkan iptek, pertanian, dan peternakan sebagaimana bangsa Belanda. Mereka lebih suka melakukan penipuan dan pemerasan terhadap penduduk asli. Akibatnya, di Timor sering terjadi pemberontakan.

Banyak penelitian di Timor Leste, termasuk penelitian sejarah dan arkeologi, masih tersendat-sendat hingga kini. Boleh dikatakan penelitian di sana sangat tergantung kepada sekutu dekat Timor Leste, yakni Australia.

Ketika berintegrasi dengan Indonesia, penelitian arkeologi Timor Timur dilakukan selama 1980-an dan 1990-an oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) bersama Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala (Ditlinbinjarah). Kegiatan terbanyak berupa pengumpulan data, pemugaran, pendokumentasian, dan pendayagunaan objek.

Banyak situs arkeologi ditemukan di sana. Kehidupan masyarakat pedesaan dan berbagai tradisi kepurbakalaan lain berhasil diungkap. Namun situs-situs arkeologi tersebut yang tersebar di berbagai kabupaten, kembali terkubur oleh gejolak politik yang tak pernah surut.

Menurut catatan sejarah, Timor Leste memiliki masa lampau yang penting buat melengkapi informasi kesejarahan Indonesia. Semasa integrasi, masa lampau Timor Leste baru digali berdasarkan sumber-sumber tertulis yang kebanyakan dihasilkan oleh para musafir (pengelana) bangsa Eropa. Karena itu hasilnya masih samar-samar dan lebih mengacu kepada kurun waktu tertentu, yakni masa penjajahan Portugis.

Sebelum integrasi, penelitian prasejarah banyak dilakukan di Timor Leste. Namun umumnya oleh para peneliti non-Indonesia. Ahli prasejarah Australia Ian C. Glover, misalnya, melakukan serangkaian survei dan ekskavasi di beberapa situs, terutama di sejumlah goa. Penelitian tersebut dilakukan sepanjang 1966-1967. Ketika itu banyak ditemukan berbagai artefak, sisa makanan, lukisan goa, kubur batu, kapak batu, dan undak batu (Soekatno Tw, 1986).

Dilihat dari pertanggalannya, diperkirakan Timor Leste telah dihuni sekitar 13.500 tahun yang lalu oleh populasi kecil pemburu dan pengumpul makanan. Sebelumnya, penelitian prasejarah di Timor Leste dilakukan oleh sejumlah pakar dari berbagai negara, seperti Alfred Buhler (1935), Willems (1938-1939), Antonio de Almeida (1953), dan Th. Verhoeven (1954 dan 1964). Peneliti Indonesia yang banyak menangani prasejarah Timor Leste adalah R.P. Soejono (1982).

Di luar penelitian prasejarah, penelitian dari zaman klasik (abad ke-5 hingga ke-15), boleh dikatakan masih minim. Ini karena sumber-sumber tertulis, seperti naskah kuno dan prasasti, yang ditemukan memang masih sangat terbatas. Kalaupun ada, sumber itu bukan merupakan dari hasil penelitian, melainkan hasil laporan dari para musafir asing. Dengan demikian sumber-sumber itu perlu ditafsirkan terlebih dulu mengingat informasinya sangat singkat.


Cendana

I-tsing, seorang musafir Tiongkok (671-695), pernah menyaksikan cara membersihkan benda suci (arca) yang menggunakan pengharum di sebuah pulau. Kemungkinan pengharum tersebut terbuat dari bahan baku kayu cendana, yang banyak dihasilkan Pulau Timor.

Dari catatan lama diketahui Kerajaan Sriwijaya pernah membina hubungan baik dengan Pulau Timor. Dengan demikian tentunya Pulau Timor memiliki daya tarik, mungkin di bidang ekonomi. Persoalannya adalah apakah mencakup Timor secara keseluruhan sehingga Timor Timur termasuk ke dalamnya?

Peran Timor di masa silam juga pernah disinggung oleh Berita Tiongkok Hsing-cha Sheng-lan (1436). Dalam kitab itu Timor disebut Kih-ri Ti-mun. Selanjutnya Tung Hsi Yang K’au (1618) menyebutkan bahwa rakyat banyak menebang kayu cendana. Kemungkinan lokasi penebangan itu berada di Pulau Timor. Dalam kitab Nagarakretagama dari abad ke-14, Timor disebut sebagai daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Sejak abad ke-16 para musafir Portugis mulai berdatangan ke Indonesia. Mereka bukan saja melakukan kontak dagang dan menyebarluaskan agama Katholik, tetapi juga menguasai (menjajah). Berbagai peninggalan yang masih tersisa hingga kini, antara lain tugu peringatan pendaratan pertama Portugis di Lifau tertanggal 18 Agustus 1515. Peninggalan lainnya berupa gereja, pasar, rumah tradisional, benteng, gua perlindungan, situs bekas kerajaan lokal Lalea, mercu suar, senjata tajam, dan meriam kuno.

Karena dianggap strategis, pada 1653 Belanda memindahkan markas militer mereka dari Solor ke Pulau Timor. Setelah menguasai Teluk Kupang, mereka membangun benteng Concordia dan pelabuhan. Namun Belanda membatasi diri dan sama sekali tidak mengusik perdagangan cendana yang dikuasai orang-orang Topas dan sekutu-sekutunya di pedalaman.

Kendati begitu, menurut Harry Kawilarang dalam bukunya Mengindonesiakan Indonesia, ketika pasukan VOC mendarat di di Timor, mereka mendesak Portugis ke bagian timur pulau itu dan menempatkan koloni ini sepenuhnya di bawah VOC.

Keadaan berubah setelah tumbangnya VOC di akhir abad ke-18, berlanjut dengan pendudukan Inggris di masa Perang Napoleon di Eropa. Timor pernah pula dikuasai Inggris.

Pada 1816, Inggris resmi mengembalikan Hindia-Timur kepada Belanda, sedangkan Timor baru diperoleh kembali dari Inggris pada 1818 dan berada dibawah pemerintahan administrasi Ambon. Setahun kemudian Timor berstatus keresidenan dibawah pimpinan residen (sama seperti gubernur), kemudian terbagi dalam beberapa distrik, masing-masing Timor, Roti, Sabu, Larantuka (Flores Timur), dan Sumba.

Pada 1859 dalam perjanjian antara Belanda dengan Portugis, Pulau Timor dibagi dua. Bagian Barat berada di wilayah Hindia Belanda dan bagian Timur wilayah Portugis. Garis perbatasan baru ditetapkan pada 1893, sedangkan ketentuan perbatasan baru disahkan pada 1914.

Sebenarnya objek-objek arkeologi yang terdapat di Timor Leste relatif banyak dan unik. Namun penelitian-penelitian arkeologi itu sering terhambat karena masalah geografis. Hal ini karena banyak situs arkeologi terletak di tengah perbukitan sehingga untuk mencapainya perlu waktu lama. (Djulianto Susantio)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: