Oleh: hurahura | 13 Agustus 2011

Penduduk Batavia Abad ke-18 (2)

Warta Kota, Sabtu, 13 Agustus 2011 – Setelah orang Cina, jumlah terbanyak berikutnya untuk orang Timur Asing disandang oleh orang Moor. Pada 1766 jumlahnya adalah 138 (di dalam benteng) dan 1.265 (di luar benteng). Istilah orang Moor adalah sebutan yang pada mulanya ditujukan untuk orang-orang Islam yang berasal dari Kalingga di pantai Koromandel, India. Ada juga yang mengidentifikasi orang Moor sebagai orang Islam asing sehingga pengertiannya menjadi lebih luas. Dengan demikian orang Parsi dan Arab juga dimasukkan ke dalamnya. Orang-orang Moor biasanya mencari nafkah sebagai pedagang tekstil dan barang-barang yang didatangkan dari Bombay. Sebagian bekerja pada VOC sebagai serdadu bayaran [Tawalinuddin Harris, Kota dan Masyarakat Jakarta: Dari Kota Tradisional ke Kota Kolonial (Abad XVI-XVIII)].

Warga lain yang termasuk orang Timur Asing adalah orang Jepang. Mereka merupakan keturunan imigran yang berasal dari pelabuhan milik VOC di Hirado dan Nagasaki. Jumlah mereka tidak diketahui secara tepat. Seandainya pada 1635 Jepang tidak dinyatakan tertutup oleh Tokugawa, jumlah mereka mungkin besar. Ketika itu ada aturan orang-orang Jepang dilarang ke luar negeri. Sementara mereka yang sudah berada di luar negeri, dilarang untuk kembali. Akibatnya orang-orang Jepang yang berada di Batavia terpaksa melebur diri dengan penduduk sekitar. Sebagian besar dengan orang-orang Cina karena memiliki ciri-ciri fisik yang hampir sama.

Orang Timur Asing lainnya adalah Papanger atau Papango. Mereka berasal dari suatu daerah di sebelah Timur Laut Manila, Filipina. Di tempat ini orang-orang Spanyol yang menjajah Filipina, pernah mendidik mereka sebagai prajurit yang tangguh. Orang Papango mengadopsi unsur-unsur budaya Spanyol, beragama Katholik, dan mengambil nama Spanyol. Mereka datang di Batavia sebagai tawanan perang. Setelah bekerja pada VOC selama satu tahun, mereka mendapatkan kemerdekaan. Kemudian mereka diangkat sebagai serdadu bayaran dan polisi keamanan kota.

Orang mardijker (merdeka) berasal dari orang-orang Koromandel, Arakan, Malabar, Srilanka, dan Melayu yang menyerap kebudayaan Portugis. Sebelumnya mereka berstatus budak, yang dibebaskan karena dibaptis menjadi agama Katholik. Sementara orang-orang pribumi terdiri atas berbagai kelompok etnis. Mereka umumnya dijadikan serdadu VOC. Sebagian besar dari mereka didatangkan dari luar Batavia, seperti Bali, Makassar, Bugis, Madura, Flores, dan Banda. Budak merupakan penduduk terbesar Batavia kala itu. Pada 1779 jumlah budak mencapai 39.892 jiwa. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori