Oleh: hurahura | 27 Juli 2010

Timberhenge, Saudara Kembar dari Kayu

Oleh Luki Aulia

Stonehenge, monumen batu peninggalan zaman perunggu dan neolitikum di Salisbury Plain Wiltshire, Inggris, ternyata mempunyai saudara kembar. Bedanya, saudara kembar Stonehenge ini bentuknya lebih kecil dan tidak terbuat dari batu, tetapi dari kayu. Oleh karena itu, disebutlah si saudara kembar ini dengan nama Timberhenge.

Tim arkeologi dari University of Birmingham, Inggris, dan Ludwig Boltzmann Institute, Austria, secara tidak sengaja menemukan “sisa-sisa” fondasi monumen kayu itu melalui radar pemindai bawah tanah sekitar dua pekan lalu. Awalnya, tim itu hanya hendak memetakan kondisi geografis dan geologis lingkungan sekitar Situs Warisan Dunia Stonehenge. Tujuannya mencari tahu situasi lingkungan dan masyarakat sekitar Stonehenge yang hidup pada masa itu (sekitar 4.500 tahun lalu).

Dari hasil pemindaian radar bawah tanah terekam citra parit yang melingkar dengan 22 lubang dan kayu yang telah lapuk. Diameter fondasi lingkaran monumen itu diperkirakan sekitar 25 meter. Di dalam lingkaran terlihat sisa-sisa gundukan makam yang kemungkinan telah digali pada 1900-an.

Timberhenge, yang berjarak sekitar 900 meter dari Stonehenge, itu diyakini tidak lagi dalam kondisi utuh, bisa lapuk atau bahkan hancur tanpa sisa karena terbuat dari kayu.

Meski belum terlalu jelas karena belum dilakukan penggalian, bagi Vince Gaffney dari University of Birmingham yang memimpin penelitian ini, temuan itu cukup spektakuler, mengingat belum ada penemuan sebesar ini selama 50 tahun terakhir. “Kompleks Stonehenge ternyata bukan hanya lapangan rumput luas dan kosong, seperti selama ini kita kira. Rupanya ada monumen upacara ritual yang besar yang menghadap ke Stonehenge,” ujarnya.

Selama ini kompleks Stonehenge diduga menjadi pusat upacara ritual dan kompleks pemakaman. Namun, belum ada temuan yang mendukung dugaan itu. Karena itulah Stonehenge untuk sementara dianggap hanya tumpukan batu-batu tanpa makna. Akan tetapi, menurut arkeolog Tim Darvill, setidaknya kini diketahui kompleks Stonehenge pernah menjadi pusat upacara ritual terbesar di Eropa.

Sayangnya, fungsi kompleks Stonehenge ini belum diketahui. Jika memang digunakan untuk tempat upacara ritual, upacara ritual seperti apa yang berlangsung. Atau siapa yang boleh masuk ke lokasi ini? Apakah warga biasa, pemimpin suku saja, atau para pemimpin agama atau kepercayaan? Semua pertanyaan ini masih belum terjawab.

Untuk menjawab pertanyaan itu, para arkeolog tinggal merangkai potongan puzzle dari hasil temuan selama ini. Seperti monumen (yang juga dari kayu) bernama Woodhenge yang telah digali pada 1970-an. Di Woodhenge dulunya juga diperkirakan ada enam tiang kayu yang melingkar. Saat penggalian, di tengah-tengah lingkaran Woodhenge ini ditemukan tengkorak seorang anak. Muncul dugaan anak ini menjadi korban dalam upacara ritual.

Selain Woodhenge, peneliti juga menemukan tumpukan batu melingkar dengan diameter 10 meter di tepi Sungai Avon yang disebut dengan Bluehenge karena dibangun dari batu biru (bluestones) pada 2009. Monumen Bluehenge ini diduga menjadi titik awal prosesi upacara ritual yang dimulai dari tepi sungai dan berakhir di Stonehenge.


Penggalian

Tanpa mengecilkan arti temuan tim Gaffney, majalah British Archaeology menilai, sebelum mengklaim temuan itu sebagai monumen, harus ada proses penggalian terlebih dahulu. Secara teknis, monumen yang ada di kompleks Stonehenge itu berupa area melingkar yang dipisahkan oleh parit yang dibuat di dalam lingkaran. Definisi monumen ini lalu meluas-terutama ketika membicarakan kompleks Stonehenge- menjadi lokasi upacara ritual yang melingkar.

Gaffney bisa jadi benar. Hasil pemindaian radar menunjukkan, citra lubang-lubang yang semula mungkin berisi pilar-pilar yang besar seperti di Bluehenge di mana ada 25 lubang berisi pilar dari batu. Namun, citra dari radar itu, menurut majalah tersebut, bisa jadi hanya jajaran parit yang besar tanpa ada pilar di dalamnya. Bisa jadi temuan Gaffney itu hanya semacam lokasi kuburan. Namun, lokasinya yang berdekatan dengan Stonehenge memunculkan dugaan yang lebih mengarah kepada monumen yang melingkar, seperti Stonehenge yang terdiri dari 30 batu tegak berukuran besar, 10 meter, dengan berat hingga 26 ton. Semua batu itu disusun tegak melingkar.

biasa. Apalagi mengingat temuan ini hasil dari penggunaan teknologi modern, seperti radar pemindai bawah tanah. Radar yang dipasangi roda itu dibawa mengelilingi lahan seluas 14 kilometer. Tidak perlu menunggu lama, muncullah citra Timberhenge. Namun, bagi arkeolog,Apa pun hasil temuan tim arkeolog itu, tetap saja temuan ini luar penelitian tentang kompleks Stonehenge masih panjang karena masih banyak misteri yang belum terungkap. (BBCNews/The Guardian/De Telegraph)

(Kompas, Sabtu, 24 Juli 2010)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: