Oleh: hurahura | 8 Januari 2013

Museum Adam Malik Tak Tersisa

Warta Kota, Selasa, 8 Januari 2013 – Salah seorang pejabat yang pernah diabadikan sebagai nama museum adalah Adam Malik. Beliau adalah seorang wartawan yang kemudian menjadi menteri luar negeri, Ketua MPR/DPR, dan wakil presiden. Museum itu semula adalah tempat kediamannya, terletak di Jalan Diponegoro 29, Jakarta Pusat. Didirikan tahun 1985 oleh keluarganya setahun setelah Adam Malik wafat.

Pada masanya Museum Adam Malik merupakan museum swasta terbesar di Jakarta. Museum itu memiliki beragam koleksi, yang pada dasarnya terbagi ke dalam 13 jenis koleksi, yaitu lukisan non-China, lukisan China, ikon Rusia, keramik, buku, senjata tradisional, patung batu dan logam, ukiran kayu, batu permata, emas, tekstil, kristal, dan fotografi.

Koleksi benda-benda arkeologis di museum itu lumayan banyak, antara lain arca Ganesa, arca Bima, benda prasejarah, arca Buddha Aksobhya, lingga, dewi Durga, dan dewa Siwa. Koleksi yang dipandang adikarya adalah keramik China, umumnya berasal dari Makassar dan situs Buni (Bekasi, Jawa Barat). Koleksi paling spektakuler adalah prasasti Sankhara, diperkirakan berasal dari abad ke-8.

Sayang tahun 2000-an pengelolaan museum mulai kembang kempis. Dikabarkan setiap bulan museum mengalami defisit pembiayaan sebesar Rp50 juta, yakni untuk gaji karyawan dan biaya rumah tangga. Sebelumnya museum itu pernah mendapat subsidi dari pemerintah. Namun sejak diputusnya dukungan, pihak yayasan sulit mempertahankannya. Museum tutup total tahun 2006, lalu bangunan itu dijual kepada pengusaha Hary Tanoesoedibjo.

Menjelang ditutup, sejumlah koleksi pernah ditawarkan kepada pemerintah, namun pemerintah tidak memberikan respons positif. Akhirnya koleksi museum mulai dilego ahli waris sedikit demi sedikit. Koleksi lukisan dijual ke toko barang antik Jalan Surabaya, Jakarta Pusat. Koleksi buku dijual kepada pedagang buku bekas di Pondok Pinang, Ciputat tahun 2003. Koleksi lain dijual di Bali dan kepada kolektor asing. Dikabarkan Prasasti Sankhara dijual ke tukang loak yang lewat di depan Museum Adam Malik. Menurut info lain, Prasasti Sankhara dibeli oleh seorang kolektor dari Italia. Sampai sekarang keberadaan prasasti tersebut belum terlacak. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori