Oleh: hurahura | 27 Agustus 2019

Edukasi Warisan Budaya melalui Pembacaan Inskripsi pada Candi Plaosan Lor


Aang-04
PENDAHULUAN

Candi Plaosan merupakan kompleks percandian besar dan luas yang memiliki latar keagamaan Buddha. Secara umum percandian ini kini terbagi dalam dua kompleks, yaitu kompleks Candi Plaosan Lor dan kompleks Candi Plaosan Kidul. Keberadaan kompleks percandian ini yaitu di sebelah timur dari Candi Prambanan dan Candi Sewu, tepatnya di Dusun Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten-Jawa Tengah. Seperti yang sudah diketahui secara umum, bahwa kompleks percandian ini merupakan peninggalan dari masa Mātaram Kuno. Kompleks percandian ini diperkirakan dibangun pada pertengahan abad VIII Masehi (Utomo, 2010). Antara kedua kompleks percandian tersebut, yang paling banyak menjadi objek penelitian serta paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan adalah Kompleks Percandian Plaosan Lor.

Kompleks Percandian Plaosan Lor terdiri dari dua candi induk yang ada di bagian tengah, lalu yang dikelilingi oleh pagar pembatas, dan di luar pagar pembatas dikelilingi lagi oleh bangunan-bangunan candi perwara berupa bangunan prasadha berjumlah 58 bangunan mengelililingi pagar tembok pembatas (Ring 1) hingga ke arah masing-masing sudut. Kemudian beberapa di antaranya berupa bangunan stupa pada Ring 2 dan Ring 3 mengelilingi luar bagian luar bangunan prasada. Bangunan stupa tersebut pada bagian selatan dan utara berjumlah 20 bangunan dan pada bagian timur terdapat 40 bangunan serta pada bagian barat terdapat 36 bangunan. Jumlah antara bangunan stupa di bagian timur dan barat tidak sama karena empat stupa sengaja tidak dibangun untuk menyediakan jalan masuk antara pintu masuk dari lokasi arca dwarapala (penjaga pintu) sampai ke dalam kompleks candi induk. Pada bagian paling utara terdapat sebuah bangunan mandapa (lihat Gambar 1.1). Karena halamannya yang luas dan terbagi dalam beberapa ruang, kompleks percandian ini mampu menampung pengunjung dalam jumlah yang cukup banyak.

Namun kondisi dari candi-candi perwara tersebut sangat disayangkan, karena sudah banyak yang rusak dan runtuh serta belum adanya tindakan restorasi kembali. Hanya ada beberapa bangunan prasada dan stupa yang telah berhasil direstorasi, namun sebagian besar masih berupa tumpukan batu-batu yang berserakan dan terlihat material isiannya di bagian tengah. Menariknya dari Candi Plaosan Lor dan juga Plaosan Kidul, yaitu ditemukannya inskripsi-inskripsi kuno yang terdiri dari satu kalimat terpahat pada permukaan dinding bangunan candi perwara baik prasadha maupun stupa. Inskripsi kuno tersebut sangat penting dijadikan sebagai objek materi edukasi warisan budaya untuk para pengunjung candi ini maupun para generasi muda bangsa Indonesia.

Pada kompleks Candi Plaosan Lor pernah ditemukan sebuah prasasti yang semuanya ditulis menggunakan aksara siddham yang kini tersimpan di Museum Nasional. Namun anehnya dalam beberapa publikasi-publikasi khususnya di internet, banyak yang menuliskan kesejarahan dari kompleks percandian Plaosan Lor selama ini dikait-kaitkan dengan kisah asmara atau cinta antara Śrī Mahārāja Rakai Pikatan yang beragama Hindu-Siwa dan Prāmodāwarddhanī yang beragama Buddha-Mahayana. Mungkinkah interpretasi tersebut terinspirasi dari Legenda Roro Jonggrang yang meminta Bandung Bondowoso untuk membuat seribu candi dalam waktu semalam (?). Bahkan ada gurauan dari seorang arkeolog mengatakan, akankah ada yang ingin meminang Roro Jonggrang kembali. Tulisan-tulisan di internet yang berhubungan dengan kisah cinta dalam Candi Plaosan Lor, misalnya seperti yang ditulis oleh Hakim (2014) dalam Kompasiana, yang menulis tentang Candi Plaosan dengan judul tulisan “Menelusuri Kisah Roman Terindah di Candi Plaosan”, lalu Pramx (2015) dalam DetikTravel menulis sebuah tulisan berjudul “Candi Plaosan, Simbol Cinta”, Sari (2017) dalam Backpacker Jakarta menuliskan artikel berjudul “Menyusuri Legenda Cinta di Candi Kembar Plaosan”. Selanjutnya Perusahaan Travel Jogjig (2019) yang menuliskan suatu informasi travel juga membuat tulisan tentang Candi Plaosan berjudul “Candi Plaosan: Kisah Candi Paling ‘Romantis’ ”. Terakhir sebuah blog di internet yang penulis temukan dari Hatta (2019) yang merupakan city guide menuliskan sebuah artikel berjudul “Candi Plaosan: Bukti Kekuatan Cinta beda Keyakinan dari Abad 9 Masehi”. Berdasarkan judul-judul tulisan artikel dari internet baik dari media online, blog pribadi, maupun artikel online untuk promosi usaha travel dari tahun 2014 hingga 2019 semuanya memiliki tema yang sama. Dengan demikian perlu dilacak darimana interpretasi tentang Candi Plaosan dikaitkan tentang Kisah Cinta itu berasal dan dirujuk oleh mereka.

Ternyata interpretasi tersebut diambil dari hasil penelitian yang tertulis dalam buku induk atau babon “Sejarah Nasional Indonesia – Jilid II”, menafsirkan bahwa pada sekitar pertengahan abad VIII Masehi, Candi Plaosan Lor dibangun oleh Raja Rakai Panangkaran yang beragama Buddha yang nantinya digantikan oleh keturunannya bernama Raja Samaratungga. Kemudian Candi Plaosan oleh raja selanjutnya yaitu Raja Rakai Pikatan yang menganut agama Siwa tidak diabaikan dan tetap dirawat. Pada masa tersebut Raja Rakai Pikatan selain memerintahkan untuk membangun Candi Siwa (Candi Roro Jonggrang) Prambanan seperti yang tertulis dalam Prasasti Śiwagêrha (778 Śaka atau 856 Masehi), juga menambahkan dua candi perwara berupa stupa lengkap dengan tulisan nama kebesarannya di Candi Plaosan Lor. Hal ini diinterpretasikan karena Raja Rakai Pikatan berhasil menikahi cucu dari Rakai Panangkaran yang merupakan putri dari Raja Samaratungga bernama  Prāmodāwarddhanī. Pembangunan dua bangunan stupa tersebut dilakukan oleh Raja Rakai Pikatan untuk menjaga perasaan permaisurinya (Hardiati et.al, 2010). Dari sinilah interpretasi ini dikutip dan diikuti oleh para penulis pada tahun-tahun kemudian.

Menjadi pertanyaan besar adalah “apakah cukup demikian makna dari Candi Plaosan yang harus diketahui oleh para pengunjung dan masyarakat luas dari tahun ke tahun (?)”. Sementara itu pada Candi Plaosan terdapat banyak sekali unsur-unsur yang dapat dijadikan objek materi edukasi warisan budaya dan bisa disampaikan kepada pengunjung dan masyarakat luas. Unsur-unsur tersebut misalnya relief yang salah satunya pernah dibahas oleh Danyarati (2009) yang berhasil mengidentifikasi bahwa tokoh-tokoh yang dipahatkan pada bagian bilik candi induk Plaosan Lor adalah tokoh-tokoh kenegaraan yang direpresentasikan dalam bangunan kuil pemujaan serta sebagai simbol religius atau keagamaan, sekaligus terdapat aspek-aspek kenegaraan. Tokoh-tokoh tersebut memprakarsai pembangunan candi, dan hal ini ditujukan sebagai legitimasi para penguasa bawahan termasuk para pejabat, serta wadah sosial kemasyarakatan. Selain itu juga ada unsur lingkungan, yaitu mengapa di sekitar Candi Plaosan ada parit(?), serta mengapa di Candi Plaosan Kidul ada penambahan lantai batu pada halaman candinya (?). Tentu hal ini merupakan suatu hal yang menarik apabila bisa dimasukkan dalam sebuah konsep edukasi warisan budaya dengan objek Kompleks Candi Plaosan Lor dan Kidul. Namun untuk kembali ke fokus kajian maka hal tersebut tidak akan dijelaskan dalam karya tulis ini.

Berdasarkan paparan di atas, maka yang menjadi permasalahan pokok dan akan dibahas dalam karya tulis ini adalah mengenai sisi lain dari Candi Plaosan dalam hasil studi arkeologi sebagai objek untuk edukasi, komunikasi, dan promosi warisan budaya. Penulisan karya tulis ini untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat luas bahwa Candi Plaosan bukan hanya “Monumen Cinta Raja Rakai Pikatan dan Pramodyawardhani”, namun lebih dari itu ada interpretasi lain mengenai Percandian Plaosan yang bisa disampaikan. Selanjutnya salah satu unsur yang cukup banyak ditemukan pada Percandian Plaosan Lor maupun Kidul adalah inskripsi-inskripsi kuno pada salah satu bagian candi perwara baik berupa prasada maupun stupa, mayoritas terdiri dari satu kalimat. Namun kondisinya ada yang masih bisa dilihat satu kalimat utuh dan ada juga yang tidak utuh karena batu sambungan yang menjadi media penulisan kalimat tersebut sudah hilang atau belum ditemukan. Inskripsi kuno tersebut ditulis menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Aksaranya terukir jelas pada permukaan batu dan hanya satu aksara yang ditulis menggunakan cat berada di pagar candi induk bagian luar menghadap ke utara. Jumlah seluruh inskripsi kuno yang ditemukan pada bangunan candi perwara kompleks percandian Plaosan Lor adalah 70 inskripsi kuno, yang terdiri 69 kalimat ditemukan terukir jelas pada bangunan prasada maupun stupa dan satu kata saja yang ditemukan di bagian luar pagar candi induk utara dengan bahan cat warna merah (Casparis, 1958; Casparis, 2008). Jumlah tersebut merupakan hasil pendataan yang terdahulu, karena penulis pada tanggal 24 Maret 2019 ketika memandu rombongan trip sejarah Komunitas Reracik ke Candi Plaosan, pada sebuah candi perwara yang baru diekskavasi di Candi Plaosan Kidul telah ditemukan sebuah inskripsi baru pada bahan batu putih, namun sayangnya telihat tidak utuh kalimatnya. Tulisannya menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Namun apabila dicermati lebih teliti, maka terlihat bentuk goresan dalam penulisan inskripsi kuno ini sedikit berbeda dengan yang ditemukan pada beberapa candi-candi perwara baik di Plaosan Lor maupun Kidul. Terbaca oleh penulis bagian kalimat yang masih bisa terbaca dalam inskripsi kuno tersebut yaitu “… Ḍang Anak Śrī…” (lihat foto 1.1). Menariknya salah satu bagian tengah yang terbaca menyebutkan kata “Anak” yang berarti anak atau keturunan (Zoetmulder, 1982). Namun siapakah tokoh anak yang diperkirakan berasal dari kasta Ksatria yang membangun salah satu candi perwara di Kompleks Percandian Plaosan Kidul ini (?). Keterbatasan sumber data tekstual masih menyulitkan identifikasi tokoh tersebut. Dengan demikian sebenarnya masih banyak misteri yang bisa diungkap dari Kompleks Candi Plaosan baik Lor maupun Kidul, serta dapat dijadikan sebagai bahan materi edukasi warisan budaya yang menarik.

Sebenarnya sudah banyak penelitian-penelitian maupun karya tulis yang membahas tentang Candi Plaosan terutama prasasti serta inskripsi-inskripsi kunonya. Sedikit kesejarahan dan ulasan penelitian-penelitian terdahulu tentang prasasti serta inskripsi kuno dari Candi Plaosan telah dimasukkan dalam sebuah hasil-hasil penelitian serta karya tulis ilmiah. Dalam hal ini misalnya Satari (2000) dalam sub-bab karya tulisnya yang menjelaskan tanggapan tentang Wangsa Sainlendra di Jawa tidak bisa lepas dari Prasasti Plaosan Lor, yang memberikan petunjuk mengenai Sailendra yang menguasai raja-raja lainnya. Selanjutnya juga ada Maziah (2018) yang menggunakan salah satu inskripsi kuno di Candi Plaosan Lor untuk memberikan petunjuk tentang adanya dharmma atau kebaikan yang dilakukan oleh Raja dari masa Mataram Kuno. Selanjutnya juga dari Soeroso et al (1985) yang juga memaparkan Prasasti Plaosan Lor dalam laporan penelitiannya mengenai hubungan antara Rakai Pikatan dan Pramodawardhani. Serta beberapa karya tulis lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu dalam karya tulis ini. Sepertinya tiga penelitian tersebut cukup dapat mewakili.

Keberadaan dari inskripsi-inskripsi kuno harus diangkat dalam edukasi warisan budaya, karena isinya sangat penting untuk disampaikan kepada masyarakat luas. Pengalaman dari penulis ketika pada suatu hari bersama salah satu mahasiswa arkeologi UGM berkunjung untuk mendokumentasikan inskripsi kuno tersebut, adalah ketika ada rombongan pengunjung yang kelihatannya dari kalangan mahasiswa melihat inskripsi kuno tersebut. Lalu mereka mengatakan bahwa itu adalah tulisan Pallawa dan bahasanya Sansekerta. Ternyata mereka belum tahu bahwa sebenarnya tulisan tersebut merupakan aksara Jawa Kuno dan bahasanya juga Jawa Kuno, yang merupakan hasil pengembangan ide dalam mengadopsi bentuk aksara Pallawa dan lebih mengutamakan bahasa Jawa Kuno yang sangat berbeda jauh dari Bahasa Sansekerta. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ternyata banyak para pengunjung atau masyarakat luas yang belum banyak mengetahui tentang bentuk aksara dan bahasa Jawa Kuno, selebihnya belum mengetahui tentang alih aksara dan alih bahasa dari inskripsi-inskripsi kuno yang ada di Kompleks Perwara Candi Plaosan. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan dan tujuan penulisan karya tulis ini.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, penulis dari Komunitas Jawa Kuno (Kojakun) Sutasoma atas undangan dari Komunitas Reracik pada tanggal 24 Maret 2019 mengadakan Trip Sejarah ke Candi Plaosan untuk memberikan materi tentang “Pembacaan Inskripsi Kuno di Candi Plaosan”. Pada acara ini Komunitas Reracik mengajak enam orang mahasiswa dari Jurusan Sejarah dari Universitas Sanata Dharmma dan satu orang dari masyarakat umum. Tujuan dari kegiaan ini adalah sebagai upaya untuk memberikan edukasi warisan budaya tentang inskripsi-inskripsi kuno di Candi Plaosan yang dapat dikaitkan dengan konsep pendidikan budaya dan karakter bangsa. Pengertian dari konsep pendidikan budaya dan karakter bangsa yaitu pendidikan dengan mengembangkan nilai-nilai budaya serta karakter dalam diri peserta didik dan masyarakat yang bertujuan untuk menanamkan nilai dan karakter pada diri mereka, sehingga mereka mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya sebagai bagian dari masyarakat, warga negara, maupun bangsa Indonesia yang religius, nasionalis, produktif, serta kreatif (Hasan et al, 2010). Konsep ini memiliki nilai-nilai yang sangat penting untuk disampaikan dan ditanamkan kepada peserta didik dan masyarakat. Kegiatan ini akan menjadi contoh sebuah agenda kegiatan edukasi, komunikasi, dan promosi warisan budaya kepada masyarakat. Hasil dari kegiatan ini akan dipaparkan lebih jelas pada sub-bab hasil kegiatan di bawah nanti.

METODE

Kegiatan pembelajaran atau edukasi warisan budaya pada inskripsi kuno di Candi Plaosan ini dilakukan menggunakan beberapa metode dan teknik dalam Education Toolkit. Tidak digunakan seluruhnya karena menyesuaikan jadwal dari panitia serta keterbatasan waktu peserta. Metode ini dimulai dari Pemanduan Berkeliling (Guided Tour), Dialog (Dialogue), Perjalanan mencari atau berburu mencari objek-tanpa pertanyaan (Scavenger or Treasure Hunts-Without Questions), Perjalanan mencari atau berburu mencari objek-dengan pertanyaan (Scavenger or Treasure Hunts-With Questions), Mendokomentasikan Aktivitas (Documentation Activity), Dari Aktivitas untuk Didiskusikan (from Activity to Discussion),  Analisis Objek (Object Analysis), Mengunjungi pemandu atau pemateri lainnya (Visitor Guiding Each Other) (Veldhuizen, 2017). Kedelapan tahap metode ini diadopsi dari delapan belas tahap yang dibuat oleh Veldhuizen.

Sementara itu teknik-teknik yang dilakukan sebagai penerapan dari metode di atas yaitu peserta diajak untuk berkumpul dan diberikan pemanduan secara umum mengenai kesejarahan Candi Plaosan dengan materi yang tertulis pada hand-out yang telah dibuat oleh pemateri. Lalu mengajak mereka berdialog secara santai sambil duduk di lapik arca Dwarapala Candi Plaosan Lor. Selanjutnya peserta diajak duduk di tempat lesehan dan berpapan tulis (white board) untuk dibekali materi tentang pengenalan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Selanjutnya masing-masing peserta diberikan tugas untuk mencari dan menemukan salah satu inskripsi kuno yang ada di candi perwara Kompleks Plaosan Lor, lalu diminta menuliskannya pada buku mereka atau selembar kertas, dan mengalihaksarakannya. Selanjutnya dari proses alih aksara tersebut apabila menemukan kesulitan bisa ditanyakan dan didiskusikan kepada pemateri. Setelah kegiatan itu selesai, dilanjutkan untuk berkumpul dan beristirahat untuk makan dan minum, serta setelah itu mendiskusikan pengalaman-pengalaman hasil aktivitas yang telah dikerjakan tadi. Pemateri membantu mengarahkan para peserta dalam proses alih aksara, alih bahasa, dan analisis untuk menemukan pengetahuan baru tentang Candi Plaosan. Setelah kegiatan ini selesai, para peserta untuk menyegaran pikiran dan menambah wawasan lebih luas tentang Candi Plaosan, mereka diajak berkeliling ke setiap bagian mulai candi induk, pagar, dan candi perwara Plaosan Lor hingga ke Candi Plaosan Kidul dengan dipandu oleh pemateri lain bernama M. Yusril Mirza (Mahasiswa S1 Arkeologi UGM).

HASIL KEGIATAN

Pelaksanaan kegiatan ini dimulai dengan pengumpulan para peserta yang telah terkumpul melalui pendaftaran yang dilaksanakan oleh panitia dari Komunitas Reracik. Brosure pengumuman kegiatan telah disebar melalui media sosial beberapa minggu sebelum kegiatan ini dimulai (lihat Gambar 1.2). Sebagian besar peserta merupakan mahasiswa dari Jurusan Sejarah Universitas Sanata Dharmma. Dengan demikian pemateri harus mempersiapkan materi yang berkaitan dengan basis keilmuan mereka sebagai upaya untuk menambah wawasan tentang kesejarahan terutama masa Indonesia Klasik atau masa Hindu-Buddha yang juga pernah diberikan pada mata kuliah yang diikutinya. Berkaitan dengan aspek materi Sejarah Indonesia Klasik atau masa Hindu-Buddha yang paling penting diambil dari Candi Plaosan ini adalah inskripsi-inskripsi kuno yang dapat diidentifikasi alih aksara dan terjemahannya, bahkan bisa diketahui maknanya. Selanjutnya peserta dibagikan hand-out yang telah dibuat oleh pemateri dan memandu mereka berkaitan dengan “Candi Plaosan Lor, Candi Sewu, dan Candi Prambanan (Selayang Pandang)” (lihat lampiran 1). Materi diberikan dengan santai sambil berdialog kepada para peserta di lapik arca Dwarapala Candi Plaosan Lor (lihat foto 1.2). Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk melakukan pendekatan kepada peserta dan mencari tahu tujuan-tujuan yang diharapkan oleh para peserta dalam mengikuti kegiatan ini. Tahap selanjutnya disusul dengan memberikan materi kepada mereka tentang pengenalan bentuk aksara dan bahasa Jawa Kuno (lihat foto 1.3). Dalam memberikan materi tentang pengenalan bahasa Jawa Kuno, dibantu dengan Kamus Besar Bahasa Jawa Kuno karya Zoetmulder (1982) yang menjadi rujukan utama para arkeolog epigrafi, filolog Jawa Kuno, dan sejarawan Indonesia Kuno dalam melakukan kajian penelitian-penelitian yang dihadapinya. Menjadi keutamaan dari tahap ini adalah menarik hati para peserta yang ikut agar lebih semangat untuk tahap-tahap berikutnya.

Tahap selanjutnya para peserta diberikan tugas oleh pemateri untuk mencari dan menemukan objek inskripsi kuno pada bagian candi perwara Plaosan Lor. Satu anak harus menemukan satu untuk selanjutnya didokumentasikan, lalu ditulis atau disalin pada buku atau kertas, dan dialih aksarakan sebisanya tanpa adanya pertanyaan (lihat foto 1.4 & 1.5). Para peserta yang mengalami kesulitan diminta untuk mencatat kesulitan-kesulitan yang dialami dan diminta untuk mengalihaksarakan inskripsi kuno tersebut sebisanya terlebih dahulu.

Selanjutnya pemateri sengaja mengikuti para peserta untuk melihat aktivitas-aktivitas mereka selama melaksanakan tugas. Pemateri menanyakan tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para peserta dan pada saat itu juga langsung mengatasinya dengan membenarkan hasil alih aksara yang telah dilakukan oleh para peserta. Berikutnya juga memberikan penjelasan-penjelasan mengenai arti dari masing-masing kata hingga dapat dirangkai menjadi kalimat. Pada kegiatan ini secara tidak sengaja pemateri menemukan adanya kesalahan pahat dari penulis inskripsi kuno tersebut. Hal ini terlihat adanya aksara yang kelupaan saat dipahat, selanjutnya dipahat dalam ukuran lebih kecil dan disematkan di bawahnya. Selain itu juga ada aksara yang ditulis ganda karena media penulisan pada batu sebelumnya sangat terbatas. Hal ini sebenarnya juga ditemukan pada beberapa prasasti dari masa Jawa Kuno lainnya, terutama dari masa pemerintahan Raja Balitung dan Raja Sindok. Penemuan kesalahan penulis atau pemahat pada masa Jawa Kuno dalam inskripsi kuno Candi Plaosan Lor tersebut sekaligus dapat dijadikan motivasi yang wajib disampaikan kepada para peserta, bahwa pada masa Jawa Kuno kesalahan menulis itu sudah terjadi. Dengan demikian untuk mereka yang belajar apapun pada masa kini jangan takut salah, dan jangan takut untuk mencoba belajar sesuatu hal yang positif. Lebih penting lagi jangan pernah malu untuk bertanya kepada orang yang tahu dan bersedia membagi pengetahuannya kepada mereka yang bertanya. Pada intinya ini merupakan sebuah motivasi hidup yang didapatkan dari hasil studi arkeologi, salah satunya dapat dijumpai pada kegiatan Trip Sejarah Candi Plaosan yang dilaksanakan oleh Komunitas Reracik.

Setelah dari lapangan peserta diajak untuk menikmati hidangan konsumsi yang telah disediakan oleh panitia. Selanjutnya ketika lelah, haus, dan lapar mereka selesai, maka tahap berikutnya yaitu mendiskusikan hasil dokumentasi dan alih aksara yang mereka bawa masing-masing (lihat foto 1.8 & 1.9). Hal ini untuk dialih-bahasakan bersama-sama sebagai upaya dalam mencari makna pada kalimat-kalimat tersebut. Sebuah hasil yang telah dicontohkan oleh pemateri bisa dilihat pada lampiran 1 pada karya tulis ini. Materi pada lampiran 1 tersebut sudah termasuk analisis tentang nilai-nilai dalam konsep pendidikan budaya dan karakter bangsa dari inskripsi-inskripsi kuno yang ditemukan di Kompleks Candi Plaosan. Ternyata makna dari adanya inskripsi-inskripsi kuno tersebut dapat diidentifikasi menggunakan studi komparasi atau perbandingannya dengan isi Prasasti Manjusrigrha (714 Śaka/792 Masehi) yang ditemukan pada Candi Sewu. Intinya yaitu mengenai kebaktian tulus dari para pejabat dan rakyat berbagai penjuru kepada Sri Maharaja pada masa Mataram Kuno.

Berikut ini contoh dari hasil analisis objek yang diberikan kepada para peserta, misalnya inskripsi kuno dari Kompleks Perwara Candi Plaosan Lor seperti di bawah ini (lihat foto 1.10 & 1.11). Pada foto 1.10 sebuah inskripsi kuno terbaca “Dharmma Śrī Mahārāja” (lihat foto 1.10). Kata “Dharmma” dalam bahasa Jawa Kuno memiliki arti: (1) Aturan Hidup dan Tingkah Laku Manusia; (2) Kebajikan, Kebaikan, Keadilan, dan Kesucian; (3) Dokrin Hukum atau Kebenaran dalam Ajaran Buddha, (5) Yayasan atau Bangunan Suci yang Berhubungan dengan Agama (Zoetmulder, 1982). Berdasarkan beberapa arti tersebut, yang lebih tepat dan berkaitan dengan konteks kalimatnya yang diikuti oleh kata Śrī Mahārāja, yaitu “Dharmma” yang berarti aturan hidup atau tingkah laku dari seorang raja. Hal ini berdasarkan perbandingannya dengan Prasasti Manjusrigrha dan inskripsi kuno pada bangunan stupa yang dibuat oleh Raja Rakai Pikatan pada saat menambahkan dua bangunan stupa pada kompleks candi ini seperti yang telah dipaparkan pada sub-bab sebelumnya. Mengenai hal ini dalam tahap analisis juga dijelaskan kepada para peserta.

Kalimat selanjutnya dalam inskripsi kuno yang ditemukan di kompleks Candi Perwara Plaosan Lor yaitu salah satunya yang bertuliskan, “(a)numoda Sang Pa Pangkur Pu Agam” (lihat foto 1.11). Kalimat tersebut dapat dianalisis dalam kesalahan penulisan oleh penulisnya. Sebenarnya penulis akan menuliskan “anumoda Sang Pangkur Pu Agam”, namun aksara “Pa” setelah kata “Sang” tidak sempurna karena terpahat pada bagian spasi antar dua batu yang berbeda, maka penulisnya menambahkan aksara ”Pa” lagi pada permukaan batu berikutnya. Arti dari kata “Anumoda” yaitu: menyatakan rasa simpati kepada…, mengizinkan dengan senang hati, menyatakan telah setuju, cocok, dan simpati. Dengan Demikian, kalimat tersebut berarti: Sebuah rasa simpati (memberikan bangunan suci) dari Sang Pangkur (pegawai istana bertugas menarik pajak) bernama Pu Agam (Zoetmulder, 1982).

Tahap terakhir dari kegiatan edukasi warisan budaya ini adalah mengunjungi objek-objek dengan pemandu atau pemateri lainnya. Dalam hal ini waktu dan kesempatan diserahkan kepada M Yusril Mirza (Mahasiswa S1 Arkeologi UGM) yang akan mengajak para peserta berkeliling dan menjelaskan tentang relief-relief di dinding Candi Plaosan Lor, Bagian dalam ruang Candi Induk Plaosan Lor, hingga adanya penambahan lantai batu pada halaman kompleks Candi Plaosan Kidul (lihat foto 1.12 & 1.13). Kegiatan ini merupakan tahap penyegaran atau refresing kepada para peserta agar tidak jenuh setelah melakukan identifikasi dan analisis terhadap kalimat dalam inskripsi kuno yang terdapat pada Candi Plaosan (dalam hal ini yang digunakan sebagai contoh hanya di Candi Plaosan Lor). Tidak hanya sebagai refresing saja, bahkan juga sebagai upaya untuk menambah wawasan kepada para peserta yang dapat menambah khasanah pengetahuannya dari kegiatan ini.

Setelah kegiatan ini selesai, Komunitas Reracik mempublikasikan foto-foto hasil kegiatan ke media sosial seperti di Facebook, Instagram, maupun yang lainnya. Sebenarnya hal ini juga dapat dijadikan sebagai upaya dalam promosi warisan budaya melalui kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Foto-foto yang berhasil dikemas dengan indah dan rapi dan dipublikasikan seperti di bawah ini.

PENUTUP

Berdasarkan paparan penjelasan yang telah disampaikan di atas, ternyata sangat banyak sekali unsur-unsur pada suatu warisan budaya bendawi berupa bangunan candi yang dapat dijadikan sebagai objek atau materi dalam edukasi warisan budaya kepada para pengunjung serta masyarakat luas. Pelaksanaan kegiatan edukasi warisan budaya bisa dilaksanakan oleh instansi maupun komunitas tertentu secara mandiri maupun kerjasama. Seperti kegiatan Trip Sejarah Candi Plaosan di atas diselenggarakan atas kerjasama Komunitas Reracik yang mendapat dukungan pemateri dari Komunitas Jawa Kuno (Kojakun) Sutasoma. Melalui kajian kritis pada isi inskripsi-inskripsi kuno di kompleks Candi Plaosan yang dikomparasikan atau diperbandingkan dengan isi Prasasti Manjusrigrha dari Candi Sewu, menunjukkan bahwa Candi Plaosan tidak hanya sebagai “Candi Simbol Cinta antara Raja Rakai Pikatan dengan permasurinya Pramodawarddhani”, seperti yang telah banyak dipublikasikan pada buku maupun media-media terdahulu. Namun penelusuran ini telah ditemukan bahwa Kompleks Candi Plaosan (terutama Plaosan Lor) dari bagian candi induk hingga candi perwaranya melambangkan hubungan yang harmonis antara seorang tokoh raja pada masa Mataram Kuno dengan para pejabat tingginya, dengan para pejabat daerahnya, serta juga kepada rakyatnya. Mereka sama-sama memiliki rasa bakti, simpatisme, toleransi, peduli sosial, tanggung jawab, serta bekerja keras untuk membangun kehidupan bersama. Hal inilah sangat penting untuk disampaikan kepada para pengunjung serta masyarakat luas sebagai upaya untuk menanamkan nilai-nilai tersebut kepada mereka serta memberikan rasa bangga atas keteladanan yang luhur dan pernah diberikan serta diajarkan oleh para nenek moyang bangsa Indonesia melalui hasil kajian tentang inskripsi-inskripsi kuno di Candi Plaosan.

Selanjutnya penulis menyarankan untuk diberikannya papan informasi yang memuat peta kompleks Candi Plaosan Lor, peta keberadaan dan daftar daftar inskripsi kuno, sekaligus narasi hasil alih aksara dan terjemahannya. Hal ini untuk memudahkan para pengunjung dalam menemukan informasi-informasi sejarah dan kebudayaan kuno yang ingin dicarinya. Sebenarnya sebelum acara ini, ada kegiatan lain yang juga merupakan bagian dari agenda Komunitas Reracik, yaitu Pembuatan Sketsa dengan objek bangunan Candi Plaosan Lor. Sebenarnya hasil kajian ini juga bisa diilustrasikan dalam bentuk sketsa gambar yang menceritakan rakyat bersama para pejabat daerah serta pegawai istana berduyun-duyun datang untuk membangun monumen simbol kesetiaan ini dan mengukirkan nama-nama para pembesar mereka pada bagian bangunan yang mereka buat. Hal ini rasanya lebih menghidupkan cerita dan memberikan dayatarik kepada anak-anak generasi millenial ini untuk lebih tertarik untuk mempelajari sejarah dan budaya yang mengandung nilai-nilai yang luhur dari para nenek moyang mereka pada masa Mataram Kuno yang tervisualisasi dari Candi Plasoan.

Oleh: A’ang Pambudi Nugroho

Daftar Rujukan

Casparis, J.G.d. 1958. “Short Inscriptions from Tjandi Plaosan-Lor”, Bulletin of the Archaeological Service of the Republic of Indonesia IV. Jakarta: Dinas Purbakala.

Casparis, J.G.d. 2008. “Short Inscriptions from Tjandi Plaosan-Lor”, Capita Selecta: Bulletin of the National Research Centre of Archaeology of Indonesia: 229-267. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Danyarati, S. 2008. “Relief Tokoh pada Bilik Candi Induk Plaosan Lor: Upaya Identifikasi dari Perspektif Keagamaan”, Skripsi. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Hakim, A.L. 2014. “Menelusuri Kisah Roman Terindah di Candi Plaosan”, Kompasiana, https://www.kompasiana.com/ariflukman, Diakses 20 Juli 2019, Pukul 13.33 WIB.

Hardiati, E.S., Djafar H., Soeroso, Ferdinandus, P.E.J., & Nastiti, T.S. 2010. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. (E.S. Hardiati, Ed.). Jakarta: Balai Pustaka.

Hasan, S.H., Wahab, A. A., Mulyana, Y., Hamka, M., Kurniawan, Anas, Z., Nurlaili, L., Listiyani, M., Jarwadi, Chatarina, M., Waluyo, H., Wirantho, S. A., Paresti, S., Ismail, B., & Indarti, E. 2010. Bahan Pelatihan: Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.

Hatta. 2019. “Candi Plaosan: Bukti Kekuatan Cinta beda Keyakinan dari Abad 9 Masehi”, https://bonvoyagejogja.com/candi-plaosan-bukti-kekuatan-cinta-beda-keyakinan-dari-abad-9-m. Diakses 20 Juli 2019, Pukul 13.15 WIB.

Jogjig. 2019. “Candi Plaosan: Kisah Candi Paling Romantis”, http://jogjig.com/candi-plaosan-kisah-candi-paling-romantis. Diakses 20 Juli 2019, Pukul 13.38 WIB.

Maziyah, S. 2018. “Implikasi Prasasti dan Kekuasaan pada Masa Jawa Kuna”, ANUVA II: 177-192.

Nastiti, T.S. 2010. “Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Jawa Abad 9-10 M”, Menjaga Warisan Budaya Umat manusia: 45-54. Jakarta: Bentara Budaya Jakarta.

Pramx. 2015. ”Simbol Cinta Abadi”, DetikTravel, https://travel.detik.com/dtravelers, Diakses 20 Juli 2019, Pukul 13.18 WIB.

Santiko, H. 2010. “Sifat Keagamaan Candi Sewu dan Candi Prambanan”, Menjaga Warisan Budaya Umat manusia: 45-54. Jakarta: Bentara Budaya Jakarta.

Sari, M.N. 2017. “Menyusuri Legenda Cinta di Candi Kembar Plaosan”, Backpacker Jakarta, https://backpackerjakarta.com/candi-plaosan, Diakses 20 Juli 2019, Pukul 13.31 WIB.

Satari, S.S. 2000. “Masa Klasik Indonesia dalam Lingkuo Asia Tenggara”, Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi: 143-165. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Soeroso, Nastiti, T.S., Utomo, B.B., Kartakusuma, R., & Ferdinandus, P.E.J. 1985. “Laporan Penelitian Candi Sari, Prambanan Yogyakarta”. Berita Penelitian Arkeologi 32. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Utomo, B.B. 2010. “Paṇamkaran: Raja yang Membangun Stūpa dan Candi”, Menjaga Warisan Budaya Umat manusia: 45-54. Jakarta: Bentara Budaya Jakarta.

Veldhuizen, A.v. 2017. Education Toolkit. (L. Tonckens & G. Van Dijk, Eds.). Holland: LCM, the Erfgoedhuis Zuid-Holland, & ICOM-CECA.

Zoetmulder, P.J. 1982. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Terj. Darusuprapta & Sumarti S. 1994. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Lampiran 1: Materi Pengenalan

CANDI PLAOSAN LOR, CANDI SEWU, DAN CANDI PRAMBANAN

(Selayang Pandang)

Oleh:

Aang Pambudi Nugroho

Komunitas Jawa Kuno (Kojakun) Sutasoma

Candi Plaosan Lor merupakan salah satu bangunan candi berlatar belakang keagamaan Buddha peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Mḍang). Bangunan ini diperkirakan dibangun pada pertengahan abad IX Masehi. Candi ini memiliki dua bangunan besar yang merupakan bangunan utama dan dikelilingi pagar dan selanjutnya dikelilingi candi perwara berjumlah 58 bangunan dan stūpa berjumlah 58 bangunan. Menurut para ahli, Kompleks Candi Plaosan dibangun oleh para penguasa daerah dan pejabat istana lengkap dengan gelarnya yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Hal ini dibuktikan dengan adanya inskripsi-inskripsi kuno yang berada di bagian candi perwara dan stūpa kompleks Candi Plaosan Lor. Inskripsi-inskripsi kuno tersebut juga menyebutkan tentang ketulusan hati dari para ksatria dan pejabat tinggi dalam ber-dharmma kepada Sri Maharaja. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Candi Plaosan Lor merupakan sebuah monumen keagamaan yang tidak hanya menunjukkan keagungan Agama Buddha, akan tetapi juga sebagai simbol ketulusan dharmma dari para ksatria yang terdiri dari para pejabat istana dan para pimpinan wilayah kepada seorang raja besar di masa Mataram Kuno.

Candi Plaosan bukan merupakan kompleks bangunan keagamaan yang tunggal, akan tetapi masih memiliki korelasi atau hubungan dengan bangunan-bangunan candi yang berada di sekitarnya. Bangunan kompleks candi besar yang berada di sebelah selatannya yaitu Candi Sewu yang berlatar keagamaan Buddha dan Candi Prambanan yang berlatar keagamaan Hindu. Terkait dengan Candi Sewu telah diceritakan dalam Prasasti Manjusrigrha (714 Śaka/792 Masehi) (Santiko, 2010). Dari hasil pembacaan Boechari dan Kusen, inti dalam prasasti tersebut yaitu mengenai kegiatan gotong-royong dalam menyelesaikan Bangunan Prasada bernama Wajrasana Manjusrigrha. Setelah selesainya pembuatan bangunan tersebut, maka orang di seluruh penjuru mata angin datang untuk mengagumi atau memberikan persembahan (bangunan) dari orang-orang yang telah meninggal dan berkorban. Akhir kalimat dalam prasasti Manjusrigrha ditutup dengan uraian yang menjelaskan tentang upaya untuk selalu menjunjung perintah nareswara atau raja yang meskipun telah menjelma ke alam nirwana (didewakan) namun perintahnya akan dijunjung terus hingga mati. Perintah tersebut adalah perbuatan mulia sebagai balas jasa atas perlindungannya selama ini yang merupakan suatu keutamaan (dharmma). Berdasarkan uraian di atas menunjukkan adanya persamaan latar belakang keagamaan Buddha serta dengan adanya candi induk dan candi perwara dalam pembangunan kompleks Candi Sewu dan Candi Plaosan Lor. Dengan demikian maka diperkirakan bahwa wujud pernyataan kebaktian yang tulus kepada Sri Maharaja yang diabadikan di sebuah bangunan percandian bisa dituliskan dalam prasasti tunggal dengan uraian yang cukup lengkap serta juga bisa dituliskan dalam bentuk inskripsi kuno secara singkat pada bagian candi perwara. Candi Sewu dan Candi Plaosan Lor menurut para ahli diperkirakan dibangun oleh Rakai Panangkaran Dyah Śangkhara Śrī Sanggrāmadhananjaya.

Pada sebelah selatan Kompleks Candi Sewu terdapat Kompleks Candi Prambanan yang memiliki latar keagamaan Hindu. Keberadaan candi ini dihubungkan dengan Prasasti Siwagêrha yang memuat angka tahun dengan sengkalan “wwalung gunung sang wiku” bernilai titi mangsa 778 Śaka atau 856 Masehi yang diresmikan oleh Jatiningrat atau Rakai Pikatan (Nastiti, 2010). Beragamnya tinggalan situs kompleks bangunan candi baik berlatar belakang keagamaan Hindu maupun Buddha antara Candi Plaosan, Candi Sewu, Candi Prambanan, serta beberapa candi-candi lain beserta komponen-komponen di sekitarnya membentuk suatu lanskap arkeologi atau lanskap budaya yang menunjukkan adanya suatu toleransi keagamaan dalam kehidupan masyarakat pada masa Mataram Kuno.

            Penggalian nilai-nilai budaya dalam Edukasi Warisan Budaya yang dilaksanakan di Candi Plaosan Lor ini terdiri dari:

  • Nilai Religius, di mana dalam pembangunan candi seperti Candi Plaosan dan sekitarnya terdapat nilai-nilai agama yang dipegang kuat sehingga proses pembuatannya membutuhkan banyak pertimbangan-pertimbangan sesuai dengan pedoman-pedoman keagamaan di masa Mataram Kuno.
  • Nilai Toleransi, terdapatnya kompleks candi berlatar keagamaan Buddha (Candi Plaosan Lor dan Candi Sewu) yang berdekatan dengan kompleks candi berlatar keagamaan Hindu (Candi Prambanan). Menunjukkan adanya rasa menghargai dan kerukunan antar umat beragama.
  • Nilai Disiplin dan Kerja Keras, terbukti dengan adanya kepatuhan terhadap dharmma dan ketentuan keagamaan serta dengan adanya upaya yang sungguh-sungguh dalam menciptakan kompleks monumen keagamaan yang berkembang pada masa Mataram Kuno.
  • Semangat Kebangsaan dan Cinta Tanah Air, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dengan menunjukkan suatu kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi. Semua itu tergambar dalam adanya inskripsi-inskripsi kuno di Candi Plaosan Lor yang dikomparasikan dengan Prasasti Manjusrigrha dari Candi Sewu.
  • Menghargai Prestasi, Peduli Sosial, dan Tanggung Jawab. Menghasilkan sesuatu yang berguna untuk kesejahteraan orang lain, memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan, dan melaksanakan tugas, kewajiban atau dharmma seperti yang telah tergambar dalam adanya inskripsi-inskripsi kuno di Candi Plaosan Lor yang dikomparasikan dengan Prasasti Manjusrigrhan dari Candi Sewu.

Tulisan ini dipersembahkan oleh penulis dalam upaya mendukung Edukasi, Komunikasi, dan Promosi Warisan Budaya pada Kompleks Percandian Plaosan Lor dan Kidung. Selanjutnya tulisan ini didedikasikan untuk Pemerintah Daerah, Instansi Purbakala dan Arkeologi, Akademisi, Masyarakat, dan Para Penandu Wisata Khususnya yang berada di Kompleks Candi Plaosan (Lor dan Kidul) serta pada umumnya dari Provinsi D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Semoga dengan adanya tulisan ini kita semakin sadar dan bangga dengan kebesaran masa lalu sebagai upaya untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa kini dan mendatang yang lebih baik.

Salam Budaya….!!!

[1] Makalah ini merupakan tugas mata kuliah Edukasi, Komunikasi, dan Promosi Warisan Budaya

(Kerjasama Komunitas Jawa Kuno Sutasoma & Komunitas Reracik)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori