Oleh: hurahura | 25 Maret 2011

Pemprov DKI Baru Tahu Ada Benteng Bersejarah di Cakung

Benteng di Cakung – Foto: Warta Kota

Wartakotalive.com, Kamis, 24 Maret 2011 – KEBERADAAN bangunan bersejarah di RW 05 Kelurahan Terate, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, ternyata luput dari pendataan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Kepala Suku Dinas Pariwisata Jakarta Timur, Kris Irawan, kepada wartawan, Rabu (23/3), mengaku baru tahu soal bangunan yang disebut ‘benteng sembilan’ itu. Meski begitu, Kris akan berkoordinasi dengan dinas kebudayaan untuk menyelamatkan bangunan peninggalan Belanda yang berjumlah sembilan benteng itu.

“Saya baru tahu ada bangunan bersejarah ini di Rawaterate. Ini sebenarnya bagus sekali untuk pengembangan pariwisata di Jakarta Timur,” kata Kris.

Menurut Kris, bangunan tua peninggalan masa lalu itu, idealnya mesti diselamatkan. Karenanya ia berharap pihak terkait untuk berupaya melestarikan bangunan peninggalan itu. “Saya akan coba cari tahu, apakah benar bangunan benteng itu akan digusur? Idealnya bangunan seperti ini mesti diselamatkan. Tapi ini terkait dengan kepemilikan lahan bangunan itu,” kata Kris.

Kabar benteng sembilan terancam digusur itu disampaikan oleh sejumlah warga RW 05 Kelurahan Rawaterate. Menurut warga, bangunan itu akan digusur oleh pihak swasta. “Informasinya sih mau digusur dan lahannya dipakai buat pool peti kemas,” ujar salah seorang warga.

Informasi yang dihimpun Warta Kota, lahan bangunan lama itu berdiri adalah milik oleh sebuah perusahaan swasta.

Pantauan Warta Kota, Rabu (23/03) menunjukkan, kesembilan bangunan dalam satu kompleks benteng itu berada di lahan penuh rawa dan pepohonan liar. Keberadaan bangunan peninggalan bersejarah ini tampak tak terawat dan berada di lahan kosong di belakang sejumlah pabrik.

Sekretaris Kecamatan Cakung, Tri Saptanti, juga mengaku belum tahu mengenai keberadaan bangunan bersejarah itu dan akan melakukan pencekan terlebih dahulu kepemilikan lahannya, termasuk kabar penggusuran bangunan itu. “Saya belum dengar. Nanti ya. Saya akan coba cek dulu, mas,” kata Tanti saat dihubungi, Rabu (23/03) sore.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, Candrian Attahiyyat, mengatakan, pihaknya pernah meneliti ‘benteng sembilan’ pada tahun 1993 sampai 1994. Saat itu, menurut Candrian, lahan dimana bangunan itu berdiri adalah milik TNI. “Tapi sekarang siapa yang memiliki lahan itu saat ini, saya kurang tahu,” ujarnya seraya menambahkan, idealnya bangunan tua peninggalan Belanda itu tetap tidak boleh digusur.


Gudang Amunisi

Bangunan ‘benteng sembilan’ ternyata dulunya bukanlah sebuah benteng atau bangunan pertahanan untuk perang.

Sembilan bangunan ini adalah gudang amunisi (Ammonitie Opslagplaaps) yang memang dibentengi oleh satu bangunan berupa tembok yang mengelilinginya dan parit selebar 10 meter yang juga mengelilingi untuk menghindari sabotase atau untuk keamanan.

Candrian Attahiyyat mengatakan, bangunan ini dibangun oleh pihak Belanda pada tahun 1947. Candrian mengatakan saat itu Belanda mengira perang masih berlanjut. “Dari surat pengesahan untuk pembangunannya tertulis tertanggal 24 Januari 1947,” kata Candrian. (Budi SL Malau)

Iklan

Responses

  1. semoga tak ter gerus kepentungan dan kami berharap bangunan besejarah ini abadi selamanya sebagai wahana cinta negeri ini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori