Oleh: hurahura | 31 Agustus 2010

Keris Masih Dipercaya Sakral

TERLIHAT sejumlah pusaka keris sangat elok dan eksotik di etalase kaca pada pameran tosan aji atau keris yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah (Dinbudpar), Sabtu (31/7). Dalam pameran itu, Dinbudpar juga sekaligus mengadakan seminar dengan tema “Membangun Kembali Karakter Bangsa Melalui Budaya Tosan Aji. Dari dua puluh keris itu yang terpajang di etalase di lantai dua gedung utama Dinbudpar tersebut terdapat keris yang diberi nama Cundrik.

Menariknya motif keris itu meskipun dibuat pada zaman sekarang namun memiliki khas, diantaranya terlihat pada rangka atau sarung keris itu berwarna kuning keemasan dan besi keris tersebut berwarna hitam. Keris ini buatan Mpu Toto Brojodiningrat dari Solo, menurut Toto, keris itu memiliki makna filosofi bisa melindungi pemiliknya dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin. “Keris itu saya berikan kepada Gubernur Jateng, Bibit Waluyo sebagai cinderamata,” katanya di sela-sela acara pameran.

Dari perkembangan sejarah, tosan aji atau keris memang digunakan untuk melindungan diri. Sebelum peradaban manusia berevolusi menjadi lebih maju senjata itu masih terbuat dari batu dan kayu untuk mempertahankan diri.

Gubernur Jateng, Bibit Waluyo membandingkan bahwa mpu yang membuat keris dahulu juga berbeda kemampuan dengan mpu sekarang. Perbedaan itu dari proses pembuatan hingga kekuatan yang ada di dalam keris itu. Mpu pada zaman dulu sering melakukan laku seperti puasa sehingga bisa berhubungan dan dekat dengan Tuhan. “Sehingga mpu membuat dengan tangan saja sudah bisa membentuk besi sehingga bisa berubah menjadi keris,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Dinbudpar Jateng, Maryanto mengatakan berbagai jenis keris itu nanti ke depannya akan didesain agar lebih menarik lagi sehingga wisatawan yang datang berlibur membeli cindera mata khas Jateng berupa keris. Mengingat provinsi dan negara lain seperti Kalimantan dan Australia terutama Suku Aborigin, masing-masing terkenal dengan mandau dan bumerang.

“Ciri khas Jateng adalah berupa keris,” ungkapnya.

Acara tersebut sekaligus mengukuhkan pengurus sekretariat bersama paguyuban keris Jawa Tengah (Kertabrata). Adapun pengurus terdiri atas 35 orang dari 28 Kabupaten/Kota Se-Jateng dengan Sekjen terpilih, Stefanus Sukirno. Dengan harapan, Kertabrata bisa melestarikan warisan leluhur tosan aji ini dan bisa mendukung agar pengrajin yang bergerak di bidang usaha kecil dan menengah bisa lebih sejahtera. Mereka bisa menjual hasil karya dengan membuat keris sebagai cinderamata bagi wisatawan.

Sedangkan untuk materi seminar itu disampaikan oleh Mpu Suyanto yang menjelaskan teknis pembuatan keris dan Mpu Toto Brojodiningrat menyampaikan makna filosofi dari sebuah keris. Seminar itu diikuti oleh puluhan orang pengurus kertabrata dan pecinta keris di Jawa Tengah.

(suaramerdeka.com)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori