Oleh: hurahura | 18 April 2012

Polisi di Batavia (1)

Warta Kota, Rabu, 18 April 2012 – Gangguan keamanan sering terjadi di Batavia, antara lain pencurian hasil perkebunan dan pembakaran gudang penyimpanan. Hal ini jelas amat meresahkan warga, seperti orang-orang Eropa, orang-orang Asia, bahkan kaum bumiputra sendiri. Mulailah saat itu dilakukan berbagai cara untuk mengendalikan keamanan. Apalagi sejak 1860-an koran-koran di Belanda dan Hindia Belanda sering kali memuat berita tentang perampokan bersenjata diikuti penganiayaan dan pembunuhan. Koran Hindia pada 1869 memberitakan seseorang bernama Dirham dalam perjalanan pulang ke rumahnya di Jalan Pos ke Batavia diserang oleh lima orang, dianiaya, dan dirampok (Polisi Zaman Hindia Belanda, 2011).

Pada masa itu memang pemeliharaan keamanan dan penanganan ancaman (harta dan nyawa) diurus secara serampangan. Hasil kerja sama antara partikelir, pemerintah kolonial, pengusaha perkebunan, dan pengusaha lokal masih belum menuai hasil menggembirakan.

Dalam bentuk yang paling sederhana, polisi pamongpraja dan polisi bumiputra sudah ada di Batavia. Pemerintah kolonial sering meminta bantuan jasa mereka. Bahkan sejak akhir abad ke-17 di kawasan perkotaan dapat ditemukan kelompok-kelompok bersenjata dan korps sukarelawan, yakni warga yang beragama Kristen. Mereka merupakan anggota dinas pelayanan jasa keamanan. Selain itu, tersebar kelompok bersenjata warga bumiputra dengan tambahan tugas-tugas sipil, misalnya pasukan tombak dan serdadu polisi.

Pasukan demikian tidak memiliki kewenangan penyidikan. Tugas mereka di Batavia adalah menjaga gudang-gudang pemerintah, kantor pemerintahan, dan mengawal transportasi. Sesekali mereka memiliki tugas-tugas militer, misalnya diperbantukan untuk memulihkan ketertiban dan keamanan. Komando tetap dipegang oleh perwira-perwira Eropa.

Tugas lain dari polisi adalah menghalau pemberontakan, misalnya yang terjadi pada 1870 ketika para petani memberontak di tanah-tanah partikelir di sekeliling Batavia. Setahun sebelumnya, mereka menghalau sekitar 170 orang yang bersenjatakan tombak dan golok yang bergerak menuju Meester Cornelis (sekarang Jatinegara). Ketika itu jumlah polisi memang relatif banyak, apalagi kelompok elit Batavia sedang bersiap merayakan ulang tahun Batavia ke-250. Tindakan kriminal yang paling banyak ditangani pihak kepolisian adalah perampokan, pembunuhan, dan pencurian. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: