Oleh: hurahura | 26 Februari 2016

Candi Kethek dengan Aroma Mistis

Kethek-01Papan penunjuk ke Candi Kethek dari teras keempat Candi Cetho, cukup informatif

Candi Kethek berlokasi di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah). Untuk mencapai candi ini, terlebih dulu pengunjung harus memasuki Candi Cetho. Sampai pada teras keempat, terdapat gerbang yang terhubung dengan jalan setapak menuju Candi Kethek. Dari situ pengunjung harus berjalan kaki melewati jalan setapak sejauh sekitar 300 meter. Meskipun relatif pendek, jalan menuju candi ini turun naik sehingga membutuhkan ketahanan fisik.

Candi ini menghadap ke Barat dan berbentuk empat teras berundak. Ukurannya sekitar 20 meter x 10 meter dengan tinggi 5 meter. Maklum waktu itu tidak membawa rollmeter. Masing-masing teras dihubungkan dengan tangga. Diperkirakan pada teras keempat pernah berdiri bangunan induk (utama). Sekarang di tempat tertinggi itu didirikan sebuah stana kecil dengan kemuncak mahkota berwarna keemasan. Pada saat-saat tertentu, segelintir masyarakat melakukan ritual di sini.

Kethek-02Papan penunjuk selanjutnya di dekat loket karcis

Di sisi kanan candi terdapat jalan setapak sebagai alternatif untuk menuju ke teras paling atas. Di belakang teras keempat terdapat jalan setapak untuk menuju puncak Gunung Lawu. Namun karena terlalu curam, jalur ini jarang sekali digunakan oleh para pendaki.

Nama Kethek diberikan oleh penduduk setempat. Dalam bahasa Jawa, kethek berarti kera. Kata penduduk, dulu di areal candi banyak ditemukan kera. Namun ketika kami berkunjung ke sana, tidak ada seekor kera pun terlihat.

Kethek-03
Jalan setapak menuju Candi Kethek, cukup licin bila turun hujan

Keberadaan candi ini diketahui sejak 1842 oleh Verbeek, van der Vlis, dan Hoepermans ketika melakukan penelitian di daerah Gunung Lawu. Entah sejak kapan candi ini beraroma mistis. Mungkin dihubungkan dengan Candi Sukuh dan Cetho yang lebih dulu dipakai sebagai tempat sembahyang atau bersemedi. Pada 1970-an memang sedang ramai-ramainya orang mencari wangsit. Akibatnya candi ini pernah “dipugar” oleh asisten pribadi Presiden Soeharto, Soedjono Hoemardani.

Sesungguhnya ekskavasi atau penggalian arkeologis pernah dilakukan di sana. Ketika itu Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah bekerja sama dengan Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada dan Pemerintah Kabupaten Karanganyar. Kegiatan penelitian berlangsung pada 2005 dengan tujuan untuk mengetahui batas-batas bangunan.

Dari kegiatan tersebut, arkeolog menyimpulkan bahwa Candi Kethek bersifat Hindu. Hal ini didasarkan pada temuan arca kura-kura pada undakan paling bawah di teras pertama. Kura-kura merupakan awatara atau jelmaan Dewa Wisnu, salah satu dewa tertinggi dalam ajaran Hindu. Kura-kura inilah yang menopang Mandaragiri dalam pengadukan laut oleh para dewa dan raksasa untuk mendapatkan amerta (air untuk kehidupan abadi) dalam kisah Samudramanthana. Kisah Samudramanthana ini menunjukkan fungsi Candi Kethek sebagai tempat peruwatan untuk membersihkan dan membebaskan seseorang dari kesalahan atau dosa.

Hingga saat ini penelitian mengenai Candi Kethek masih terus dilakukan, terutama untuk mencari prasasti atau artefak yang memberikan informasi mengenai tata letak dan riwayat candi.

Candi Kethek memiliki struktur tata ruang serupa dengan Candi Cetho dan Candi Sukuh yang berada di satu kawasan, yaitu punden berundak yang dianggap sebagai ciri khas bangunan warisan budaya megalitik di Nusantara. Dari kemiripan itu, waktu pendiriannya pun diperkirakan hampir sama dengan kedua candi tersebut, yaitu sekitar abad ke-15 sampai ke-16 Masehi.

Candi Kethek dibuka untuk umum setiap hari pukul 09.00 sampai dengan pukul 17.00 WIB. Untuk memasuki Candi Kethek, pengunjung dikenakan tiket masuk Rp1.500.

Kethek-06

Candi Kethek

Kethek-07

Bagian puncak Candi Kethek


Daftar Pustaka

http://www.karanganyarkab.go.id

https://id.wikipedia.org

Penulis: Djulianto Susantio
Berdasarkan laporan tim
Kelompok Pencinta Museum Indonesia (KPMI)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: