Oleh: hurahura | 3 April 2012

Indikasi Kecurangan dalam Lelang Artefak dari Perairan Cirebon di Singapura

Artefak cagar budaya hasil temuan dari perairan Cirebon, akhirnya dilelang di Singapura. Sebenarnya benda-benda tersebut pernah dilelang di Indonesia tahun 2010 lalu. Diperkirakan seluruhnya bernilai Rp 720 milyar. Namun karena waktu itu peserta lelang disyaratkan harus memberikan uang jaminan 20% (sekitar Rp 140 milyar), maka tidak ada peserta yang berminat.

Benda-benda kuno tersebut berasal dari kapal kargo asal Tiongkok yang tenggelam pada abad ke-10. Sekitar 250 ribu benda, terdiri atas keramik, kristal, permata, emas, dan berbagai artefak itu pertama kali ditemukan oleh para nelayan. Awalnya mereka menemukan bangkai sebuah kapal sedalam 187 kaki di bawah laut. Selain dari Tiongkok, benda-benda kuno lainnya berasal dari India dan wilayah Asia Barat. Menurut Luc Heymans, direktur Cosmix Underwater Research Ltd., peninggalan tersebut merupakan harta karun terbesar yang pernah ditemukan di Asia Tenggara dalam hal kuantitas dan kualitas.

Sesuai kesepakatan dengan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda-benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (Pannas BMKT), maka ditunjuk PT Paradigma Putra Sejahtera (PPS) untuk bekerja sama dengan Cosmix Underwater Research Ltd. Seluruh benda yang diangkat akan dibagi dua, yakni untuk perusahaan investor (eksplorer) dan Pemerintah RI. Dengan catatan, artefak-artefak yang langka dan unik diprioritaskan menjadi koleksi negara.

Koleksi yang dilelang di Singapura itu mencakup rubi, mutiara, perhiasan emas, batu kristal dari dinasti Fatimiyah, gelas dari Iran, dan porselen indah kekaisaran Tiongkok peninggalan sekitar tahun 976 M. Benda-benda lain berupa vas bunga terbesar dari Dinasti Liao (907-1125) dan keramik Yue Mise dari era Lima Dinasti (907-960) dengan warna hijau khusus untuk Kaisar. Ada juga 11.000 mutiara, 4.000 rubi, 400 safir merah, dan lebih dari 2.200 batu akik.


Kecurangan

Hulu pedang

Namun penjualan benda-benda kuno di Singapura itu mengindikasikan kecurangan. Sebagai contoh adalah hulu pedang–tampak dalam gambar–yang saat ditemukan berjumlah dua. Kondisi yang satu masih bagus, sementara koleksi satunya relatif jelek. Padahal menurut kesepakatan, seandainya ada dua barang, maka yang terbaik harus jadi koleksi negara. Ironisnya, yang terjadi kebalikannya. Benda yang jelek malah jadi koleksi negara.

“Saya tidak tahu siapa yang mengambil keputusan tersebut. Saya bertugas memilih dengan segala kemampuan dan pertimbangan yang ada. Konon kabarnya, artefak yang dipilih kemudian masuk dalam daftar lelang, ditukar dengan cetakan yang bertulisan asmaul husna. Padahal sesungguhya cetakan tersebut juga sudah termasuk yang dipilih untuk koleksi negara,” ujar arkeolog Bambang Budi Utomo.

Menurut Bambang, kejanggalan lain adalah tim pemilih tidak diberi akses untuk menyeleksi perhisan yang disimpan di Deposit Box Bank Mandiri.

Prasasti emas yang katanya disimpan di Museum Bank Mandiri, sampai sekarang belum ketahuan rimbanya.

Sementara itu epigraf Titi Surti Nastiti mempertanyakan prasasti emas dari abad 9-10 M. Dia pertama kali diperlihatkan foto artefak kuno itu oleh Horst Liebner. Katanya prasasti itu ada di Museum Bank Mandiri. Tapi terakhir tanya ke Direktorat Perlindungan Bawah Air, menurut Titi, benda itu tidak ada. Jadi dimanakah prasasti itu? Siapa yang bertanggung jawab atas kehilangan data yang berharga ini?

Bambang mengaku sungguh merasa sakit hati dikhianati seperti itu. Hal tersebut pernah disampaikan langsung ke Fadel Muhammad pada waktu wawancara di TV One.

Tentunya kecurangan ini perlu ditelusuri dan diusut tuntas. Persoalannya, bagaimana barang segitu banyaknya (lebih dari 250.000 buah atau beberapa kontener) bisa lolos sampai Singapura. Padahal tidak pernah sekalipun ada perorangan atau instansi yang minta izin ke instansi Kebudayaan (Direktorat Peninggalan Bawah Air), apalagi instansi Kebudayaan memberikan izin keluar barang-barang tersebut. Siapa yang meloloskan, pihak Bea dan Cukai, Kementerian Perdagangan, Pannas BMKT, dsb? Ataukah ada kaitan dengan pemindahan gudang penampungan dari Pamulang ke Sentul?***


Foto beberapa artefak yang seharusnya menjadi koleksi negara, malah dilelang. Beberapa lagi belum ada fotonya.

Arca Tara ini termasuk dalam kargo Cirebon. Cuma satu-satunya. Apa kita rela lepas ke luar negeri, padahal merupakan satu bukti bahwa di dalam kapal sekurang-kurangnya ada dua agama, yaitu Islam dan Buddha.

Wajra, termasuk barang yang dipilih untuk negara. Kenyataannya negara cuma gigit jari.

Gantha dengan pegangan berbentuk wajra, jumlahnya ada beberapa. Dari jumlah itu ada yang dipilih, tetapi negara tidak mendapatkannya.


Khakhara adalah ujung tongkat pendeta/bhiksu. Benda ini cuma satu, sehingga otomatis menjadi koleksi negara. Ironisnya, dalam kenyataannya malah ada di tempat lelang. Foto-foto: Koleksi Bambang Budi Utomo

(dari berbagai sumber media cetak dan diskusi di situs jejaring sosial)

Iklan

Responses

  1. waduh, seperti biasa kita kebakaran jenggot kalau sudah kecolongan! perlu diklarifikasi dengan pihak terkait agar kita memperoleh fakta dan data yang benar!

  2. ironi sebuah bangsa bernama Indonesia, hiruk pikuk dunia politik, kenaikan BBM membuat keberadaan cagar budaya warisan bangsa jadi terabaikan untuk kesekian kalinya.

  3. Rasanya perlu mencatat bahwa ‘kecurangan’ utama dalam hal ini adalah bahwa pembagian koleksi ini yang dilakukan jauh sebelum benda-bendanya sempat dikatalogkan, diteliti dan dan dikategorisasi dengan baik. Dan dengan terus-terang: Ini terjadi bukan karena liciknya orang asing dari perusahaan salvage itu, tetapi sebab tidak ada keseriusan baik pemerintah maupun (sebagian besar) ilmuwan Indonesia dalam menangani temuan ini. Bertahun-tahun lamanya, yaitu sejak akhir 2005, semua benda temuan itu tersimpan begitu saja di sebuah gudang … dan tidak ada inisiatif yang berarti dari ‘pihak Indonesia’ untuk menelitinya. Dan: Bila ada inisiatifnya, para penjaga dari pihak birokrasi negara ini selalu mendepankan berbagai alasan administratif yang tak memungkinkan pemberian ijin untuk mengunjungi dan meneliti di gudang itu … . Lempengan emas di atas itu contoh terbaiknya: Ketika membawanya ke darat, saya meminta agar dilakukan langkah-langkah konservasi lalu terjemahan tulisan yang ada di atasnya, tetapi petugas pengawasan memutuskan menyimpannya di safety box Bank Mandiri … dan meski kami sudah buat foto mosaik dan rekonstruksi tulisannya yang kami bagi ke kiri-kanan, tiada seorang ilmuwan Indonesia pun yang tertarik menterjemahkannya. Setelah bertahun-tahun, akhirnya hanya teman dari EFEO baru-baru ini mau menganalisis foto mosaik tulisan itu … . Rasanya tak usah saya ceritakan nasib sampel-sampel kayu, logam, tanah liat dll yang telah terkumpulkan, tetapi akhirnya hanya jadi membusuk di gudangnya … .
    Dan, sebenarnya, Indonesia sudah beberapa kali ‘menggudangkan’ temuan-temuan serupa: Msl., temuan kapal karam Intan dan Karawang yang berasal dari kurun waktu yang sama. Sudah pernahkah ada informasi, terbitan, hasil penelitian tentang ini, selain yang dibuat orang asing (bagi muatan Intan oleh M.Flecker) atau pekerja lepas perusahaan salvage (bagi Karawang, sekelompok alumni arekeologi UI yang mencatat benda-benda temuan bagi perusahaan salvage itu)? ‘Kan, baik perusahaan salvage maupun instansi pemerintah Indonesia tak pernah tertarik dengan pekerjaan berat yang perlu itu … . Dan apakah dari benda-benda temuan Intan, yang notabene ada juga beberapa vajra, lonceng, cincin eams dll, ada yang dipamerkan di musium, diteliti dan/atau dipublikasi dengan benar dalam negeri?
    Hasilnya? Bisa kita lihat di atas: Kapal yang membawa kargo Nan-Han/Cirebon yang,sebagaimana terlihat dengan sangat jelas dari konstruksinya, sebenarnya merupakan kapal Nusantara, itu dijadikan ‘kapal kargo asal Tiongkok’. Jelas dong, sebelum ngomel-ngomel merasa ditipu, usahakanlah sendiri dengan benar!

    • Terima kasih Pak Horst, mudah-mudahan ‘sentilan’ ini akan bermanfaat untuk pihak birokrasi dan ilmuwan Indonesia…

  4. display tinggalan Intan Wreck dapat dilihat di Museum Seni Rupa dan Keramik (saat ini sedang ada renovasi, namun beberapa katalog dapat di peroleh mungkin?), hibah (walau tidak selengkap seperti yang di sebutkan pak Horst) ini telah dipamerkan hampir 1 tahun di museum tersebut, semoga tidak dipermasalahkan juga, justru mungkin terima kasih untuk birokrat museum telah memamerkan hibah itu

  5. Bagi yang tertarik akan evaluasi awal temuan Cirebon dan Karawang: http://leeds.academia.edu/HorstLiebner/Papers/1282040/Cargoes_for_Java_Interpreting_Two_10th_Century_Shipwrecks

  6. Ternyata bukan hanya politikus yang suka bicara bukan fakta, tapi seorang arkeolog juga suka bicara ‘diperkirakan’, ‘yang katanya’, dsb yang jelas-jelas bukan fakta sebenarnya di media. Sebenarnya sampai saat tulisan saya ini BELUM ADA LELANG DI SINGAPORE atas barang-barang (BMKT) yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini di media. Terbukti pula banyak yang TIDAK TAHU PERATURAN (Keppres, Kepmen, PP, UU, dll) yang berlaku saat itu sejak 2005 hingga keputusan bagi barang 2011. Sebaiknya yang merasa dirugikan atau sakit hati datang dan bertemu Panitia Nasional BMKT untuk mendapat penjelasan yang benar.

  7. Ini yang saya khawatirkan, sudah ada pembagian secara resmi oleh ‘Tim Pemilih’ tapi tidak dipublikasikan. Mengapa tidak pernah dibuat database yang lengkap mengenai temuan2 cirebon? Mengapa ‘Tim Pemilih’ tidak menyertakan media saat ‘Memilih’? saya harap ini menjadi pelajaran untuk kita semua V(-,-)

  8. DATABASE yang lengkap dan REGULASI yang jelas seharusnya dapat menjadi alat untuk melindungi CAGAR BUDAYA. Saya punya tulisan jelek yang mungkin seharusnya dapat LEBIH disempurnakan oleh para ‘AHLI’ … http://www.arkeologidigital.tk/index.php/publikasi/arkeologiinformasi/sistembasisdataarkeologi

  9. Diskursusnya menarik…jadi berpiki…salah siapa kalau begitu? dan kalau mau mengubah, harus mulai dari mana??

  10. Barang peninggalan sejarah aja di korupsi juga…gmna yg sdh sdh jls rupiah………!

  11. Selamat malam pak. Saya Dennie dari UGM Jogja sedang ada tugas dari kampus membahas/meriset tentang patung Ken Dedes Prajnaparamita. Saya mau menanyakan apakah pernah ada patung PERUNGGU Ken Dedes Prajnaparamita yang ASLI dari Singosari / Majapahit yg mirip bentuknya dengan Prajnaparamita di Museum Gajah Nasional Jakarta. Karena selama ini, saya sudah mencari informasi di internet,google,museum2 luar negri dan semua yg mengenai PRAJNAPARAMITA,belum menemukan patung Prajnaparamita yang terbuat dari perunggu yang ASLI. kalo copynya sih… banyak di trowulan dgn ukuran yg berbeda beda. Sedangkan setahu saya,dahulu di zaman Singasari patung batu adhesit Prajnaparamita yang ada di Museum Gajah PASTI ada yang terbuat dari perunggu,mungkin dalam ukuran yg lebih kecil.. dan usia nya sama dgn patung Prajnaparamita yg terbuat dari batu adhesit. Mohon informasinya. TerimaKasih

  12. sudah satu minggu yang lalu sodara saya menemukanGantha dengan pegangan berbentuk wajra di perairan laut cirebon sedang mencari ikan karena profesinya sebagai nelayan. kami harus bagaimana?

  13. Mending dijual sama kolektor kalau aku punya daripada dikasih/diminta pemerintah yg katanya ditaruh museum terutama logam dan batu mulia rasanya aku kok belum peernah liat barang tsb dimuseum terutama semarang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: