Oleh: hurahura | 24 Desember 2012

Arkeologi Trans Jawa, Mencari Sistem Penting Kereta Api

100_0831Para peneliti arkeologi sedang menyusuri rel kereta api

Pada zaman kolonial Belanda kereta api pernah menjadi primadona. Moda transportasi masal ini mulai dibangun di Semarang atas perintah Raja Willem I. Kehadiran kereta api tidak lepas dari upaya Belanda untuk memfasilitasi kepentingan militer dengan cepat. Sayang ketika itu upaya pemerintah untuk membuat jaringan kereta api terkendala dana. Maka kemudian ditunjuklah perusahaan swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). NIS tertarik karena ada unsur bisnisnya. Ketika itu kereta api juga diperlukan untuk mengangkut hasil hutan dan hasil perkebunan di wilayah Semarang. Barang-barang komoditas itu kemudian diekspor melalui pelabuhan Semarang.

Sebelumnya kehadiran kereta api ramai diperdebatkan pemerintah kolonial. Ini karena izin untuk membangun jaringan kereta api sulit dikeluarkan. Karena itu pengangkutan melalui jalan darat terus digencarkan. Pernah ada impor unta dari Afrika dan mendorong peternakan kerbau di sejumlah wilayah. Kedua hewan itu diperlukan untuk menarik pedati. Karena berjalan lambat, diperlukan waktu enam hari untuk membawa barang-barang komoditas itu dari Semarang ke Yogyakarta. Akhirnya penguasa di Belanda pun menyetujui pembangunan perkeretaapian di Semarang ini. Tercatat dalam sejarah, awal perkeretaapian dunia terjadi di Brasil dan Chili (1852), India (1853), Australia (1854), dan Argentina (1857).

Ketika kereta api sudah hadir tahun 1867, perdagangan di Semarang maju dengan pesat. Untuk itu tahun 1870 NIS membangun jalur Semarang-Surakarta sepanjang 110 kilometer. Akhirnya keberhasilan kereta api mendorong sejumlah investor untuk membangun jalur di daerah-daerah lain. Maka tahun 1880 panjang rel mencapai 405 kilometer, tahun 1890 menjadi 1.427 kilometer, dan tahun 1900 3.338 kilometer.

Selain di Jawa, pembangunan jalan kereta api juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), dan Sulawesi (1923). Sampai 1939, panjang jalan kereta api mencapai 6.811 kilometer. Namun pada 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 kilometer. Sekitar 901 kilometer raib, mungkin dibongkar pada masa pendudukan Jepang dan diangkut ke Myanmar untuk pembangunan jalan kereta api di sana.

Pada zaman kolonial ada empat perusahaan kereta api yang berperan. Selain NIS, ada SJS (Samarang Joana Stoomtram Maatschappij) dan SCS (Samarang Cheribon Stoomtram Maatschappij), yang juga merupakan perusahaan swasta. Kemudian berdiri SS (Staats Spoorwegen), sebuah perusahaan milik pemerintah Hindia Belanda. Masing-masing perusahaan membangun jaringan kereta api dengan lebar sepur yang berbeda, seperti 1.067 milimeter, 1.045 milimeter, 750 milimeter, dan 600 milimeter. Pada zaman Jepang lebar sepur mulai diseragamkan.


Peradaban bangsa

Adanya kereta api berdampak positif pada kota Semarang dan kota-kota lain di Jawa. Pertumbuhan kota semakin pesat. Jelas perkeretaapian memiliki peran penting bagi perkembangan peradaban, terutama di wilayah sekitar jalur kereta api. Umumnya wilayah tersebut berkembang menjadi daerah yang ramai, bahkan menjadi kota. Dengan adanya stasiun maka akses ke suatu wilayah menjadi terbuka sehingga perekonomian meningkat. Pertumbuhan juga memacu mobilitas penduduk dan permukiman baru di sekitar stasiun, halte, dan di pinggir jalur rel. Dari sinilah berkembang corak kehidupan baru. Beroperasinya sistem perkeretaapian membuka daerah yang terisolasi kepada dunia luar, bahkan mengubah budaya transportasi masyarakat menjadi modern. Berbagai pabrik, terutama pabrik gula, didirikan di sejumlah kawasan. Akibatnya ketika itu Hindia Belanda merupakan salah satu negara penghasil gula terbesar di dunia. Gula dari Hindia Belanda banyak diekspor ke negara-negara Eropa.

Kini banyak peninggalan perkeretaapian telah menjadi bagian dari warisan budaya bangsa Indonesia. Selama tiga tahun (2010-2012) Direktorat Peninggalan Purbakala (kini Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman) melakukan kegiatan Inventarisasi dan Pendokumentasian Perkeretaapian. Kegiatan difokuskan pada bangunan perkeretaapian termasuk stasiun dan pendukungnya, jembatan, dan terowongan. Sebagian peninggalan tersebut masih digunakan, sebagian lagi sudah tidak difungsikan.

Tidak tertutup kemungkinan nantinya sejumlah perlengkapan mekanik atau manual seperti Telepon T-drad, wesel, genta, dan induktor akan digantikan peralatan elektrik. Dipastikan, kalau hal ini terjadi, generasi mendatang hanya bisa melihat sisa-sisa warisan pemerintah kolonial Belanda itu di museum.


Arkeologi Trans Jawa

Sesungguhnya nilai penting pembangunan sistem transportasi kawasan pantura Jawa bukanlah hal baru. Ini karena jauh sebelumnya sudah dirintis, sebagaimana terekam dalam sumber sejarah dan bukti arkeologi. Pada awal abad ke-15 kawasan Semarang sudah masuk dalam jaringan perdagangan jarak jauh. Penjelajah Portugis, Tome Pires, pada 1513-1514 sudah menyebut sejumlah pelabuhan di sepanjang pantura antara lain Camaram atau Semarang. Sebagai sebuah kota di pesisir Jawa, Semarang mendapat perhatian khusus pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada permulaan abad ke-19.

Pada pertengahan abad ke-19, Semarang telah digambarkan sebagai sebuah kota yang dilengkapi dengan fasilitas militer dan sipil. Perannya sebagai pusat perlintasan juga ditandai oleh posisinya dalam jaringan darat Anyer-Panarukan yang dibangun oleh Belanda tahun 1808-1810. Jaringan ini berfungsi untuk mendukung pertumbuhan kepentingan pelabuhan laut di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa.

Bertemakan Arkeologi Trans Jawa, tim Pusat Arkeologi Nasional (Pusarnas) pada 20 November hingga 4 Desember 2012 lalu, menyelenggarakan penelitian bertopik “Pembangunan Infrastruktur dan Sistem Jaringan Transportasi Kereta Api pada Abad ke-19 di Wilayah Semarang dan Sekitarnya”. Pertanyaan pokok yang hendak dijawab melalui penelitian tersebut adalah sejauh mana jejak prasarana dan sarana lama yang masih dapat dilacak.

“Penelitian arkeologi ini diharapkan berjalan dalam satu sistem besar, yakni penelitian, pendidikan, dan pelestarian (perlindungan, pengembangan, pemanfaatan),” kata Sarjiyanto, arkeolog dari Pusarnas yang menjadi koordinator lapangan. Penelitian ini dibantu tenaga dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Balai Arkeologi Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Unika Soegijapranata, Indonesian Railway Preservation Society, dan Lembaga Swadaya Masyarakat setempat. Dukungan diberikan oleh Daop IV wilayah Semarang.

“Berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap manfaat kebudayaan materi membuahkan pemikiran bahwa penelitian harus sampai pada tataran guna sehingga dirasakan oleh masyarakat. Oleh sebab itu pemilihan topik penelitian juga disesuaikan dengan konteks kekinian, yakni infrastruktur khususnya sistem transportasi kereta api. Saat ini hal demikian menjadi penting dan mendesak mengingat pertumbuhan jumlah kendaraan dan pergerakan manusia serta barang antartempat menyebabkan timbulnya permasalahan sosial dan budaya,” tambah Sarji.

Menurut ketua tim peneliti, Sonny Wibisono, tujuan dari penelitian ini diorientasikan untuk mencari dan menemukan kembali nilai penting dari penyelenggaraan sistem kereta api di kawasan Semarang. Dasarnya adalah sistem kereta api lebih kompleks dari sistem transportasi darat lainnya. Ini karena sistem kereta api memperkenalkan sebuah sistem teknologi masinal yang memerlukan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan syarat dalam mengoperasikannya. Begitu pula lainnya seperti penyiapan infrastruktur (jalur rel, stasiun), sarana (lokomotif), persinyalan, dan telekomunikasi.


Rekomendasi

Pemerintah kolonial Belanda mampu membangun jaringan kereta api dengan teliti. Bahkan melintasi sungai dan rawa serta menembus bukit untuk membangun jembatan dan terowongan. Teknologi ini pada zamannya tentu sudah sangat maju. Namun pada masa pemerintahan RI banyak jalur dimatikan begitu saja. Banyak stasiun justru tidak difungsikan lagi terutama karena alasan ekonomi.

Memang pada awalnya jaringan kereta api dibangun untuk mengangkut gula, kayu jati, dan hasil perkebunan lain, bukan manusia. Baru pada masa kemudian kereta api dipergunakan untuk membawa penumpang. Itu pun dibagi dalam kelas-kelas, artinya orang Belanda dan Tionghoa ditempatkan di kelas atas, sementara kelas rendahan untuk pribumi.

Baru akhir-akhir ini kehadiran kereta api diperhatikan kembali dengan rencana pembangunan jalur ganda (double track). Tentu saja sudah saatnya pihak berwenang menghidupkan kembali jalur yang masih memungkinkan, mengingat kereta api merupakan angkutan masal yang murah meriah. Apalagi melihat kenyataan jalan darat sering macet parah. Dengan banyaknya frekuensi kereta api diharapkan kemacetan dapat diminimalisasi karena kereta api selalu berjalan tanpa hambatan dan dilindungi undang-undang. (Djulianto Susantio)


Galeri Foto:

100_0832
Salah satu bagian dari wesel

Penarik-sinyal
Penarik sinyal

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: