Oleh: hurahura | 6 Mei 2016

Temuan Yoni di Dekat Rumah Bung Karno

Setiawan-03Yoni dengan cerat yang patah, mungkin disengaja atau terkena pacul

Akhir Mei 2014 lalu warga di Dusun Krapak, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri dihebohkan oleh penemuan sebuah Yoni. Sebelum diberitakan media elektronik, penemuan Yoni ini hanya terdengar santer di sekitar Desa Pojok. Walau letaknya agak jauh dari Kota Kediri, sekarang Desa Pojok termasuk desa yang ramai dikunjungi wisatawan, terutama oleh mereka yang ingin melihat Ndalem Pojok.

Ndalem Pojok merupakan rumah ayah angkat Bung Karno. Di rumah inilah Koesno Sosrodihardjo yang sakit-sakitan pernah dirawat dan diruwat serta diberi nama baru yang melegenda, Soekarno. Seiring waktu berjalan, Bung Karno juga sering berlibur di Ndalem Pojok saat dia kuliah maupun setelah menjadi Presiden. Setiap hari Minggu, kunjungan wisatawan ke Ndalem Pojok lumayan banyak. Apalagi di bulan Juni, bulan bersejarah kelahiran dan kematian Bung Karno.

Letak Yoni ini benar-benar “nyempil”, tertutup oleh rumah-rumah penduduk. Kalau tak mau bertanya warga sekitar, dijamin akan kesulitan menemukannya. Warga sekitar dengan ramah akan menunjukkan kita ke tempat Yoni berada. Memang, mau tak mau kita harus melewati gang sempit di antara rumah penduduk, menembus kamar mandi dan memasuki sebuah kebun besar.

Yoni Pojok berada di lahan kebun, tak jauh dari kandang ayam. Terletak agak ke bawah dan tertutup oleh lebatnya dedaunan tanaman di sekitarnya. Yoni ini bagian atasnya ditutup dengan asbes. Jadi, kalau tidak diantar warga sekitar, sudah pasti bakal kelewatan. Lahan kebun tempat Yoni ini berada penuh dengan nyamuk. Nyamuknya ganas-ganas pula, disarankan memakai jaket juga membawa lotion anti nyamuk.


Arca dan Candi Hindu

Lahan tempat Yoni ini berada dianggap wingit atau angker oleh warga sekitar. Sebenarnya, Yoni tersebut sudah pernah ditemukan sebelumnya dan berjumlah dua buah. Selain dua Yoni, terdapat pula sebuah arca dewa, arca nandi, dan arca katak. Yoni beserta arca-arca itu kemudian dipendam lagi. Saat digali kembali, kesemua arca tersebut beserta sebuah Yoni hilang dicuri. Yang tersisa Yoni saja, yang terlihat sampai sekarang.

Yoni tersebut berbentuk persegi dengan lubang di tengahnya dan terbuat dari bahan batu andesit dengan lebar serta tinggi sekitar 60 cm. Yoni sendiri merupakan lambang kesuburan dan biasanya berpasangan dengan lingga. Saat digali hanya ditemukan Yoni tanpa adanya lingga. Bagian cerat Yoni tampaknya sengaja dihilangkan dengan benda keras. Entah kemudian bagian itu dijual atau dibuang. Beberapa bagian atas Yoni juga terlihat bocel-bocel akibat kena pacul.

Yoni Desa Pojok ini tidak memiliki motif apapun, terlihat polos dan hanya ada hiasan persegi pada keempat sisi badan Yoni. Yoni seperti ini sebenarnya sering ditemukan di daerah lain, kebanyakan dalam ukuran kecil seperti di Desa Pojok ini. Namun, ada juga Yoni seperti ini dalam ukuran yang sangat besar, lengkap beserta lingganya. Contohnya yoni di Candi Wonorejo, Madiun.

Setiawan-01Alu kecil di dekat yoni

Selain Yoni, juga ditemukan sebuah alu kecil yang dulu digunakan sebagai alat penumbuk. Alu kecil ini berada di dalam lubang kotak Yoni. Di bagian bawah Yoni terdapat timbunan batu-batu andesit. Batu-batu tersebut biasanya digunakan sebagai batu pengisi pada sebuah candi.

Agak ke belakang dari tempat penemuan Yoni terdapat sebuah lubang galian yang cukup besar. Apakah dulu arca-arca tersebut ditemukan di lubang ini? Pada lahan sekitar Yoni hampir tidak diketemukan komponen bata kuno maupun batu penyusun candi lainnya. Biasanya dengan mudah bisa diketemukan batu-batu tersebut, maupun pecahan gerabah kuno. Yang ada malah banyaknya pasir hasil erupsi Gunung Kelud 14 Februari lalu.

Melihat kontur tanah tempat penemuan Yoni yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya, kemungkinan besar memang ada suatu bangunan candi Hindu yang masih tertimbun. Dari era mana candi ini berasal masih belum bisa diketahui, mengingat hilangnya arca-arca yang pernah ditemukan. Dari corak arca tersebut, biasanya bisa diketahui era candi ini berasal, dari Era Kadhiri, Singosari, ataukah Majapahit.

Menuju Yoni Pojok Kediri ada berbagai rute. Dari Kota Kediri, arahkan kendaraan ke perempatan Jimbun, dari Pasar grosir Nggrongo terus ke selatan sampai bertemu perempatan Bence. Setelah itu belok kanan terus saja sekitar enam kilometer sampai bertemu perempatan Jimbun yang terdapat pohon beringin besar di kanan jalan. Dari perempatan Jimbun belok kiri, terus saja sejauh dua kilometer sampai memasuki Desa Pojok dengan gerbangnya yang besar.

Setelah memasuki Desa Pojok, terus saja sekitar 300 meter sampai bertemu papan petunjuk ke “Ndalem Pojok Situs Bung Karno Kediri” yang bewarna biru. Papan petunjuk ini kecil dan berada di bawah papan petunjuk menuju pondok pesantren. Belok kanan sampai bertemu perempatan lagi yang ada pos kamlingnya. Dari sini belok kanan sekitar 20 meter (jika belok kiri kita menuju Ndalem Pojok). Yoni Pojok berada di belakang rumah-rumah penduduk dan tidak terlihat dari jalan raya.

Jika dari Blitar, arahkan kendaraan menuju Kediri melewati Udanawu sampai ke Perempatan Jimbun. Dari perempatan Jimbun belok kanan dan ikuti petunjuk di atas. Jika naik kendaraan umum, dari Blitar bisa naik angkot ke Kediri yang melewati Udanawu dan turun di Perempatan Jimbun, lanjut dengan naik becak atau ojek.

Dari Tulungagung maupun Surabaya, bisa naik bis dan turun di Terminal Kediri, dilanjutkan naik angkot menuju ke perempatan Jimbun lalu dilanjutkan naik ojek maupun becak menuju lokasi yoni.

Laporan dan foto: AS


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: