Oleh: hurahura | 4 September 2016

Candi Minakjingga, Inspirasi Rumah Majapahit

Minakjinggo-1Relief rumah pada Candi Minakjingga, menginspirasi rumah Majapahit

Situs Candi Minakjingga terletak di Dusun Unggah-unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Kurang lebih 16 kilometer arah barat Kota Kabupaten Mojokerto, tepatnya berlokasi di sebelah timur Kolam Segaran, tak jauh dari Kubur Panjang dan Makam Putri Campa.

Situs ini berada di perumahan penduduk yang sebagian besar bekerja sebagai pembuat batu bata. Candi Minakjingga tergolong istimewa karena hingga saat ini merupakan satu-satunya candi yang terbuat dari batu andesit di Trowulan. Uniknya, selain batu andesit, candi ini juga tersusun dari batu bata.

Sebelum memasuki area runtuhan candi, kita dapat melihat tumpukan batu andesit di sebelah kiri 200 meter sebelum pintu masuk candi. Batu-batu itu merupakan bagian relief dari Candi Minakjingga. Memasuki area runtuhan candi, kita dapat melihat pondasi candi berupa batu bata.

Relief-relief Candi Minakjingga banyak menggambarkan bentuk bangunan pada masa itu. Juga menceritakan kehidupan bersosialisasi masyarakat pada masa lampau. Beberapa relief binatang mitologi Tiongkok, yakni kirin, tergambar pada relief itu. Hal ini menunjukkan pada masa pembangunan candi, kerajaan pembangun candi memiliki kerja sama yang cukup erat dengan kekaisaran Tiongkok .

Minakjinggo-2Arca pada Candi Minakjingga

Nama candi berasal dari arca berbentuk raksasa bersayap yang oleh masyarakat sekitar disebut Minakjingga, tokoh antagonis dalam Serat Damarwulan. Kuat dugaan, arca temuan itu merupakan arca garuda. Disayangkan, bagian paruh arca garuda telah rusak. Adanya arca garuda menandakan Candi Minakjingga bercorak Hindu karena garuda adalah wahana (kendaraan tunggangan) dewa Wisnu.

Sementara ini Candi Minakjingga dapat dirunut dari tulisan Raffles, The History of Java (1817). Dalam buku itu disebutkan bahwa di situs kuno Majapahit terdapat arca Ganesha dan arca-arca mitologi Hindu lainnya. Di dekat kolam terdapat arca yang bagian bawahnya berbentuk manusia dan bagian atas tubuhnya berbentuk burung.

Penelitian pertama pada Candi Minakjingga dilakukan pada 1907 oleh Knebel sebagaimana Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera. Dalam laporan itu dinyatakan bahwa terdapat gundukan batu tertutup tanah yang dapat dinaiki melalui sisa sepuluh anak tangga. Di tempat yang terdapat gundukan itu terdapat arca. Penduduk sekitar menyebutnya arca Minakjingga. Knebel menafsirkan arca Minakjingga sebagai Batara Yama, apabila arca tersebut tidak memiliki sayap.

Penelitian pertama pada era kemerdekaan dilakukan pada 1977 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Diketahui adanya struktur bangunan dan batu-batu candi lepas di dalam gundukan tanah. Selanjutnya penelitian dilakukan BPCB Trowulan pada 2007. Pada penelitian tersebut ditemukan fragmen terakota, mata uang kepeng, fragmen keramik dari Dinasti Yuan (1279-1368), fragmen miniatur rumah, genteng, fragmen relief, dan arca katak yang terbuat dari bahan batu putih.

Pada 2010, karena situs sudah tergali dan terbuka besar, BPCB Trowulan memasang atap guna mencegah kerusakan pada bata penyusun Candi Minakjingga. Benda-benda temuan ekskavasi dari Candi Minakjingga sebagian disimpan di BP3 (nama lama BPCB) Trowulan dan Museum Majapahit.


Inspirasi Rumah Majapahit

Relief rumah pada Candi Minakjingga menjadi salah satu inspirasi terbangunnya kampung Majapahit pada tiga desa di kawasan cagar budaya tingkat nasional. Desain rumah ala Majapahit yang dibangun di Desa Bejijong, Desa Jatipasar dan Desa Sentonorejo, memiliki tembok yang tersusun dari batu bata dengan menggunakan sistem bata kosod sehingga terlihat natural.

Pondasi rumah tersusun dari batu dibuat tinggi hampir satu meter dan memiliki dua daun pintu kembar yang terbuat dari kayu. Selain itu terdapat daun jendela pada sisi kanan dan kiri rumah. Desain ini sendiri sedikit berbeda dengan yang tergambar pada relief candi. Hal yang membedakan itu adalah bangunan pada relief candi merupakan bangunan terbuka, sedangkan rumah kampung Majapahit merupakan bangunan tertutup.


Referensi:

Tim Pemugaran Candi Minakjingga, 2007. Laporan Pemugaran Candi Minakjingga Tahun 2007. Mojokerto: BPCB (tidak diterbitkan secara umum)

Tim Pemugaran Candi Minakjingga, 2010. Laporan Pemugaran Candi Minakjingga Tahun 2010. Mojokerto: BPCB(tidak diterbitkan secara umum)


Sumber Internet:

http://m.detik.com/news/berita-jawa-timur
http://m.tempo.com/read/news/2016/07/28
http://nasionalgeografi.co.id/berita/2011/01/desain-rumah-majapahit-dipersiapkan
http://surabaya.tribunnews.co
http://surabaya.tribunnews.com/2012/09/12/candi-minakjingga-candi-ritual-majapahit

Laporan dan foto: Soleh Hoetama


Responses

  1. Reblogged this on Semangat Pagi! and commented:
    Wah suka banget saya sama info-info begini. Apalagi dulu memang kuliahnya ambil beginian. Arkeologi.

    😍😍😍


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: