Oleh: hurahura | 26 Januari 2013

Wihara Avalokitesvara: Warisan Toleransi Sultan Banten

Wihara-1Wihara Avalokitesvara

KOMPAS, Selasa, 22 Januari 2013 – Setiap Minggu pagi ratusan umat Buddha dari sejumlah daerah mengunjungi Wihara Avalokitesvara di Desa Pamarican, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Untuk mencapai wihara, dibutuhkan waktu satu jam dari Kota Serang atau empat jam dari Jakarta.

Jalan yang harus dilalui melintasi perkampungan dan persawahan dengan lebar jalan hanya cukup untuk dua mobil. Dengan jalan yang relatif sempit itu jika ada dua kendaraan yang berpapasan, pengemudi harus mengurangi kecepatannya.

Meski berada di perdesaan, umat Buddha tetap mengunjunginya. Wihara Avalokitesvara merupakan tempat ibadah agama Buddha Mahayana dan satu-satunya wihara yang ada di Banten.

Menariknya, tembok pembatas wihara bersebelahan langsung dengan pagar Benteng Surosoan yang dibangun pada masa Kesultanan Banten. Tak jauh dari wihara, terdapat Masjid Agung Banten yang sampai kini ramai dikunjungi orang berziarah.

Di kompleks masjid terdapat makam para Sultan Banten di antaranya Sultan Hasanuddin. Meski kedua tempat ibadah itu hanya berjarak sekitar 500 meter, masyarakat setempat saling menghargai, saling menghormati, dan tidak pernah terjadi keributan. Sebuah semangat toleransi antarumat beragama tecermin di sini.


Nuansa simbolis

Bangunan Wihara Avalokitesvara yang didominasi warna merah amat kental dengan nuansa simbolis umat Buddha seperti gedungnya yang menggunakan lambang ornamen naga dan patung singa. Di sudut kanan dan kiri bangunan, terpajang lampion-lampion berwarna merah. Siapa pun yang berkunjung ke wihara ini seakan tengah berada di ”Negeri Tirai Bambu”.

Dulu, Wihara Avalokitesvara bernama Ban Tek Ie. Staf Hubungan Masyarakat Wihara Avalokitesvara, Asaji, mengatakan, umat Buddha yang berkunjung berasal dari daerah Tangerang, Semarang, Surabaya, Bali, dan mancanegara. ”Kalau musim liburan, wihara lebih ramai pengunjung,” katanya.

Wihara itu bernilai sejarah tinggi sehingga tak hanya dikunjungi untuk tempat ibadah, tetapi juga menjadi obyek wisata dan penelitian.

”Wihara ini digunakan untuk ibadah, wisata, juga menjadi sumber penelitian untuk pembuatan tugas sekolah siswa,” kata Asaji.

Pengunjung wihara tak hanya umat Buddha, tetapi juga wisatawan yang mayoritas beragama non-Buddha. mereka tertarik mengunjungi wihara peninggalan Sultan Banten karena ornamennya unik. Mereka juga menjadikan ornamen wihara sebagai latar belakang foto.

Wihara ini dibangun abad ke-16, tepatnya tahun 1652, saat Kesultanan Banten dikunjungi rombongan putri dari Tiongkok bernama Ong Tin Nio. Semula rombongan putri hendak ke Surabaya untuk menyebarkan ajaran leluhurnya, tetapi sesampainya di Banten rombongan ini kehabisan perbekalan. Mereka melabuhkan kapalnya di Kali Kemiri.

Dalam buku Catatan Masa Lalu Banten yang ditulis Halwany Michrob dan A Mudjahid Chudari (29:1990) disebutkan, pada 1481 Sultan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati menikah dengan Putri Ong Tien, putri dari Tiongkok.

Putri itu datang ke Pulau Jawa dengan rombongan besar. Dalam pernikahannya itu, Putri Ong Tien melahirkan seorang putra, tetapi meninggal saat melahirkan.

Setelah Syarif Hidayatullah dan Ong Tin Nio menikah, Ong Tin Nio memeluk agama Islam. Perpindahan keyakinan Ong Tin Nio itu tak diikuti seluruh rombongan. Sebagian dari mereka tetap memeluk agama leluhurnya, yakni Buddha.

Karena itu, Syarif Hidayatullah mengambil keputusan membangun Masjid Pacinan Tinggi untuk umat Islam, sedangkan pemeluk agama Buddha dibuatkan wihara yang kini bernama Wihara Avalokitesvara. Bangunan wihara didirikan di wilayah Kesultanan Banten.

Sundani, warga Tangerang, mengaku sudah dua kali berkunjung ke wihara ini. Akhir tahun 2012, ia datang bersama rombongan dengan menumpang dua bus besar.

Bagi warga setempat, keberadaan wihara memberikan dampak positif secara ekonomi. Mereka mendirikan warung di sekitar wihara. Warung yang berjejer di pinggir Sungai Kemiri itu menjajakan aneka makanan seperti gado-gado, mi instan, dan es kelapa muda, serta oleh-oleh khas Banten semisal emping, kerupuk kulit, dan kerupuk bakso.

Meithallitha Dewi
Mahasiswa Jurusan Jurnalistik,
Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Wangsa Jaya, Banten

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: