Oleh: hurahura | 17 November 2019

Arkeologi sebagai Pembawa Kebijaksanaan*

Candi Plaosan ada unsur Hindu dan Buddha (Foto: BPCB Jawa Tengah)

Manusia hanya akan menjadi ‘monster’ jika di dalam kehidupannya tidak ada kebijaksanaan. Terdapat potensi melukai dan membunuh, karena tidak bisa menerima keberagaman dan menganggap keyakinannyalah yang paling benar. Dominasi fanatisme yang mampu mengikis kemanusiaan adalah penyebabnya. Selain terbentuk karena fanatisme, ada juga manusia ‘berperut besar’ yang senantiasa mengeksploitasi alam dan sesama manusia. Manusia semacam itu memiliki nalar dan sensitivitas yang rendah, tetapi memiliki kerakusan yang tinggi. Akibatnya, rusaknya lingkungan alam dan penderitaan manusia yang dieksploitasi, tidak dipedulikan. Karena itu, kebijaksanaan adalah hal penting untuk kehidupan manusia, supaya semua kondisi yang buruk itu dapat dihentikan.

Lantas, apa itu kebijaksanaan? Sejauh manakah peran kebijaksanaan dalam kehidupan manusia? Kebijaksanaan dapat dipahami sebagai kemampuan yang harus dimiliki manusia agar hubungan manusia dan alam, serta relasi sesama manusia bisa berjalan harmonis. Kebijaksanaan tumbuh jika seseorang terus-menerus menemukan sudut pandang yang berbeda, sehingga dapat berpikir dan bertindak secara dialektis. Karena itu, orang yang bijaksana memiliki kekayaan alam pikir, serta siap menghadapi ragam gagasan dan keyakinan. Namun orang yang bijaksana dapat menentang eksploitasi, karena nalar dan sensitivitas yang ada dalam dirinya membawa kepedulian pada lingkungan dan kehidupan generasi manusia. Tidak heran jika kebijaksanaan membuat manusia cenderung berdamai dengan manusia dan alam yang ada di sekitarnya.


Tiga tujuan pokok

Arkeologi dapat membantu manusia menumbuhkan kebijaksanaan sebab arkeologi termasuk dalam ilmu kebudayaan. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan dari masa lampau melalui peninggalannya. Arkeologi memiliki tiga tujuan pokok; (1) merekonstruksi sejarah kebudayaan, (2) merekonstruksi cara-cara hidup, (3) penggambaran proses perubahan kebudayaan. Karena tujuan yang ketiga, para arkeolog berusaha memahami perubahan bentuk dan arah kebudayaan atau pun perkembangannya. Ide dan sosial yang eksis dalam kebudayaan dari masa lampau, dapat diungkap melalui penelitian arkeologis.

Peninggalan arkeologis telah menunjukan adanya kelompok manusia dari masa lampau yang hidup harmonis. Sikap toleransi beragama diperlihatkan oleh manusia di masa lampau melalui peninggalan material. Peninggalan yang dimaksud misalnya situs Candi Jawi yang secara administratif terletak di Jawa Timur. Selain ditemukan bangunan agama Buddha, di halaman situs Jawi juga ditemukan sejumlah peninggalan agama Hindu berupa arca, seperti Durga, Siwa, Ganesa, Mahakala, dan Nandiswara. Keberadaan arca Hindu yang berdekatan dengan bangunan Buddha dapat menjadi bukti adanya toleransi ketika berlangsung zaman klasik di Nusantara.

Kerajaan Majapahit juga menunjukkan kondisi multikultural yang disikapi dengan bijak oleh penguasa. Peninggalan Kerajaan Majapahit berupa candi yang memiliki latar belakang agama yang berbeda, menegaskan adanya multikulturalisme dan toleransi beragama. Tak hanya berupa candi, Majapahit juga meninggalkan kompleks makam dari kebudayaan Islam, sehingga menunjukkan toleransi untuk umat Muslim. Akhirnya, gambaran kehidupan di masa lampau dengan bukti arkeologisnya, barangkali dapat menjadi inspirasi untuk sosial kontemporer.


Berinteraksi

Arkeologi mendorong kita berinteraksi dengan kebudayaan yang berbeda. Arkeologi menerangkan kita tentang eksistensi Hindu-Buddha dan Islam di Nusantara, juga mengenalkan kita pada budaya megalit, komunitas pemburu-pengumpul makanan, atau animisme di wilayah pedalaman sebagai warisan dari kebudayaan prasejarah. Kita bisa menemukan kearifan dan kekayaan alam pikir dalam kebudayaan–kebudayaan tersebut. Melalui arkeologi kita bisa mengambil pelajaran dari kebudayaan lain dan terbiasa dengan keberagaman budaya.

Selain itu, arkeologi juga dapat berperan dalam membangun kesadaran ekologis. Hal ini karena mengkaji kebudayaan dari masa lampau melalui peninggalannya, berarti memahami bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Secara tidak langsung, arkeologi mengemukakan peran alam untuk manusia. Arkeologi dapat melahirkan kesadaran bahwa manusia membutuhkan alam supaya dapat membentuk sejarah dan menurunkan generasi.

Melalui interpretasi, arkeologi menunjukkan pencapaian manusia prasejarah yang sebenarnya tidak terlepas dari peran alam. Manusia prasejarah di Nusantara menggunakan gua sebagai tempat hunian, serta membuat peralatan dari tulang dan batu untuk berburu dan meramu makanan. Manusia prasejarah kemudian mengenal domestikasi hewan dan pertanian. Jika manusia prasejarah tidak mendapati alam yang memenuhi kebutuhan hidup dan bisa membentuk kebudayaan, maka manusia modern tidak pernah ada.

Kondisi alam sangat berperan dalam perkembangan kebudayaan masa klasik di Nusantara. Nusantara memiliki kondisi alam yang strategis untuk kemaritiman dan memiliki komoditi yang diminati dan populer. Selain keterangan dari catatan kuno, keramik Tiongkok dalam jumlah besar juga menjadi bukti adanya perdagangan. Aktivitas perdagangan ini menjadi gerbang masuknya agama Hindu-Buddha, sehingga terjadilah pemanfaatan alam dalam rangka membangun arca dan candi. Dengan demikian, kondisi alam di Nusantara tidak hanya mengantarkannya pada perkembangan ekonomi, tetapi juga mendukung manusia mengekspresikan ide melalui kebudayaan material.

Sampai di sini kita tahu bahwa arkeologi dapat mengantarkan kita pada kebijaksanaan. Sebagaimana yang diungkap di atas, arkeologi telah memproduksi inspirasi karena menampilkan sosial yang harmonis dan toleransi antarumat beragama di masa lampau. Melalui arkeologi kita juga bisa mengenal berbagai kebudayaan yang berbeda. Konsekuensinya, kita bisa menerima keberagaman budaya dan mengambil pelajaran di dalamnya. Tak hanya itu, arkeologi juga dapat menumbuhkan kesadaran ekologis. Hal ini karena arkeologi secara tak langsung mengungkapkan peran alam untuk manusia. Akhirnya, arkeologi mungkin bisa membantu kita dalam membentuk sosial dan hubungan manusia dengan alam yang lebih baik.


Referensi

Alexander, Jannes. 2016. Filsafat Kebudayaan: Konstruksi Pemikiran Cornelis Anthonie van Puersen dan Catatan Reflektif. Pustaka Pelajar.
Hasanuddin. 2010. Konsep Kebudayaan dalam Arkeologi. Balai Arkeologi Makassar.
Suantika, I Wayan. Jakarta, 2001. Sumber Daya Arkeologi Perannya Masa Kini dan Masa Depan. Proyek Peningkatan Penelitian Arkeologi Jakarta.
Mulyana, Dadan. Jakarta 2001. Pemanfaatan Sumber Daya Alam Dalam Pembentukan Nilai Budaya. Proyek Peningkatan Penelitian Arkeologi Jakarta.
Simanjuntak, Truman. 2012. Arkeologi dan Pembangunan Karakter Bangsa. Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.
Utomo, Bambang Budi. Jambi 2011. Kebudayaan Zaman Klasik Indonesdia di Batanghari. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Santiko, Hariani. ———. Multikulturalisme dan Toleransi Beragama Pada Zaman Majapahit.———-.
Suantika, Wayan. 2008. Pengembangan Sumber Daya Arkeologi Berbasis Kearifan Lokal. Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.
Susantio, Djulianto. 2010. Toleransi Beragama di Masa Lampau. Majalah Arkeologi Indonesia.


Oleh:
M. Sobar Alfahri
Arkeologi Universitas Jambi

*Tulisan ini pernah dimuat di sini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: