Oleh: hurahura | 29 Maret 2013

Tidak Ada Kanal di Kota Majapahit

Agus-01Sampai saat ini para pakar dari berbagai disiplin ilmu melihat bahwa di wilayah situs Trowulan, yang mengandung tinggalan purbakala dari era Kerajaan Majapahit, diiris-iris oleh jaringan kanal yang saling memotong. Hingga tahun 1980 heboh tentang adanya jaringan kanal belum mengemuka di kalangan para peneliti Trowulan. “Kanal Trowulan” baru diketahui kehadirannya lewat foto udara yang dilakukan dalam rangka kajian lebih lanjut untuk menyusun Rencana Induk Situs Trowulan di masa mendatang.

Diketahui bahwa kanal tersebut dibentuk dengan garis-garis lurus. Berdasarkan hal tersebut dapat diasumsikan bahwa kanal-kanal yang saling memotong itu sengaja dibuat, bukan bentukan alami.

Arkeolog Mundardjito menyatakan bahwa jaringan kanal di Trowulan merupakan satu-satunya bangunan air berpola kisi-kisi yang ditemukan di satu-satunya situs kota dari periode Hindu-Buddha di Indonesia. Namun, data tentang kanal-kanal kuno di Trowulan itu tidak pernah disebutkan dalam naskah kuno yang berkenaan dengan Trowulan, seperti Nagarakretagama.

Amrit Gomprets dkk (2008) meragukan hasil kajian Stutterheim dalam tahun 1941. Menurut Stutterheim, sebenarnya bagian-bagian kota Majapahit dihubungkan dengan jalan-jalan yang saling berpotongan. Jalan-jalan itulah yang kini ditafsirkan sebagai kanal. Gomprets dkk menumpangkan gambar rekonstruksi keraton Majapahit karya Stutterheim ke peta Trowulan sekarang. Maka diperoleh posisi keraton tersebut di wilayah Kedaton, wanguntur (alun-alun) dan witana ada di utara keraton di area Nglinguk, tepatnya di situs kubur panggung.

Pada pokoknya Gomprets dkk menyatakan bahwa di kota Majapahit di Trowulan tidak pernah ada kanal, yang ada hanyalah jaringan jalan. Keraton Majapahit berada di salah satu sudut perempatan jalan utama di Majapahit.

Selain Nagarakretagama, kakawin Arjunawijaya dan Sutasoma gubahan Mpu Tantular juga tidak menyinggung adanya kanal. Begitu pula naskah Pararaton. Bujangga Manik, seorang agamawan Sunda yang melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, tidak menyatakan harus menyeberangi sungai atau kanal dari Bubat menuju Wanguntur. Kidung Wargasari, naskah yang menguraikan salah satu versi kisah Panji, kembali tidak menguraikan sang tokoh harus memintasi beberapa kanal dalam perjalanannya.

Sama seperti karya sastra, pada relief candi zaman Majapahit juga tidak pernah digambarkan kanal di suatu kota atau permukiman. Yang digambarkan adalah sungai-sungai kecil yang dilukiskan berair deras, ada tokoh yang menyeberangi sungai kecil itu dengan jembatan bambu yang disusun. (bersambung)

(Ringkasan Tidak Ada Kanal di Kota Majapahit oleh Prof Dr Agus Aris Munandar)

Kanal-02

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: