Oleh: hurahura | 29 Agustus 2013

Peninggalan Prasejarah di Karst

Temuan Ketiga di Goa Kidang

Kompas, Rabu, 28 Agustus 2013 – Tim Okupasi Goa Kidang Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan kembali kerangka manusia prasejarah di Goa Kidang, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dari ketiga temuan itu, tim mempertajam riset tata cara Homo sapiens merawat dan mengubur jenazah di dalam goa karst.

Goa Kidang berada di kawasan karst Pegunungan Kendeng Utara yang berjarak sekitar 35 kilometer dari kota Blora. Goa itu berupa ceruk gunung karst sedalam kira-kira 15 meter dari permukaan tanah bukit karst. Untuk masuk ke dalam goa, harus menuruni jalan setapak.

Ketua Tim Pola Okupasi Goa Kidang Balai Arkeologi Yogyakarta Indah Asikin Nurani, Selasa (27/8), mengatakan, kerangka ketiga ditemukan dalam posisi meringkuk. Saat ini baru terlihat bagian tangan dan punggung.

Tahun lalu, tim menemukan kerangka dalam posisi yang hampir sama pula. Dari hasil uji karbon, ketiga kerangka diperkirakan berusia 7.770-9.600 tahun.

”Mereka menggunakan goa di pegunungan karst, Pegunungan Kendeng Utara, sebagai tempat tinggal. Di tempat itu pula kami menemukan ritual penguburan dan teknologi cara membuat alat bantu berburu dan meramu,” kata Indah.

Menurut Indah, ritual penguburan manusia prasejarah Goa Kidang sangat menarik. Mereka mengenal tentang hidup dan mati yang disimbolkan dengan penguburan jenazah yang menghadap ke barat atau posisi matahari terbenam.

Mereka juga mengenal tata cara merawat jenazah. Di sekitar kerangka mereka, tim menemukan remukan batu kapur dan remis cangkang kerang.

”Selain itu, mereka meletakkan jenazah dalam posisi terlipat atau meringkuk, seperti bayi di dalam kandungan,” katanya.

Temuan manusia prasejarah itu juga membuka pengetahuan baru tentang kecerdasan manusia prasejarah. Manusia Goa Kidang membuat alat berburu dan meramu dengan teknologi yang lebih maju dibandingkan dengan temuan jenis Homo sapiens lain.

”Mereka membuat peralatan dari bahan cangkang kerang dan tulang binatang yang dibentuk dan diasah dengan alat batu. Mereka juga membuat mata anak panah yang terbuat dari tulang,” kata Indah.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Perhubungan, Pariwisata, Kebudayaan, Informasi, dan Komunikasi Kabupaten Blora Suntoyo mengatakan, pemerintah telah menjadikan lokasi temuan sebagai kawasan lindung budaya. Pemerintah dan masyarakat setempat telah diminta menjaga peninggalan prasejarah tersebut.

”Sebelumnya, di Blora banyak ditemukan fosil binatang purba dan manusia prasejarah Homo soloensis. Temuan manusia Goa Kidang diharapkan bisa memperkaya pengetahuan tentang perjalanan manusia purba dan prasejarah,” katanya. (HEN)

Iklan

Responses

  1. gua kidang masuk kabupaten Blora Pak, bukan Kudus.

  2. Sayang kita kurang menghargai peninggalan sejarah

    Jadi tak menanamkan budaya tentang bangsa.

    Disisi lain membuang manfaat sebagai obyek turisme /sosial can ekonomi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori