Oleh: hurahura | 26 April 2012

Keroncong dari Para Budak (3 – Habis)

Warta Kota, Kamis, 26 April 2012 – Sejarah kampung Tugu berawal pada 1661. Saat itu pasukan Portugis yang dikalahkan Belanda di Malaka meminta pada penguasa Belanda untuk memiliki daerah sendiri di sekitar Batavia. Permintaan tersebut dikabulkan Belanda dengan syarat mereka harus mengganti nama mereka dengan nama Belanda. Mereka juga dipaksa untuk memeluk agama Protestan, sebelumnya mereka menganut agama Katholik. Setelah mematuhi semua permintaan Belanda, mereka memperoleh sebuah daerah di sebelah timur Batavia, di sekitar Cilincing (Jakarta Utara) sekarang.

Semula daerah itu berupa rawa dan hutan. Karena status mereka yang sudah dibebaskan dari budak, maka penguasa Belanda menyebut mereka dengan nama kaum Mardijkers (kaum yang dimerdekakan). Sebanyak 23 kepala keluarga atau sekitar 150 jiwa kaum Mardijkers ini kemudian tinggal dan menetap di daerah hutan tersebut. Dalam perkembangannya, mereka menikah dengan warga setempat. Kaum campuran itu dijuluki kaum Mestizo (berdarah campuran).

Kemungkinan kata Tugu berasal dari kata Por Tugu Esa (Portugis). Versi lain menyebutkan kata Tugu berasal dari ditemukannya Prasasti Tugu peninggalan Raja Purnawarman di daerah tersebut dari masa abad ke-5 Masehi. Saat ini di Kampung Tugu masih tersisa satu rumah adat Betawi Tugu.

Nama Tugu juga identik dengan Orkes Keroncong Tugu. Kesenian ini mulai dikenal di Indonesia sejak 1661. Sampai sekarang Keroncong Tugu masih tetap lestari. Di Tugu memang banyak tersimpan catatan perjalanan sejarah yang berkaitan dengan Portugis. Kampung Betawi-Portugis ini sempat dijadikan cagar budaya di era Gubernur Ali Sadikin. Entah sekarang bagaimana kelestarian kawasan ini.

Pada zaman Jepang, Keroncong Tugu sempat dilarang penjajah karena dinilai berbau Eropa. Syairnya pun dianggap menimbulkan rasa nasionalisme. Diperkirakan musik keroncong bermula dari musik Portugis, Fado. Awalnya, Fado dibawakan oleh para budak dari Afrika yang masuk ke Portugis. Kemudian berbaur dengan budaya Moor dari Afrika dan menjadi musik yang dikenal dengan nama Moresco.

Fado yang dimainkan dengan alat musik cavaquinho ini kemudian beradaptasi dengan masing-masing daerah yang dikunjungi Portugis. Di Hawaii, alat ini disebut ukulele, di Brasil disebut machete, dan di Indonesia disebut keroncong karena bunyinya yang croong… croong… croong. Ciri khas dari Krontjong Toegoe ini adalah pemakaian alat musik rebana dan lagu-lagu yang dibawakannya, yakni dari Portugis, Belanda, dan lagu-lagu perjuangan Indonesia. Seorang pengamat musik Belanda pernah menganggap bahwa musik Keroncong Tugu ini adalah cikal bakal dari Jazz. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori