Oleh: hurahura | 7 Mei 2016

Perjalanan Raja Hayam Wuruk Pulang dari Palah

Romie-1Perdhikan lurah i wetan daha…Candi Surawana

Uraian Nāgarakrtāgama (Dĕsawarnnana) dalam Pupuh 61:2 memberikan penjelasan perjalanan Raja Hayam Wuruk menuju ke selatan Blitar:
ndan ri çakha tri tanu rawi riɳ weçaka, çri natha muja mara ri palah sabhrtya, jambat siɳ ramya pinaraniran/ lanlitya, ri lwaɳ wentar mmanuri balitar mwaɳ jimbe (Kern 1919).

Disebutkan Raja Hayam Wuruk (çri natha) pada Tahun Saka 1283 (tiga badan dan bulan) Bulan Waisaka, baginda raja berangkat nyekar ke Palah, kemudian mampir ke Lawang Wentar, Balitar, dan Jimbe.

Uraian berikutnya, Pupuh 62:2 menyebutkan:
çri narapaty amargga ri jukuɳ jo yanabajran / pamurwwa, prapta raryyan i bajralaksmin amgil / ri çurabhane sudarmma;

Pada saat pulang dari Palah (Ribut Palah), Raja Hayam Wuruk (çri narapaty) mengambil jalan Jukung, Jnanabajra terus ke timur, berhenti di Bajralaksmi dan bermalam di pedharmaan Surabhana (=Surowono)(Sasongko, 1999:141).

Memperhatikan uraian di atas, antara Komplek Candi Penataran dengan Candi Surowono sangatlah penting dalam perjalanan keliling Raja Hayam Wuruk ke pelosok Jawa Timur. Begitu pula dengan candi-candi lain yang ada di sekitar dua bangunan tersebut, termasuk Candi Tigowangi yang dekat dengan Candi Surowono di wilayah Kediri. Seberapa pentingkah daerah-daerah swatantra tersebut?

Kita beranjak ke masa sebelum Majapahit hadir, Prasasti Harinjiɳ A (804 M) menyuratkan:
swasti çakawarṣatita 726 caitra;
masa tithi ekadasi suklapaksa wara ha. wa. so. Tatka-;
la bhagawanta bari I culaŋgi sumaksyakan simaniran mula dawu-;
han gawainira kali i harinjiŋ hana ta lmah dapu bhi saŋ apatih a-;
tuha kambah deni kali hineyan lmah satamwah de bhagawanta bari… (Atmodjo, 1985: 49-52).

Romie-2Bendungan yang tampak sekarang

Prasasti yang pada bagian sisi belakang (verso, Harinjiɳ B) berangka tahun 843 Saka dan tersurat dikeluarkan atas perintah Sri Maharaja Rake Layang Dyah Tulodhong mengukuhkan pemberian sima swatantra dari raja sebelumnya kepada Bhagawanta Bari dari Culaŋgi atas pembangunan bendungan di Sungai Harinjiŋ pada hari Senin tanggal 11 paro terang bulan Caitra 25 Maret 804 M).

Bisa dibayangkan potensi daerah sima tersebut pada masa pemerintahan Mataram Kuna (Jawa Tengah) sebagai daerah pertanian lembah antara Sungai Harinjiŋ dan Sungai Konto. Nama besar Bhagawanta Bari sekarang identik dengan nama sungai tersebut (Sasongko, 1999: 191).

Di antara kedua Sungai inilah terhampar persawahan-persawahan sima pedharmaan Tigawaŋi dan Surabhana. Seperti uraian Nāgarakrtāgama pada Pupuh 82:2:
sri nathe siŋhasaryyanaruka ri sagala dharmma parimita; sri natheŋ weŋker iŋ surabhana pasuruhan lawan tan i pajaŋ; buddha distana tekaŋ rawa ri kapuluŋan mwaŋ locanapura; sri nathe watsarikaŋ tigawaŋi magawe tusteŋ para jana (Pigeaud, 1960:63).

Pada Era Pertanian Masa Majapahit sudah dikenal tindakan optimalisasi usaha perluasan tanah pertanian untuk meningkatkan produksi hasil pertanian mereka. Dari uraian di atas disebutkan Sri Nata Weŋker (Bhre Weŋker) membuka hutan Surabhana Pasuruan dan Pajaŋ, mendirikan pula perdhikan Buddha di Rawi, di Kapuluŋan dan Locanapura. Sedangkan Raja Hayam Wuruk sendiri membuka ladang Watsari di Tigawaŋi (Sasongko, 1999:154).

Perluasan Tanah Pertanian di Tigawaŋi dan Surabhana mendorong untuk meningkatkan secara optimal teknologi pengairan. Hal ini tersurat dalam uraian Prasasti Kuśmala atau Kandangan) 1350 M berikut:
❶swasti śakawarṣatita 1272 margaśiramāsa thiti pañcadaśi śuklapakṣa;
❷ma. wa. ā. wara pahāng. irikā diwaśa ni (?) kasampurnna nikanaŋ dawuhan śilamat i ;
❸kuśmala di rakryān dĕmuŋ saŋ martabun raŋga sapu. maka maŋgala rakaki ŋamurwwa;
❹bhumi. mapariwara raŋga hawarawar. ju….(mu) saŋ apañji pupon makana saŋ ajña;
❺pāduka bhaṭāre matahun śrī bhaṭāra wijayarājasānanta wikramottuŋga;
❻dewa, jāgaddhitahetu. magawaya sukani para sāmya sakahawat luraḥ;
❼ wetan i daha… (Machi Suhadi & Richadiana K, 1996: 38-39).

Campur tangan penguasa atau raja dalam bidang pertanian sudah ada sejak lama di Jawa, terutama sekali ditujukan pada usaha-usaha yang berhubungan dengan pembuatan maupun perbaikan sarana irigasi. Tersurat dalam Prasasti Kusmala di atas yang dikeluarkan pada tanggal 15 paro terang Bulan Margasira Tahun Saka 1272 atas perintah Paduka Bhaṭāre Matahun Śri Bhaṭāra Wijayarājasānanta Wikramottuŋgadewa yang mengsejahterakan bumi dan mengusahakan kebahagiaan penduduk desa di sebelah timur Daha (luraḥ wetan i daha). Prasasti ini menandai sempurnanya pembangunan dawuhan śilamat bendungan batu) di Kuśmala oleh Saŋ Apanji Pupon dan diresmikan oleh Rakryan Demuŋ Saŋ Martabun Raŋga Sapu.


Daftar Pustaka:

Atmodjo, MM. Sukarto K. 1985. Sekitar Masalah Sejarah Kadiri Kuna;

Kern, H., 1919. “De Nagarakrtagama, oudjavaansch lofdischt op Koning Hayam Wuruk van Majapahit”, dalam VG 7;

Machi Suhadi & Richadiana K. 1996. Laporan Penelitian Epigrafi di Wilayah Provinsi Jawa Timur No. 47;

Pigeaud, Theodore G. Th. 1960. Java in The 14th Century: A Study in Cultural History. Vol I;

Sasongko, RH. 1999. Domestikasi Hewan Pada Masyarakat Agrikultur di Gunung Kelud: Kajian Berdasarkan Temuan Sisa Fauna dan Relief Candi Masa Majapahit. Skripsi (belum diterbitkan). Univ. Udayana.

Laporan: Romie Harie
Foto: Internet


Responses

  1. … Kesimpulan dari uraian tersebut,.. Apa’?

    • Ini cuma tulisan pengantar perjalanan, jadi hanya deskriptif, bukan analitis…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: