Oleh: hurahura | 22 Mei 2017

Penggunaan Tembikar dalam Upacara Keagamaan

Kendi-02Kendi dari tanah liat koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik (Foto: Djulianto Susantio)

Tembikar merupakan salah satu artefak yang ditemukan di situs masa prasejarah maupun masa klasik (Hindu-Buddha). Temuan tembikar di suatu situs berupa fragmen atau bentuk utuh. Melalui data artefaktual itu para arkeolog dapat menganalisis bentuk dan fungsinya pada masa lampau. Menurut Sumijati Atmosudiro (1994: 1) tembikar sebagai budaya materi diciptakan manusia dari bahan tanah liat, dikerjakan melalui proses yang saling berkaitan dan berurutan.

Proses pembuatannya diawali dari perolehan dan pengolahan bahan, pembentukan, dan pembakaran. Kemahiran membuat tembikar merupakan bukti adanya kemampuan adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Menurut Santoso Soegondho (1995: 7) pada masa manusia mulai mengenal tulisan, gerabah masih terus bertahan bahkan semakin berkembang, baik jenis maupun teknologi ataupun fungsinya. Tradisi gerabah terus berlangsung hingga kini di berbagai penjuru dunia khususnya Asia dan Indonesia.

Banyaknya temuan tembikar dalam kegiatan ekskavasi, menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di situs tersebut pada zaman dahulu menggunakan tembikar. Penggunaan tembikar oleh masyarakat penunjang peradaban pada masa prasejarah dan klasik memiliki beberapa tujuan. Pada masa prasejarah tembikar digunakan sebagai alat perlengkapan sehari-hari dan tempat penguburan yang berupa tempayan kubur. Pada masa klasik (Hindu Buddha) penggunaan tembikar sebagai alat perlengkapan sehari-hari dan perlengkapan ritual upacara keagamaan. Bukti bahwa pada masa klasik (Hindu Buddha) tembikar digunakan sebagai perlengkapan sehari-hari adalah temuan tembikar di bekas permukiman masa Mataram Kuno Situs Liyangan di Kabupaten Temanggung. Sedangkan bukti bahwa tembikar digunakan sebagai perlengkapan ritual adalah ditemukannya fragmen tembikar di halaman Candi Sambisari, Yogyakarta.


Kemudahan bahan baku

Tembikar merupakan salah satu benda yang dibuat oleh masyarakat untuk keperluan sehari-hari dan upacara keagamaan. Masyarakat pada masa klasik membuat tembikar dari bahan tanah liat. Tanah liat merupakan sumber daya alam yang mudah didapatkan di Indonesia. Masyarakat pada waktu itu sudah dapat memanfaatkan sumber daya alam di sekitar tempat tinggal mereka untuk membuat peralatan yang dibutuhkan.

Kemudahan mengakses tanah liat membuat masyarakat pada masa klasik menggunakannya sebagai bahan baku pembuatan tembikar. Tembikar dibuat dengan bahan baku yang mudah diakses oleh masyarakat pada masa klasik. Pada masa itu tanah liat juga dimanfaatkan sebagai bahan baku batu bata penyusun candi.


Kemudahan proses pembuatan

Tanah liat sebagai bahan baku pembuatan tembikar mudah diolah menjadi barang keperluan sehari-hari dan upacara keagamaan. Proses pengolahan tanah liat menjadi tembikar siap pakai tidak memerlukan waktu lama. Tahap awal pembuatan tembikar adalah menyiapkan tanah liat, mencampurkan tanah liat dengan air, membentuk adonan tanah liat menjadi barang yang diinginkan, menjemur, dan kemudian membakarnya.

Di Candi Borobudur terdapat relief yang menggambarkan penggunaan tembikar. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada masa klasik tembikar sudah digunakan. Data etnografi proses pembuatan tembikar di sekitar Candi Borobudur saat ini masih dapat dijumpai. Data tersebut dapat diperoleh di sentra pembuatan tembikar Dusun Klimpoh, Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Magelang. Di Dusun Klimpoh yang letaknya dekat dengan Candi Borobudur, proses pembuatan tembikar dilakukan dengan cara tradisional dan diwariskan dari generasi ke generasi.


Unsur “Pancamahabuta”

Penggunaan tembikar sebagai perlengkapan upacara dalam ritual keagamaan pada masa klasik, ditunjukkan dengan temuan tembikar di halaman candi. Dalam agama Hindu dikenal konsep Panca Mahabuta, unsur tersebut berupa, pertiwi (zat padat), apah (unsur cair), bayu (udara), teja (unsur panas), akasa (unsur penyusun alam semesta). Menurut analisis penulis, dalam proses pembuatan tembikar di dalamnya terdapat unsur Panca Mahabuta. Unsur tersebut terdapat dari awal pengumpulan bahan hingga tembikar siap digunakan oleh masyarakat. Terdapatnya unsur panca mahabuta membuat tembikar memiliki makna religius. Untuk itu upacara keagamaan selalu menggunakan tembikar sebagai perlengkapan upacara.


Daftar Pustaka

Atmosudiro, Sumijati. 1994. Gerabah Prasejarah di Liang Bua, Melolo, dan Lewoleba: Tinjauan Teknologi dan Fungsinya. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Soegondho, Santoso. 1995. Tradisi Gerabah di Indonesia: Dari Masa Prasejarah Hingga Masa Kini. Jakarta: PT Dian Rakyat.

**********

Penulis: Naufal Raffi Arrazaq, Mahasiswa Arkeologi UGM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: