Oleh: hurahura | 19 Maret 2012

Museum van Het BGKW

Warta Kota, 8 Maret 2012 – Sejak masa Renaisans atau ‘Kelahiran Kembali’ pada abad ke-15 di Eropa, berbagai hal yang terkait dengan ilmu pengetahuan berkembang pesat. Banyak kalangan terpelajar dan bangsawan Eropa memiliki hobi baru, yakni mengumpulkan benda-benda kuno. Benda-benda tersebut disimpan dalam suatu tempat. Mereka kemudian saling memperlihatkan koleksi, bahkan secara berkala bertemu untuk mendiskusikan benda-benda tersebut.

Ketika bangsa Eropa mencapai Nusantara dengan tujuan utama mencari rempah-rempah, mereka pun tertarik dengan budaya Nusantara yang dianggap eksotik. Rasa ingin tahu mereka sangat besar. Karena itu mereka melakukan berbagai ekspedisi dan penelitian ilmiah sampai ke daerah pedalaman. Tak cuma itu, mereka mendirikan berbagai lembaga ilmiah, di antaranya di Batavia.

Berbagai benda budaya milik para kolektor dan cendekiawan kemudian dikumpulkan di lembaga ini. Lembaga yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) itu berdiri pada 24 April 1778. Inilah cikal bakal Museum Nasional. J.C.M. Radermacher menyumbangkan koleksi mata uang (numismatik) dan Orsoy de Flines menghibahkan koleksi keramik asing. Saat ini koleksi numismatik Museum Nasional merupakan terlengkap di Indonesia, sementara keramik asingnya menjadi salah satu koleksi terlengkap di dunia. Sumbangan lain berasal dari pelukis Raden Saleh, Junghuhn, Bupati Galuh, Kinsbergen, dan Canter Visscher (Sejarah Permuseuman di Indonesia, 2011). Lembaga BGKW juga mengelola perpustakaan. Dulu dikenal sebagai Perpustakaan Museum Pusat, yang kemudian menjadi Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba sekarang.

Nama yang mula-mula untuk museum ini adalah Museum van Het BGKW. Meskipun dikelola oleh orang-orang Eropa, namun pengenalan warisan budaya bangsa tidak hanya dilakukan untuk masyarakat dalam negeri, tetapi juga ke luar negeri. Berbagai pameran internasional pernah diikuti Museum van Het BGKW, yakni di Inggris (1851), Belanda (1883), Prancis (1889), Belgia (1910), dan untuk kedua kalinya di Prancis (1931). Pada 1931 inilah terjadi musibah di lokasi pameran. Kebakaran hebat melanda gedung sehingga merusakkan sejumlah koleksi batu dan logam asal Nusantara. Sebagian koleksi musnah, sebagian lagi berhasil selamat, namun sudah berwarna hitam terkena asap pekat. Beberapa arca batu korban tragedi Prancis, masih bisa disaksikan di Museum Nasional sekarang.

Memang ada asuransi kerugian yang kemudian digunakan untuk perluasan gedung. Namun kerugian besar kita adalah tidak bisa lagi melihat koleksi-koleksi asli yang musnah. Kini hanya tersisa dokumentasi fotonya. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: