Oleh: hurahura | 24 Februari 2012

Sejarah Tato di Indonesia

Oleh: Djulianto Susantio
Arkeolog

Di mata awam, orang bertato sering diidentikkan dengan pelaku tindak kriminal. Sebenarnya pandangan tersebut keliru besar. Sejak lama berbagai suku bangsa di dunia sudah mengenal tato. Dari hasil penelitian diketahui tato memiliki beragam fungsi, antara lain sebagai jimat, simbol status, deklarasi cinta, tanda keyakinan agama, perhiasan, dan bahkan bentuk hukuman.

Di Indonesia tradisi tato amat dikenal di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Baru beberapa tahun belakangan ini saja, wilayah Mentawai banyak disukai turis asing. Umumnya para peselancar (surfer) sering berburu ombak ke sana. Bagi banyak peselancar, keelokan ombak Mentawai termasuk salah satu yang terindah di dunia, di samping Hawaii.

Suku Mentawai dikenal banyak memiliki rajah atau tato di tubuhnya, sesuai ritual Arat Sabulungan. Arat Sabulungan merupakan satu sistem pengetahuan, nilai, dan aturan hidup yang dipegang kuat dan diwariskan oleh leluhur suku Mentawai. Mereka meyakini adanya dunia roh dan jiwa.

Filosofi mereka adalah setiap benda yang ada, hidup atau mati mempunyai roh dan jiwa seperti manusia. Mereka pun harus diperlakukan seperti manusia. Karena itu orang tidak boleh menebang pohon sembarangan, tanpa izin penguasa hutan (taikaleleu), serta kesediaan dari roh dan jiwa dari kayu itu sendiri. Untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan dengan dunia roh, manusia, dan alam, orang Mentawai mempersembahkan berbagai sesaji dan melakukan berbagai ritual.

William Marsden dalam laporannya abad ke-18 mengatakan, umumnya penduduk Mentawai memakai tato (titi). Mereka mulai memberi tato pada anak laki-laki sejak berumur tujuh tahun. Semakin bertambah usia si anak, tato semakin dilengkapi. Khusus di Pagai, salah satu gugusan pulau di Mentawai, tato kaum perempuan berbentuk bintang dan ditorehkan di kedua bahu. Tato itu dibuat dengan kawat tembaga yang dipasang tegak lurus di ujung sepotong kayu dengan panjang sekitar 20 sentimeter. Tinta yang dipakai terbuat dari jelaga damar yang dicampur air atau air tebu (Sejarah Sumatra, hal. 272).

(Bersambung)

*Tulisan ini merupakan bahan untuk penyusunan ARKEOPEDIA (ENSIKLOPEDIA ARKEOLOGI)

Iklan

Responses

  1. Iya gan. Suku mentawai itu terkenal akan tatonya. ^^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: