Oleh: hurahura | 20 April 2016

Jejak-jejak Bahari Masih Kuat

MisoolPUSAT ARKEOLOGI NASIONAL

Warga menunjukkan gambar cadas berbentuk perahu di Gua Tomolol, Usaha Jaya, Misool Selatan, Raja Ampat, Papua Barat, 29 Maret 2016. Di tebing-tebing karst pesisir Raja Ampat ditemukan lebih dari 1.000 gambar cadas kuno peninggalan manusia prasejarah.

Para peneliti Pusat Arkeologi Nasional menemukan lebih dari 1.000 gambar cadas kuno yang tersebar di 60-an situs di Misool Selatan, Raja Ampat, Papua Barat. Jejak-jejak peninggalan bahari tersebut berupa gambar perahu, kapal, ikan, penyu, udang, dan ubur-ubur.

Penelitian secara mendalam tentang jejak prasejarah di sekitar Misool Selatan dilakukan sejak 2014. Terakhir, pada 19 Maret 2016 hingga 3 April 2016, tim peneliti Pusat Arkeologi Nasional menemukan enam situs gambar cadas di Gua Tomolol, Usaha Jaya, Misool Selatan, berupa lima tebing berwarna merah bergambar figur hewan dan tangan. Ditemukan pula satu situs gua dengan gambar perahu layar berwarna hitam yang diduga merupakan perahu Austronesia.

Ingatan Kolektif Budaya Maritim Perlu Dibangkitkan Kembali

“Gambar perahu tersebut berwarna hitam berbahan arang. Letaknya berada di dinding gua yang bagian dasarnya terendam air laut setinggi 3 meter,” ujar Adhi Agus Oktaviana, peneliti Pusat Arkeologi Nasional, Selasa (19/4), di Jakarta. Gambar cadas ini, menurut dia, agak unik karena dibuat dari arang, bukan hematit seperti gambar-gambar cadas yang ditemukan sebelumnya.

Seperti temuan-temuan sebelumnya, ciri-ciri bahari sangat kuat terdokumentasi pada gambar-gambar cadas di tebing dan ceruk-ceruk karst yang tersebar di Kepulauan Raja Ampat. Beberapa gambar berciri bahari yang ditemukan yaitu berbentuk ikan, teripang, cumi-cumi, ubur-ubur, udang, kuda laut, manta, penyu, tulang ikan, kepala ikan, ekor ikan, kapal, dan perahu. Ditemukan pula gambar lain, yakni manusia, kadal, ular, unggas, burung, bumerang, drum, tombak, panah, kapak, busur, tangan, dan gambar-gambar geometris.

“Gambar cadas perahu berwarna hitam yang ditemukan memiliki bentuk perahu yang masih sangat sederhana,” ujar arkeolog bawah air Pusat Arkeologi Nasional, Shinatria Adhityatama. Menurut dia, bentuk perahu tersebut belum bercadik, tetapi sudah dilengkapi dengan atap.

“Bentuknya mirip perahu mayang. Kemungkinan dahulu kelompok Austronesia memanfaatkan perahu ini,” ucapnya.


Tipikal sama

Misool-2Menurut Adhi, gambar-gambar cadas yang ditemukan di Misool, Raja Ampat, memiliki karakter yang hampir sama dengan gambar-gambar cadas di Pulau Seram, Maluku, dan Teluk Berau, Papua Barat. Kedua tempat itu berjarak sekitar 200 kilometer dari Misool.

Temuan gambar-gambar cadas di Papua Barat dan sekitarnya mengindikasikan kehadiran bangsa penutur bahasa Austronesia di tempat tersebut. Menurut arkeolog Australian National University, Peter Bellwood, dan arkeolog Universitas Gadjah, Yogyakarta, Mada Daud Tanudirjo, penutur Austronesia tiba di Asia Tenggara dan Oceania pada 4.000-2.700 tahun lalu.

Di sekitar Kepulauan Raja Ampat, diduga sempat terjadi interaksi budaya antara penutur Austronesia dan kelompok manusia prasejarah ras Australomelanesid yang terlebih dulu tiba di Papua sejak 60.000-an tahun lalu.


Budaya maritim

Di tengah jejak-jejak kebaharian Nusantara yang masih kuat, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid menilai ada ironi, yakni sejarah bahari leluhur Nusantara yang dulu berkembang pesat tak lagi melekat dalam imajinasi kultural sosial masyarakat sekarang.

“Membangun infrastruktur maritim, seperti pelabuhan-pelabuhan dan tol laut, memang penting. Namun, jika kita tidak membangkitkan kembali imajinasi kolektif budaya maritim kita, orang lain yang justru akan menarik manfaat dari pembangunan infrastruktur maritim itu,” kata Hilmar.

Karena itu, perlu dibangun kembali koneksi yang lebih erat antara masyarakat dan dunia kemaritiman dengan membangkitkan imajinasi kultural sosial. Untuk mewujudkan gagasan itu, tahun ini Ditjen Kebudayaan menggelar Ekspedisi Jalur Rempah yang terdiri atas serangkaian kegiatan. (ABK)

(Sumber: Kompas, Rabu, 20 April 2016)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: