Oleh: hurahura | 5 November 2013

Trowulan dan Industri Lokal

RENCANA pembangunan pabrik baja di kawasan situs Trowulan akhirnya dibatalkan oleh Bupati Mojokerto. Pembatalan tersebut atas dasar prinsip lebih mengutamakan kepentingan umum dan negara. Kabar rencana pembangunan pabrik baja itu mulai ramai dibicarakan masyarakat pada Agustus 2013. Mereka menentang keras karena pabrik akan merusak situs cagar budaya.

Kawasan situs Trowulan diyakini masih banyak menyimpan peninggalan Majapahit. Kondisi Trowulan saat ini juga dinilai tidak steril. Selain banyak pabrik pembuatan batu bata skala kecil dan besar, di lokasi tersebut semua orang juga bebas mendirikan bangunan.

Selain melakukan unjuk rasa di depan pabrik baja dan Pendapa Kabupaten Mojokerto, masyarakat yang peduli pun membuat Petisi Online Penyelamatan Trowulan melalui situs http://www.change.org. Petisi tersebut kemudian diserahkan kepada Gubernur Jawa Timur.


Trowulan

Situs Trowulan ditemukan pada masa Gubernur Jenderal Raffles berkuasa di Hindia Belanda (1811-1816). Luas wilayah yang diduga ibu kota Kerajaan Majapahit itu diperkirakan mencapai 9 kilometer x 11 kilometer. Banyak candi dan peninggalan arkeologi terdapat di sana.

Djul-kompasPenyelamatan situs Trowulan menjadi isu internasional setelah situs tersebut dinyatakan sebagai situs pusaka World Monuments Fund yang terancam hancur.

Karena terancam punah, pada 8 Oktober 2013 lalu, situs Trowulan masuk dalam program World Monuments Watch tahun 2014.

Sebenarnya kekhawatiran akan situs Trowulan sudah dirasakan sejak 1960-an. Ketika itu, perusakan besar-besaran terjadi di sana.

Masyarakat mengambili batu bata merah dari pekarangan rumah mereka untuk ditumbuk menjadi bahan baku pembuatan semen merah. Di kawasan Trowulan pernah terdapat sekitar 300 industri bata merah.

Kebiasaan penduduk mencari emas dengan cara menggali lubang, kemudian menyaring pasir, juga masih ramai dilakukan. Otomatis tanah dan benda-benda di dalamnya ikut terganggu.

Penggalian untuk mencari bata merah kuno masih berlangsung hingga kini karena permintaan pasar masih cukup tinggi.

Industri semen merah menjadi massal karena masyarakat tidak mempunyai keterampilan lain.

Pernah ada upaya merelokasi masyarakat dari Trowulan, tetapi mendapat tentangan. Bahkan, pemerintah daerah tidak memiliki anggaran sebagaimana yang dibutuhkan. Akhirnya, upaya relokasi gagal.

Tidak mengherankan, industri lokal itu tetap berjalan tanpa bisa dicegah oleh para ilmuwan. Maka, sampai kini, meskipun menurut kitab kuno Nagarakretagama (1365) terdapat ratusan candi dibangun pada masa Kerajaan Majapahit, sisa-sisanya sudah tidak bisa ditemukan lagi. Sebagian besar lenyap tergerus industri semen merah.


Didiamkan

Jelas tak terhitung banyaknya bata kuno yang sengaja dihancurkan masyarakat dengan dalih demi perut. Bukan hanya itu, artefak-artefak berukuran kecil pun sering ditemukan penduduk dan dijual kepada pengunjung Trowulan.

Situs Kolam Segaran, masih di kawasan Trowulan, juga pernah mengalami ”pelecehan arkeologi” pada masa Orde Baru.

Biang keladinya adalah ulah segelintir paranormal yang mengusulkan kepada para pejabat untuk menjadikan tempat itu sebagai tempat mencari berkah. Muncul cerita, di sana ”Prabu Brawijaya” datang memberikan ”petunjuk” kepada para petinggi Orde Baru.

Agar ”Prabu Brawijaya” kerasan di sana, situs dipugar. Tragisnya, yang memugar adalah para ”arkeolog dukun” alias paranormal itu berdasarkan wangsit, bukan atas dasar landasan arkeologis.

Memang kejadian di situs Trowulan masih dikategorikan sebagai ”perusakan” sehingga ”dosanya” lebih ringan daripada ”penghilangan” atau ”perobohan” peninggalan masa lalu.

Namun, sebenarnya banyak bangunan kuno di sejumlah kota justru sengaja dihilangkan atau dirobohkan karena dianggap tidak mempunyai prospek ekonomi. Bangunan lama digantikan dengan bangunan baru di atasnya.

Sebagai negara yang telah mengalami perjalanan sejarah panjang, ada ribuan warisan kuno yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Trowulan hanyalah salah satunya. Masih banyak situs dan artefak terbengkalai di sejumlah daerah.

Seperti halnya yang lalu-lalu, alasan klasiknya adalah ketiadaan dana perawatan. Sampai kapan kita tidak menghargai warisan nenek moyang?

Djulianto Susantio
Arkeolog dan Penulis Lepas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: