Oleh: hurahura | 13 Agustus 2011

Penduduk Batavia Abad ke-18 (1)

Warta Kota, Jumat, 12 Agustus 2011 – Sebelum dibangunnya kota Batavia oleh VOC, kota Jayakarta masih sedikit didiami penduduk. Banyak tanah kosong dan hutan belantara terdapat di sana. Namun sejak diambil alih oleh VOC, pembangunan giat dilaksanakan, terutama di sekitar pesisir atau pelabuhan. Akibatnya pada abad ke-18 Batavia menjadi salah satu kota paling ramai dan sibuk di dunia. Banyak penduduk bekerja dan kemudian menetap di sini.

Memang tidak ada data resmi dan akurat mengenai jumlah penduduk Batavia pada abad ke-18 itu. Hanya diperkirakan 30.000 jiwa, bahkan hingga 100.000 jiwa sebagaimana laporan Valentijn. Mereka bertempat tinggal di dalam dan di luar benteng. Ditinjau dari komposisi penduduk, mereka terdiri atas berbagai bangsa dan sukubangsa. Selama periode kolonial ini, ras dan agama merupakan dasar terpenting dalam pelapisan sosial, alokasi pekerjaan, dan berbagai kesempatan lainnya.

Milone (1975) mengelompokkan penduduk dan masyarakat kota Batavia menjadi lima golongan. Pertama, orang-orang Eropa, termasuk para pejabat VOC. Kedua, warga kota merdeka, terdiri atas Vrijburger, Eurasian, Mardijker, Papanger, orang Jepang, orang Indonesia Kristen, dan beberapa orang Afrika. Ketiga, orang Cina, Arab, dan India. Keempat, orang Melayu. Kelima, orang Indonesia non-Kristen.

Yang dimaksudkan dengan orang Eropa adalah orang-orang Eropa yang dilahirkan di Eropa dan di luar Eropa yang menetap di Batavia. Umumnya, orang-orang Eropa yang dilahirkan di luar Eropa tidak menduduki posisi tinggi dalam struktur VOC dibandingkan orang-orang Eropa yang dilahirkan di Eropa. Termasuk ke dalam golongan ini adalah orang-orang Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, dan Portugis.

Istilah vrijburger (warga merdeka) mengacu pada sekelompok masyarakat Eropa yang tidak bekerja pada VOC, namun terikat oleh peraturan-peraturan tentang pertahanan militer. Eurasian sering disebut mestizo dan populer dengan istilah indo. Istilah ini dipergunakan untuk menyebut kelompok masyarakat yang dilahirkan oleh ibu Asia dan ayah Eropa. Namun dalam sejumlah kepustakaan, kedua istilah sering dibedakan. Mestizo untuk menyebut peranakan dari ayah Eropa, sementara eurasian atau indo adalah peranakan dari ayah Belanda.

Ditinjau dari kebangsaan, setelah Eropa yang menduduki status sosial di bawahnya adalah orang Timur Asing. Di antara orang-orang Timur Asing, orang Cina terbanyak jumlahnya. Di Batavia mereka merupakan golongan terpenting setelah bangsa Belanda karena memberikan kontribusi besar di bidang perekonomian. Pada 1766 jumlah orang Cina di Batavia mencapai 2.518 orang (di dalam benteng) dan 24.157 orang (di luar benteng). (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori