Oleh: hurahura | 22 Januari 2015

Perbanyak Balai Pelestarian

Jumlah cagar budaya di Indonesia mencapai 70.000 lebih, antara lain berwujud situs, candi, rumah, gedung, makam, dan monumen. Namun, jumlah Balai Pelestarian Cagar Budaya yang mengurusi warisan sejarah hanya 12 balai.

Ke-12 Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) itu meliputi BPCB Bali, Gorontalo, Jambi, Jawa Tengah, Jawa Timur, Makassar, Samarinda, Serang, DI Yogyakarta, dan Ternate. Dua balai lain dikelola secara khusus, yaitu Balai Konservasi Borobudur dan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

”Jumlah 12 BPCB itu kurang sekali. Idealnya, satu provinsi punya satu BPCB,” kata Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harry Widianto saat mengunjungi percandian Batu Jaya di Karawang, Jawa Barat, Selasa (20/1).

Saat ini baru Jawa Tengah dan DIY yang memenuhi kriteria satu provinsi dengan satu BPCB. Meski kaya dengan benda cagar budaya, Sumatera masih minim balai pelestarian. Di wilayah timur, Ternate, Halmahera, sampai Papua, hanya ada satu balai.

Kondisi ini memaksa satu balai mengelola cagar budaya di beberapa provinsi. BPCB di Serang, misalnya, mengelola 1.059 cagar budaya di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung. Kepala BPCB Serang Yusuf BA mengatakan, pengelola balai harus memprioritaskan penanganan kawasan nasional atau situs penting, seperti percandian Batu Jaya atau situs Banten Lama. ”Batu Jaya akan ditetapkan menjadi kawasan cagar budaya nasional,” kata Yusuf.


400 BCB di Magelang

Akibat minim penanganan, sekitar 400 benda cagar budaya (BCB) masih berada di lahan, tanah pekarangan, rumah warga, dan balai desa di 13 kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tanpa pengamanan khusus, sebagian benda bersejarah itu rusak, bahkan sempat dicuri.

Menurut Staf Teknis Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang Lilik Eko Karminto, setiap temuan BCB dilaporkan ke BPCB Jawa Tengah. Namun, penyelamatan diprioritaskan untuk benda bernilai tinggi seperti arca. Sisanya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Magelang. ”Karena belum memiliki museum, BCB ditinggalkan di lokasi temuan atau cukup diamankan di rumah warga atau balai desa,” ujarnya.

Yoni berukir di Desa Banyuwangi, Kecamatan Bandongan, rusak akibat dipotong orang tak bertanggung jawab. Warga lalu mengamankan tujuh benda bersejarah lain di balai desa. Sebagian besar temuan BCB di Magelang merupakan peninggalan agama Hindu dari sekitar abad ke-8 Masehi. Sebagian besar berupa lingga, yoni, dan batu reruntuhan candi. (IVV/EGI)

(Sumber: Kompas, Kamis, 22 Januari 2015)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: