Oleh: hurahura | 30 Januari 2012

Jalatunda, ”Patirtan” Terkuno

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Warga memanfaatkan patirtan Jalatunda di lereng barat Gunung Penanggungan di Desa Seloliman, Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, untuk mandi, November 2011. Patirtan ini menunjukkan teknologi tata air yang cukup rumit pada saat itu.

Kompas, Rabu, 25 Januari 2012 – Seusai mandi di patirtan Candi Jalatunda, Khurotul Aini (39), instruktur senam dan warga Sidoarjo, Jawa Timur, bergegas mengganti pakaian. Dia ingin menutup prosesi itu dengan semadi.

Pagar pembatas ke teras tengah candi tingginya satu meter lebih, tetapi berhasil ia lewati hanya dengan sekali ayunan kaki. Perempuan ini mengaku bugar karena rutin datang ke Jalatunda untuk menyerap energi hangat di lereng Gunung Penanggungan.

Petang beranjak malam, suara tonggeret di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, itu memecah keheningan. Duduk bersila di tengah kemegahan candi, Aini membelakangi tebing.

Gemericik air yang dialirkan pipa-pipa batu kuno semakin mendukung suasana. Mata terpejam, napas terdengar diatur sedemikian rupa. Di lereng Penanggungan, puncak suci perwujudan Mahameru itu, doa-doa juga dipanjatkan,

”Sebagai instruktur senam, air Jalatunda membuat saya segar. Bisa menyembuhkan gatal-gatal, awet muda, membantu latihan pernapasan,” kata Aini seusai semadi.

Pengunjung lainnya, Totok Widiarto, warga Surabaya yang juga Ketua Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa di Jawa Timur, mengatakan, Jalatunda dianggap penting bagi warga yang percaya karena dulu di sinilah Raja Airlangga bersemadi.


Warisan terindah

Patirtan ini bukan sekadar taman air. Lebih dari itu, desain aliran air di bawah pipa-pipa batu andesit, juga pancuran atau jwaladara, telah dirancang matang, baik dari sisi estetika, agama, maupun fungsional.

”Kolam ini bukan kolam biasa, tetapi kolam suci. Fungsinya terkait upacara keagamaan,” kata arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono.

Inilah salah satu karya besar di bidang seni sekaligus religi di abad ke-10, tepatnya tahun 977 Masehi, yang hingga kini sulit dicari tandingannya di Indonesia. Para peneliti luar negeri berebut mengungkap Jalatunda.

Wardenaar yang pertama kali menemukan kompleks patirtan tahun 1815. Saat itu dia diberi tugas Gubernur Jenderal Raffles menyurvei bangunan-bangunan candi di era Majapahit. Gambaran Wardenaar mengundang rasa penasaran peneliti lainnya.

Publikasi pertama yang resmi adalah dari Domis ”De Oosterling” (1836). Setelah itu ada WF Stutterheim, ”Het Zinrijke Waterwerk Djalatoenda” (1937). Kemudian ada PH Pott dengan tulisannya ”Yoga en Yantra” (1946). F Bosch dan B de Haan dengan ”The Old Djavanese Bathing Place, Jalatunda” (1965) sudah mendeskripsikan dari sisi arsitektur.

Semua literatur mengagumi keindahan seni bangunan kuno di lokasi yang tidak biasa, yaitu di ketinggian gunung dan waktu itu sulit diakses.

Wardenaar menemukan sarkofagus bawah air yang direndam dalam sistem kolam. Di dalamnya terdapat beberapa kompartemen, salah satunya berisi abu, tulang manusia, dan emas.


Teknologi saluran

Patirtan Jalatunda memiliki dasar bangunan persegi berukuran 16,7 meter x 11,6 meter. Bangunan ini disusun dari batuan andesit dengan hiasan berupa relief yang dipahat halus.

Dwi mengatakan, struktur bangunan diperkirakan bertingkat tiga, tetapi yang tersisa kolam tingkat pertama paling atas. Tingkat kedua dan ketiga tak ada lagi karena terkubur.

Total ada 52 pancuran yang dibentuk pada sebuah lubang batu. Di sekelilingnya ada relief tokoh-tokoh Pandawa dan keturunannya.

J Bernet Kempers dalam bukunya Ancient Indonesian Art (1959) mengatakan, cara pengaturan pancuran-pancuran itu sangat menarik. Air mengalir melalui pancuran yang bertatahkan relief Pandawa sehingga para leluhur seakan-akan dihidupkan kembali oleh air suci.

Dwi Cahyono menuturkan, sistem saluran di patirtan ini merupakan bentuk kecanggihan teknologi air pada zamannya. ”Air dialirkan menuju kolam secara bertingkat atau bertangga karena itu sebutan tunda pada Jalatunda ini menggambarkan air yang turun secara berteras,” kata Dwi.

Selain fungsi religius, patirtan ini juga punya fungsi irigasi. ”Fungsi ini juga dikaitkan dengan konsep kesakralan air yang menyuburkan,” kata Dwi.


”Patirtan” Belahan

Selain Jalatunda, patirtan besar lainnya adalah Belahan di lereng timur Penanggungan. Semula air berasal dari mata air biasa, tetapi pada patirtan ini telah mengalami sakralisasi dengan cara mengalirkan air melalui pancuran air.

Hal itu antara lain melalui payudara dua arca yang berada di kanan kiri, yaitu Dewi Sri dan Dewi Laksmi. Sri dan Laksmi adalah sakti atau istri Dewa Wisnu. Di relung tengah yang sekarang kosong dulu ada arca Wisnu, tetapi arca ini tak ada di tempat lagi.

Menurut Dwi, patirtan ini sudah ada sejak abad ke-9 akhir atau abad ke-10 awal. Informasi satu-satunya adalah Prasasti Cunggrang yang berangka tahun 929 Masehi dikeluarkan Empu Sindok.

”Di prasasti ini menyebut kalimat Umahayu Sang Tirta Pancuran ri Pawitra. Kata umahayu ini adalah memperbaiki dan pancuran yang dimaksud adalah Jalatunda. Dengan demikian, patirtan ini pada abad ke-10 sudah ada perbaikan,” kata Dwi.

Fungsi patirtan diduga untuk memuja arwah Rakryan Bawa, yaitu ayah Empu Sindok.


Mengapa Penanggungan?

Jalatunda merupakan bangunan tertua di Jawa Timur terkait pemujaan gunung, begitu kata Agus Aris Munandar, arkeolog dan Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Lalu, mengapa ada di lereng Penanggungan? Bagi masyarakat dulu, Penanggungan atau Pawitra adalah gunung suci karena dianggap replika Gunung Mahameru di India. Dengan demikian, air yang berasal dari gunung ini adalah suci.

Penanggungan diapit empat bukit di empat mata angin, yang membuatnya sempurna, yaitu Bekel, Gajah Mungkur, Jambe, dan Kemuncup. Gunung ini juga dilingkari Sungai Brantas dan gunung besar lainnya, mirip gambaran Mahameru dikelilingi tujuh samudra dan tujuh gunung. (Amir Sodikin, Idha Saraswati, Ahmad Arif, Indira Permanasari)


Responses

  1. Dalam hal halnya adab-adaban Sunda Baru kemarin doeloe pun demikian halnya, air suci dan mensucikan pun dipergunaken dalam acara Siraman, Bancakan dlsb. Wilujeng Simpang Bakoe Hantam saja,dah !
    Caio, See U letter, ally Gator !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: