Oleh: hurahura | 10 November 2010

Letusan Merapi pun Mengubur Kota Kuno

Media Indonesia, Rabu, 10 November 2010 – SEBERAPA dahsyat letusan Gunung Merapi dulu dan sekarang? Pertanyaan itu dilontarkan Kepala Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Widya Nayati saat membuka perbincangan dengan Media Indonesia, kemarin.

‘’Merapi meletus tetap bencana, baik dulu atau sekarang. Tapi dalam catatan sejarah, letusan Merapi pada 1006 telah mengubur candicandi Hindu dengan lahar sampai 7 meter. Ini letusan Merapi yang benar-benar besar,’’ jawab dosen arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya UGM itu.

Cerita soal letusan Merapi masa lampau memang tidak pernah terekam. Baru setelah ada tradisi menulis pada abad ke-5, amuk Merapi mulai didokumentasikan melalui catatan sejarah ataupun prasasti.

Prasasti Rukam berangka tahun 829 Saka atau 907 Masehi yang ditemukan di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya.

Prasasti ini menyebutkan Desa Rukam pernah dilanda bencana letusan gunung berapi. Sangat mungkin gunung yang dimaksud adalah Merapi.

Letusan hebat juga pernah terjadi pada 1672 sebagaimana ditulis Babad Tanah Jawi. Dalam kitab itu digambarkan meletusnya Merapi menimbulkan suara menggelegar dan menakutkan.

Batu-batu besar beradu, beterbangan bercampur api. Jawa bagian tengah dilanda hujan batu. Lahar mengalir deras di sungai. Banyak desa terkubur dan hancur.


Kematian di mana-mana

RW van Bemmelen dalam bukunya The Geology of Indonesia terbitan 1949 menjelaskan, letusan Merapi yang dahsyat mengakibatkan sebagian besar puncak Merapi lenyap.

Bahkan terjadi pergeseran lapisan tanah ke arah barat daya. Terjadi pula lipatan yang antara lain membentuk Gunung Gendol. Letusan saat itu disertai gempa bumi, banjir lahar, serta hujan abu dan batu-batuan yang sangat mengerikan.

Tulisan Bemmelen tersebut didasarkan pada hasil observasinya saat memantau aktivitas Merapi pada 1930 di pos pemantau Merapi Babadan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Widya menegaskan, aktivitas Merapi memang telah mengubur banyak kota kuno di sekitar Merapi.


Merapi tidak hanya identik dengan kawasan Yogyakarta

Mulai dari Magelang, Muntilan, Yogyakarta, Klaten, dan Boyolali. Dan dari kotakota itu telah ditemukan banyak situs yang menandai adanya peradaban besar di masa lampau,’’ terangnya.

Tidak hanya kebudayaan Hindu yang berkembang di sana. Ada juga kebudayaan Buddha yang telah mewariskan warisan budaya dunia, yakni Candi Borobudur. Juga Candi Mendut dan sebagainya.

‘’Bahkan di luar ring Borobudur ada candi-candi yang melingkari. Cuma semuanya belum ketemu, diperkirakan masih tertimbun lahar Merapi.’’ Hal itu sangat mungkin lantaran seringnya Merapi meletus membuat candi yang semula ditemukan kembali menghilang, kemudian muncul lagi.

Widya menambahkan keberadaan candi pada masa itu tidak hanya sebagai upacara keagamaan.

Candi juga sebagai pusat pengembangan teknologi, budaya, ekonomi, dan politik.

‘’Sekarang Anda bisa bayangkan bagaimana membuat Candi Prambanan warisan Mataram kuno yang tingginya 47 meter itu? Ada teknologinya.

Bagaimana membuat relief? Ada teknologinya. Ini yang sering kali tidak diketahui masyarakat sekarang,’’ jelasnya.

Widya pun yakin masih ada kota-kota kuno yang belum terungkap. Mereka masih bersembunyi di bawah timbunan lahar Merapi berabad-abad silam.

(Siswantini Suryandari/H-1)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: