Oleh: hurahura | 11 Juni 2012

Rahasia Suku Maya (1)

Tidak seperti piramida Mesir yang terletak di padang pasir, piramida Maya, Kukulkan, di Chichen Itza, Meksiko, dikelilingi oleh hutan dan memiliki fondasi untuk sebuah kuil yang terletak di bagian atas piramida. (PEREZ/AFP/GETTY IMAGES)

epochtimes.co.id, Selasa, 5 Juni 2012 – Kiril Novoselsky, profesor ekonomi dan konsultan museum, baru-baru ini melakukan studi ke Semenanjung Yucatan dan Pulau Cozumel, Meksiko. Dalam perjalanan melalui beberapa peninggalan Suku Maya, lapangan sepakbola, piramida, dan prasasti ramalan, ia menemukan relasi antara kebudayaan Maya dengan berbagai fenomena yang terjadi di negara Rusia dalam kurun seabad terakhir.

Di dekat Piramida Chichen Itza yang terkenal, Profesor Novoselsky menemukan sebidang lapangan yang digunakan untuk permainan sepakbola, yang berasal dari zaman Pra-Columbus. “Saya sangat terkejut dengan kenyataan bahwa bangsa Maya terobsesi dengan sepakbola,” kata Novoselsky, yang juga merupakan anggota Komunitas Geografi Rusia. “Sepakbola dianggap sebagai permainan sakral, dan kapten tim pemenang akan dikorbankan kepada Dewa, yang dianggap sebagai sebuah kehormatan besar.”

Masa keemasan peradaban Maya klasik berakhir pada sekitar abad IX. Kota menjadi kosong dan sunyi. Berbagai tumbuhan serta akar pohon menembus dinding batu kuil dan piramida, dan menghancurkan mereka.

Para arkeolog mengklasifikasikan beberapa periode peradaban Maya, yaitu: pra-klasik (2000-300 SM), klasik (300 SM-900), dan pasca-klasik (900-1530).

Selama beberapa abad terakhir, penduduk yang padat dan kota-kota ekonomis yang telah dikembangkan, secara misterius menghilang seolah ditelan hutan. Kota Tikal, disebutkan pada prasasti di tahun 869 sebagai sejarah terakhir dari sebuah kota bangsa Maya.

Invasi dari suku-suku lain serta perang, dianggap sebagai kemungkinan alasan penurunan peradaban bangsa Maya. Namun alasan yang sesungguhnya, masih tetap menjadi misteri bagi para ilmuwan.


Piramida Maya

Piramida Maya berbeda dari piramida di Mesir. “Piramida-piramida ini memiliki jarak langkah yang lebar, yang mungkin digunakan sebagai dasar untuk kuil,” kata Novoselsky. Piramida Maya tidak terisolasi di padang pasir seperti piramida Mesir, tetapi dibangun di daerah-daerah berpenduduk di dalam hutan.

Pemandu wisata Novoselsky mengajak kelompok tur itu menuju tempat dimana pada masa lalu merupakan tempat berkumpulnya beberapa ratus ribu orang. Terletak di antara beberapa desa, situs itu kemungkinan digunakan sebagai tempat untuk menyampaikan pidato atau ceramah. Situs itu dirancang sedemikian rupa sehingga apabila seorang imam berbicara dengan tenang sekalipun, semua orang akan bisa mendengar suaranya dengan jelas.

Sang pemandu menyuruh anggota kelompok tur untuk bertepuk dengan pelan. “Suara melewati sebuah lubang yang unik di puncak piramida dan kembali sebagai gema layaknya di sebuah gedung opera,” ujar Novoselsky menjelaskan tentang fenomena masa lalu dimana manusia belum mengenal mikrofon maupun berbagai teknologi modern lainnya.

Peradaban Maya telah berkembang di sepanjang bagian selatan dan tenggara Meksiko dan juga di sekitar Guatemala, Honduras, dan Belize. Sedangkan di bagian lain dari Meksiko dihuni oleh suku Aztec, Olmec, Toltecs, dan suku-suku lainnya.

Piramida Maya digunakan untuk tujuan astronomi setidaknya dua kali setahun, yakni pada 21 atau 22 Maret, dan pada 22 atau 23 September, guna menandai hari ekuinoks atau hari peralihan menjelang musim semi dan musim gugur.

“Pada tanggal-tanggal ini, cahaya matahari terbit membuat bayangan menuruni tangga piramida dalam bentuk ular dan hingga mencapai anak tangga paling bawah dimana Anda akan dapat melihat gambar dari Dewa Kukulkan, yang berwujud ular berbulu yang memiliki kepala manusia,” tutur Novoselsky.

Jika bayangan telah mencapai anak tangga paling bawah, maka hari ekuinoks telah tiba. “Ini dibangun dengan sangat tepat sehingga sinar matahari sampai di kepala Dewa pada hari tertentu. Hal ini menandakan bahwa bidang astronomi, arsitektur, dan teknik, sudah sangat maju pada masa ini,” kata Novoselsky.

“Jika saya tidak membaca tentang topik sebelumnya, maka pasti saya akan berpikir bahwa hal-hal ini bukan berasal dari peradaban manusia saat ini,” tambahnya.


Akar Atlantea

Selain penemuan-penemuan di atas, kebudayaan bangsa Maya lainnya yang ditemukan adalah piramida bawah tanah, gua, dan berbagai kota. Novoselsky bertemu dengan orang-orang yang mengatakan bahwa menurut legenda, bangsa Maya merupakan penerus bangsa Atlantis, sebuah peradaban maju dalam legenda yang diperkirakan tenggelam di sekitar Laut Mediterania atau di wilayah Laut Karibia.

“Terdapat versi (cerita) dari orang-orang yang selamat dari bencana tersebut (tenggelamnya Atlantis) yang datang ke benua ini dan terus hidup sampai datangnya penaklukan Spanyol,” kata Novoselsky.

Sulit untuk mengetahui berapa banyak yang dihancurkan oleh penakluk Spanyol. Jika kita kembali ke abad XIV atau XV, mungkin akan dapat menemukan lebih banyak buku-buku peninggalan bangsa Maya. Di setiap desa, terdapat sebuah kuil dengan perpustakaan di dalamnya.

Penjajah Spanyol menghancurkan sebagian besar kebudayaan bangsa Maya. Mereka membakar buku kertas dan memecahi batu prasasti dengan tulisan hieroglif Maya. “Tulisan-tulisan tersebut hingga kini banyak yang masih belum dapat kita pahami, hanya beberapa hieroglif, yang sangat sulit dibaca,” menurut Novoselsky.

Namun Novoselsky melihat hal ini sebagai hal yang umum dilakukan oleh pihak penakluk. “Orang Spanyol mengira bahwa mereka datang kepada orang-orang primitif untuk mengajar dan mendidik mereka. Satu-satunya benda yang tidak dihancurkan adalah buku yang disimpan oleh seorang imam Spanyol karena rasa penasarannya terhadap kebudayaan yang menakjubkan dari bangsa ini.”

“Beberapa temuan dikirim ke raja Spanyol yang biasanya akan langsung diperintahkan untuk dihancurkan,” jelas Novoselsky.

Namun penjajah Spanyol tidak dapat mengubah budaya masyarakat setempat, meskipun mereka telah membakar buku dan memaksa penduduk untuk melupakan tulisan mereka. Budaya Maya tetap tertinggal di piramida, prasasti, tulisan di lembaran kayu, pakaian tradisional, dan tarian.

Awalnya, keturunan Maya masih dapat menulis tulisan asli mereka. Namun, melalui langkah politisasi dari Spanyol, setelah beberapa generasi, anak-anak mulai diwajibkan menulis dengan huruf Latin meskipun mereka masih berbicara dalam bahasa asli.

“Sehingga jika kini terdapat seorang anak suku Maya yang pergi ke salah satu kuil, dan melihat prasasti di sana, mereka tidak akan dapat membacanya karena ia sudah tidak mengerti bahasa tulisan Maya. Ini seperti yang terjadi di Rusia, dimana kebanyakan orang tidak dapat membaca bahasa Slavia kuno,” ujar Novoselsky. (Uliana Kim / The Epoch Times / osc)

[Bersambung]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori