Oleh: hurahura | 24 Agustus 2011

Monumen dan Patung yang Pernah Ada di Batavia

Warta Kota, Selasa/Rabu, 23/24 Agustus 2011 – Bangsa Belanda pernah menancapkan kekuasaannya di negara kita selama 350 tahun. Agar menjadi kenang-kenangan sejarah, mereka banyak mendirikan monumen dan patung, terlebih di Batavia sebagai pusat pemerintahan. Namun pada masa kemudian, peninggalan tersebut dihancurkan oleh bangsa Jepang yang berkuasa di Indonesia pada 1942-1945. Sebagian lagi dibongkar pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Meskipun sudah tidak ada lagi sisa-sisanya, sebagian masih bisa dilacak berdasarkan dokumentasi yang ada. Generasi sekarang dan generasi selanjutnya tentu patut mengenang keberadaan peninggalan-peninggalan tersebut sebagai sumber pembelajaran.

Dulu, di depan Masjid Istiqlal sekarang, pernah berdiri sebuah patung perunggu berujud bidadari bersayap. Kemungkinan patung itu menggambarkan kemenangan Belanda dalam Perang Aceh tahun 1873-1904. Patung itu berlokasi di Wilhelmina Park, sebuah nama yang mengingatkan kita pada nama seorang ratu Belanda. Konon, patung itu sangat indah buatannya. Lingkungan sekitar taman itu pun bersih. Di dekatnya terdapat sebuah terowongan, tapi tidak diketahui fungsinya. Hanya menurut cerita, ujung terowongan itu berada di dekat laut.

Sebelum dihancurkan pada 1957, mungkin karena dianggap berbau kolonial, Wilhelmina Park menjadi arena bermain anak-anak. Ada yang bermain layang-layang, ada pula yang bermain egrang dan gasing. Namun karena banyak ular, lambat-laun tempat itu ditinggalkan.

Diduga kuat, terowongan tersebut merupakan bagian dari sebuah benteng pertahanan yang dibangun oleh van den Bosch (1830-1833). Di mata masyarakat, terowongan itu dikenal dengan nama Gedung Tanah. Kemungkinan lain, bekas benteng tua dan tugu peringatan Perang Aceh itu dibongkar untuk memberi tempat kepada pembangunan Masjid Istiqlal. Yang dibongkar terlebih dulu adalah benteng tua. Pembongkarannya dilakukan selama berminggu-minggu menggunakan dinamit.

Banyak orang meyakini, patung di Wilhelmina Park itu mempunyai hubungan dengan monumen van Heutsz di dekat Jalan Cut Mutiah sekarang. Yohannes Benedictus van Heutsz adalah Gubernur Sipil dan Militer Aceh yang diangkat pada 1898. Sebelumnya dia menjabat sebagai salah satu kepala staf di Aceh dan komandan di Sumatera Timur. Setelah berakhirnya Perang Aceh, van Heutsz diangkat menjadi gubernur jenderal.

Selama dia berkuasa, Perang Aceh memasuki periode banjir darah. Hal ini karena van Heutsz menjalankan politik tangan besi. Pengejaran terhadap para pejuang Aceh, terus-menerus dilakukannya. Monumen van Heutsz dirancang oleh ahli patung H.A. van de Eynde bersama arsitek W. Dudok. Pengerjaannya oleh tukang batu di Batavia. Pembangunan monumen berlangsung pada 1926-1933. Ketika itu Monumen van Heutsz merupakan monumen terindah di Batavia.

Ketika Jepang berkuasa, para tentara Dai Nippon merusak monumen ini. Selanjutnya Presiden Soekarno memerintahkan penghancurannya untuk diubah menjadi lapangan. Sumber lain menyebutkan monumen tersebut dibongkar oleh Kempeitai (polisi rahasia Jepang). Setelah dibuang ke halaman kantor Jawatan Pekerjaan Umum di Jatibaru, beberapa bulan kemudian patung tersebut hilang. Ada yang menduga diangkut ke Jepang untuk dilebur. Entah pendapat mana yang benar, namun yang jelas monumen tersebut sudah lenyap tak berbekas.

Di Lapangan Banteng sekarang, pernah berdiri tiga buah patung monumental pada zamannya, yakni patung Michiels, patung J.P. Coen, dan patung Singa. Jonathan Michiels adalah seorang tuan tanah terkaya di Batavia. Mardijker ini tewas di Lombok. Kalau melihat sejumlah literatur lama, besar kemungkinan Monumen Michiels terletak di depan Gereja Katedral sekarang.

J.P. Coen adalah pendiri kota Batavia. Patungnya itu berlokasi di depan kantor besar (kini Kementerian Keuangan) yang didirikan pada masa pemerintahan Daendels. Bangunan itu selesai pada 1826, tak lama kemudian baru didirikan patung J.P. Coen itu. Pengecoran patung dilakukan di Eropa. Pada zamannya, patung J.P. Coen banyak didatangi masyarakat yang berkereta kuda.

Pada 1828 Daendels mendirikan patung Singa. Tujuannya adalah untuk memperingati peristiwa perang Waterloo, karena Daendels adalah bawahan Kaisar Napoleon dari Prancis. Namun patung Singa tersebut sering mendapat olok-olok. Banyak orang menganggapnya sebuah tiang besar dengan ”tanah liat di atas sepotong keju”.di puncaknya. Ketika tentara Jepang berkuasa, mereka segera menghancurkan patung itu. Menyusul patung J.P. Coen dan patung Michiels, namun sampai kini tahun penghancurannya tidak diketahui pasti.

Pemerintah Jepang pula yang merombak gerbang Kota Intan. Sebagai gantinya di tempat lama berdiri viaduct kereta api. Di Kota Intan ini pernah terdapat monumen asli Pieter Erberveld. Pada 1950-an monumen itu dibongkar oleh petugas militer Jakarta. Selanjutnya duplikat monumen didirikan di Jalan Pangeran Jayakarta, di sebelah Gereja Sion, sekarang menjadi ruang pamer perusahaan otomotif.

Kalau melihat suasana sekarang, tentu saja ada rasa penyesalan karena menghancurkan warisan-warisan masa lampau. Namun itulah kenyataan sejarah yang harus dihadapi, sisa-sisa kolonial terlalu dimusuhi. Akibatnya hanya cerita dan dokumen tertulis yang tertinggal tanpa didukung bukti fisiknya. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori