Oleh: hurahura | 7 Agustus 2010

Asadha, Pelajaran Hidup dari Candi Brahu

Oleh Nina Susilo

KOMPAS Jawa Timur – Selasa, 3 Agustus 2010

Buddham saranam gacchami.
Dhammam saranam gacchami.
Sangham saranam gacchami.
(Aku berlindung kepada
Buddha, aku berlindung kepada
Dhamma, aku berlindung kepada
Sangha).

Senja yang memerah di Candi Brahu, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, tampak menyambut ratusan umat Buddha yang berjalan kaki dari Mahavihara Majapahit. Umat yang membawa persembahan bunga sedap malam dan pelita segera memenuhi pelataran Candi Brahu.

Paritta Tisarana (doa pernyataan berlindung) mengalun pada Minggu (1/8) sore, mengiringi langkah umat Buddha yang memperingati hari Asadha. Presidium Sangha Agung Indonesia Yang Arya Bhikkhu Viryanadi Mahathera memimpin puja bakti. Selain itu, hadir pula 15 biksu.

Asadha menjadi istimewa karena mengingatkan saat pertama Buddha Sakyamuni mengajar umat manusia. Purnama pada bulan Asadha menandai dimulainya pelajaran berharga tentang kehidupan.

Lima pertapa yang beruntung dan mendengarkan khotbah pertama di Taman Rusa Isipatana, Benares, India, adalah Kondanna, Badhiya, Vappa, Mahanama, serta Asaji. Kelima pertapa yang menjadi murid pertama Buddha ini sekaligus menandai terbentuknya Sangha, persaudaraan para biksu.

Saat itu Buddha mengajarkan khotbah yang dinamakan empat kebenaran mulia. Pelajaran ini berisi empat dalil tentang hidup yang tidak memuaskan (dukkha), sebab-sebab ketidakpuasan itu, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha.

Secara umum, Buddha menyadarkan manusia tentang kondisi yang selalu berubah. Sepanjang manusia memiliki keinginan yang tiada habisnya, kekecewaan akan terus terjadi. Namun, hal ini bisa dihentikan. Karena itu, Buddha mengajarkan jalan tengah untuk mengatasi keadaan tidak memuaskan ini.

Tahun ini, 2.554 tahun Buddha Sakyamuni sudah mengajar. Umat Buddha di Jatim memperingati Asadha di Candi Brahu. Sebagai warga Jatim, kesenian tradisional reog ponorogo, tari kuda lumping, dan barongsai dipersembahkan sebelum puja bakti dimulai. Tidak hanya umat, warga sekitar Trowulan pun ikut menikmati keramaian ini.

Ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Jatim Irwan Pontoh mengatakan, budaya Jawa dan Tionghoa mengalir dalam darah umat Buddha. Karena itu, kesenian ini tetap dihadirkan sekaligus untuk memelihara kelestarian budaya.

Candi Brahu, yang hanya berjarak 2 kilometer dari Mahavihara Majapahit, diperkirakan dibangun pada abad ke-15 Masehi. Candi ini termasuk bangunan suci Buddhis karena terdapat stupa di bagian tenggara.

Candi yang menghadap ke barat ini diduga sebagai lokasi penyimpanan abu raja-raja Brawijaya. Kendati demikian, belum ditemukan bekas abu atau mayat.

Iklan

Responses

  1. Selamat pagi,.salam sejahtera kpd pemilik blog,yth bpk hura-hura..
    saya meminta tolong bapak,. sy ingin bertanya tentang sang budha,.bisakah..?
    Terima-kasih sebelumnya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: