Oleh: hurahura | 31 Juli 2013

PENINGGALAN BERSEJARAH: Rumah Raden Saleh Memprihatinkan

Kompas, Rabu, 31 Juli 2013 – Kondisi rumah Raden Saleh di kompleks Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta, sangat memprihatinkan. Sebagai bangunan bersejarah, rumah itu perlu segera dikonservasi agar tetap lestari.

Saat ini, rencana konservasi rumah Raden Saleh masih digagas Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI). Tim BPPI yang dikoordinasi arsitek Arya Abieta sedang mengumpulkan data, terutama bentuk asli rumah. Konservasi diharapkan mengembalikan rumah Raden Saleh ke bentuk aslinya.

”Berdasarkan foto, sudah ada perubahan kondisi rumah saat ini,” kata Arya, Senin (29/7), di Jakarta. Itu kemungkinan karena renovasi yang dilakukan pihak yayasan pengelola rumah sakit. ”Sepertinya ada penambahan di bagian belakang rumah”.

Menurut Arya, konservasi sangat diperlukan. Rumah yang diperkirakan berusia ratusan tahun itu sangat rentan rusak. ”Di lantai atas banyak bagian retak sehingga sangat berbahaya. Banyak juga bagian yang bocor,” katanya.

Dari tampak luar, rumah Raden Saleh yang kini difungsikan sebagai kantor yayasan dan ruangan direksi itu memang memprihatinkan. Cat di bagian atas banyak yang mengelupas, sedangkan di dinding kiri juga ada bagian yang ditumbuhi lumut.

Di langit-langit bagian bawah juga banyak terlihat bekas rembesan air hujan yang menyisakan jejak kecoklatan. Saat malam, bangunan sangat gelap karena minim pencahayaan. Masyarakat umum tak dibolehkan masuk melihat rumah tersebut, kecuali mendapat izin tertulis dari pengelola rumah sakit.

Direktur Eksekutif BPPI Catrini P Kubontubuh mengatakan, kondisi rumah Raden Saleh saat ini dipastikan sangat rentan. Di luar kondisi fisiknya yang sudah sangat memprihatinkan, ada banyak furnitur asli milik Raden Saleh yang perlu diselamatkan. Oleh karena itu, segera setelah pendataan selesai, ia berharap konservasi dilakukan.

Dia berharap konservasi dapat dilakukan menggandeng pihak swasta. Bukan semata-mata karena alasan pendanaan, tetapi agar upaya pelestarian bangunan bersejarah di Indonesia dapat menjadi perhatian bersama, termasuk pihak swasta.

”Harapannya, swasta juga dapat berinvestasi melalui pelestarian bangunan kuno. Seperti langkah yang dilakukan stadsherstel di Amsterdam, Belanda, kelompok pengusaha berinvestasi pada bangunan-bangunan bersejarah di sana. Selain turut merawat bangunan bersejarah, mereka juga mendapat keuntungan dari pengelolaan bangunan, misalnya sebagai tempat wisata,” kata Catrini.

Apabila konservasi rumah Raden Saleh sukses melibatkan swasta, kata dia, upaya ini dapat diduplikasi dalam upaya konservasi terhadap bangunan-bangunan tua lain. Salah satunya kawasan Kota Tua Jakarta.

Anggota staf Hubungan Masyarakat RS PGI Cikini, Jonathan, mengatakan, pihak RS mengetahui rencana konservasi itu. Meski belum ada sikap resmi dari RS, upaya konservasi merupakan langkah yang harus didukung.

Namun, jika kelak seusai renovasi rumah Raden Saleh dibuka untuk umum, butuh pembicaraan lebih lanjut. ”Jangan sampai mengganggu kebutuhan pasien,” katanya. (DOE)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori