Oleh: hurahura | 7 November 2010

Prasejarah Sumatera

Menurut beberapa peneliti, nama Sumatera berasal dari penamaan oleh orang India, berakar pada bahasa Sansekerta. Orang Hindu menamakannya Sumatra atau Samantara, sementara orang Arab menamakannya Al Rami atau Laremi. Masyarakat lebih tua menamakannya Taprobane, terkadang Zamotra. Kalangan terpelajar di Sumatera menamakan pulaunya Indalas, yang kemudian menjadi Andalas. Bahkan terkadang disebut Pulau Perca.

Pulau Sumatera sendiri dibelah oleh garis khatulistiwa, hampir dalam ukuran sama besar. Pulau ini pernah dianggap pulau terbesar di dunia oleh kalangan ahli ilmu bumi kuno. Luas Sumatera bersama pulau-pulau kecil di sekelilingnya, kira kira 474.000 km persegi. Di sini mengalir beberapa sungai besar dan kecil, seperti Barumun, Rokan, Kampar, Batang Kuantan, Batanghari, Musi, dan Sekampung.

Rangkaian pegunungan yang paling terkenal adalah Bukit Barisan, panjangnya lebih dari 1600 km. Berawal di dataran tinggi Gayo di barat laut, berakhir di teluk Semangka di tenggara pulau. Terdapat beberapa danau besar di pulau Sumatera, seperti Toba, Laut Tawar, Maninjau, Kerinci, dan Ranau.


Manusia Sumatera

Pulau Sumatera telah lama dihuni manusia purba. Berdasarkan sisa-sisa sampah dapur berupa cangkang kerang (kjökkenmöddiger) yang ditemukan bersama kapak genggam (pebble) di Sumatera Timur, hunian di tempat tersebut sudah ada sejak 11.000 tahun yang lampau, pada sekitar awal Holosen. Beberapa pakar menduga bahwa permukiman di daerah ini dihuni oleh manusia Papua-Melanesoid pada rumah-kolong yang dibangun di tepi pantai. Mereka menggunakan alat-alat batu. Makanan utama mereka adalah siput laut.

Kelompok manusia Papua-Melanesoid yang lain tinggal di gua-gua dan ceruk-ceruk pada dinding batu. Sisa-sisa hunian dalam gua ditemukan di Jambi (Gua Tiangko Panjang) dan di Sumatera Selatan (Gua Silabe, Gua Pandan, Gua Karang Pelaluan, Gua Karang Beringin, dan Gua Harimau). Dari dalam gua ditemukan alat-alat batu dan kayu yang pertanggalannya mengacu pada 5700-9000 tahun yang lampau. Khusus pada Gua Harimau, pada dindingnya terdapat lukisan dari bahan oker. Alat-alat batu dari gua-gua tersebut berasal dari masa preneolitik – neolitik. Di samping itu ditemukan juga alat dari logam perunggu dan barang-barang tembikar.

Di wilayah Pagaralam (kaki Gunung Dempo) banyak ditemukan tinggalan megalitik yang berupa arca-arca batu dan bilik-bilik batu. Ketika ditemukan bilik batu tersebut dalam keadaan tertimbun tanah. Sebagai tanda pada permukaan “pintu” yang tertimbun terdapat sebongkah batu. Beberapa di antara bilik batu yang sudah terbuka, pada bagian dindingnya terdapat lukisan yang dibuat dari bahan oker.

Sebuah kompleks megalit ditemukan di Situs Tinggihari berupa batu-batu menhir. Batu-batu menhir ini diberi bentuk yang menggambarkan manusia dan binatang, didirikan sepanjang jalan yang mendaki ke puncak bukit yang tingginya 700—1.000 meter dpl. Tanah pegunungan ini mempunyai kontur yang bervariasi. Bagian tengahnya dipotong oleh Sungai Lematang yang pada akhirnya bermuara di Sungai Musi. Situs ini terletak mulai dari tepi jalan yang menghubungkan Pulau Pinang dan Tinggihari, sekitar 4 km dari tepi jalan raya yang menghubungkan Lahat dan Pagaralam.

Seluruh tinggalan budaya dari masa prasejarah tersebut memberikan informasi kepada kita bahwa pada masa lampau, di daerah hulu Musi sudah terdapat hunian manusia. Hunian awal ini mengambil lokasi di daerah tepian-tepian sungai pada bidang tanah yang tinggi. Hunian yang sedikit lebih maju ditemukan di daerah kaki Gunung Dempo di sekitar kota Pagaralam sekarang. Dari tempat ini banyak ditemukan arca-arca megalit dan bilik-bilik batu yang berhiaskan lukisan dari bahan oker.

Belum lama ini di dusun Sentang, Medak Banyulencir, Musi Banyuasin di dalam sebuah kubur, ditemukan tempayan besar berisi tengkorak kepala manusia purba, periuk, dan mata tombak. Di sekitarnya ditemukan banyak gerabah yang merupakan benda keperluan sehari hari. Sebelumnya benda temuan yang mirip ditemukan di situs Lebak Bandung, Jambi.

Kerangka manusia purba lain ditemukan di daerah Aceh, yaitu di kawasan gua Mendale, kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh tengah. Usia manusia purba itu diperkirakan 3.500 tahun.

(dari berbagai sumber)

Iklan

Responses

  1. Sumatra bukan berasal dari bahasa india, tapi berasal dari kata samtra atau samudra yang bila ditulis dalam huruf arab smtr atau smdr. Samtra adalah lokasi kecamatan di Aceh begitu juga dengan Samudra berlokasi di Aceh Utara.

  2. saya ingin mencari jejak kaki manusia raksasa yg terjadi di sumatra


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: