Oleh: hurahura | 17 Mei 2011

Tokoh Arkeologi: Prof. Dr. Raden Pandji Soejono

Foto: Djulianto Susantio

Dunia arkeologi Indonesia kembali kehilangan salah seorang pelopornya. Prof. Dr. Raden Pandji Soejono, yang akrab disapa Pak Jono, meninggal pada Senin, 16 Mei 2011 karena sakit. Beliau dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Meskipun sudah sepuh, lahir 27 November 1926, beliau masih terlihat sering beraktivitas. Pensiun tidak menghalanginya untuk terus membagi ilmu kepada siapa saja yang membutuhkan. Ruang kerjanya di lantai 2 Gedung Puslitbang Arkenas, dipenuhi berbagai literatur tentang prasejarah, bidang yang ditekuninya sejak menjadi mahasiswa. Karena kepiawaiannya dalam bidang prasejarah, beliau dijuluki Bapak Prasejarah Indonesia.

Bagi Pak Jono, umur tidak menyurutkan semangat dan tekad. Umur hanya mengurangi keleluasaan gerak. Dalam berbagai kesempatan memang Pak Jono selalu berjalan tertatih-tatih, memakai tongkat, dan diiringi Bintarti, salah seorang murid setianya. Berbagai acara sering diikutinya, misalnya 9 windu Edi Sedyawati di Galeri Nasional (2010) dan sertifikasi arkeologi di Museum Nasional (2011).


Mandiri dan Internasional

Berkat kegigihannya, arkeologi Indonesia yang pada awalnya berciri amatiran menjadi satu cabang ilmu pengetahuan dalam kegiatan yang diatur sesuai standar internasional. Berkat kegigihanya pula, arkeologi Indonesia menjadi nasionalistik dan mandiri. Lembaga yang (pernah) dipimpinnya pun, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) menjadi pusat penelitian yang disegani di dunia internasional.

Kiprah R.P. Soejono di bidang arkeologi prasejarah dimulai tahun 1950, ketika empat mahasiswa Universitas Indonesia membuat kesepakatan. Soekmono dan Satyawati Soelaiman, dua dari empat mahasiswa pertama jurusan sejarah kuno dan ilmu purbakala, memilih bidang klasik (masa Hindu-Buddha). Boechari memilih bidang epigrafi (ilmu tentang prasasti). Soejono sendiri memilih bidang prasejarah.

Tiga bidang yang dirintis tahun 1950 itu menonjol dalam pengkajian arkeologi di Indonesia, khususnya masalah kepurbakalaan yang ditangani ahli-ahli Indonesia. Menyusul kemudian Uka Tjandrasasmita yang mengambil spesialisasi bidang Islam. Empat bidang berdasarkan periodesasi itu—prasejarah, klasik, Islam, dan epigrafi—tetap bertahan hingga kini.

Mulanya, Soejono mengambil jurusan sejarah. Karena dianggap kurang cocok, dia pindah ke arkeologi. Tentang arkeologi, dia mengutip cendekiawan Denmark, Worsaae. Bangsa yang menghargai dirinya sendiri dan kemerdekaannya tidak mungkin puas dengan hanya memandang kepada masa kininya. Dia harus memberikan perhatian kepada masa-masa lampaunya.

Soejono pernah menjabat Kepala Puslit Arkenas periode 1977-1987. Saat itu Puslit Arkenas menjadi bagian dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Namun saat ini Puslit Arkenas masuk ke dalam Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Namanya pun diembel-embeli Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas). Soejono tidak setuju dengan hal tersebut. Arkeologi di Indonesia dipandangnya sudah ”mati suri”. Akibatnya menurut Soejono, penelitian tidak lagi seramai tahun-tahun 80-an. Arkeologi disempitkan dalam sisi manajemen, sedangkan ilmunya tidak. Mengembangkan dan memperkenalkan kekayaan alam dan manusia Indonesia memang perlu, tetapi yang tidak kalah penting adalah isi, ilmu yang menjadi sarana dan fondasi awal mula suatu masyarakat modern Indonesia.

”Kalau terus dibiarkan, kekayaan ilmu pengetahuan kita diambil orang luar. Kita belajar dari mereka. Kita tidak lagi pemegang kendali dan sumber, sebaliknya kita mempelajari tentang diri kita lewat pengetahuan dan bahan dari orang lain. Belum lagi banyak peninggalan kita dibawa orang,” tegas Soejono.

Karena keprihatinan, campur aduk marah-kecewa dan tekadnya, bersama 17 budayawan lain di tahun 2000 dia menyampaikan Pernyataan (Petisi) kepada Presiden RI. Mereka ingin posisi kebudayaan termasuk arkeologi tidak dipinggirkan dan nama Puslit Arkenas dikembalikan seperti semula. Petisi mereka diabaikan. Nama Puslit Arkenas diganti menjadi Asisten Deputi Urusan Arkeologi Nasional. Di sana tidak hanya arkeolog tetapi juga antropolog, sejarawan, ahli seni, dan lain-lain yang menyiapkan kebijakan tentang pariwisata, seni, dan budaya.


Arkeologi kosmetik

Soejono memperoleh gelar doktor dari UI tahun 1977 dengan disertasi ”Sistem-sistem Penguburan pada Akhir Masa Prasejarah di Bali”. Pada 2008 disertasinya dibukukan oleh Puslitbang Arkenas.

Di lapangan Soejono dikenal dengan metode penggalian yang rapi, cosmetic archaeology atau arkeologi kosmetik. Metode ini dia adopsi secara ketat dari gurunya, Prof. H.R.van Heekeren sejak tahun 1952. Arkeologi kosmetik memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya diperoleh data yang akurat, dan kesimpulan atau tafsir tidak gegabah. Kekurangannya lamban dan super hati-hati, suatu kebiasaan yang barangkali tidak populer di zaman sekarang yang menuntut serba cepat. Meskipun demikian metode ini banyak diikuti oleh para arkeolog muda, terutama di Puslitbang Arkenas.

Sebagai arkeolog bidang prasejarah, Soejono berhasil meyakinkan, arkeologi tidak sekadar mengungkap peninggalan yang sudah berkalang tanah. Untuk memperoleh pengetahuan lebih lengkap, bangsa bersangkutan akan memberikan perhatian pada obyek-obyek kuno yang diperoleh dari dalam tanah.

Sebagai ilmu, menurut keyakinan Soejono, arkeolog akan terus waspada atas temuan dan tafsir baru demi pengetahuan dan kelengkapan suatu masyarakat. Penelitian arkeologis tidak hanya didasarkan atas artefak-artefak yang ditemukan, tetapi juga lingkungan sekitar dan kebiasaan masyarakat.

Foto: Kompas

Pak Jono oleh Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) pernah diusulkan sebagai Bapak Prasejarah Indonesia. Pendirian IAAI sendiri dipelopori oleh Pak Jono pada 1976. Bahkan beliau pula yang mendirikan Asosiasi Prehistori Indonesia (API), sebagai ajang membagi ilmu para peminat prasejarah.

Soejono pensiun sebagai PNS pada 1981. Namun sehari-hari masih berada di salah ruang ruangan Kantor Puslit Arkenas. Sehari-hari berangkat pulang dari rumah Cipete ke kantor menyopir sendiri. Bahkan hingga tahun 2000-an dia masih melakukan hal demikian. Untuk menyiasatinya, anak-anaknya pernah mengatakan mobilnya rusak dan sedang masuk bengkel. Karena lama (pura-pura) berada di bengkel, malah dia sering ngoceh, tukang bengkelnya dibilang tidak becus.

Lelaki dengan tiga anak ini dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar luar biasa pada FSUI, Agustus 1984, menjelaskan bahwa arkeologi mempunyai peranan dalam usaha menggugah rasa kebangsaan. Khusus kepada keluarganya, dia berkata: ”Kepada istriku, Vasca, dan anak-anakku, Uki, Hita, Arsa. Mengejar materi arkeologi adalah berbeda dengan mengejar materi duniawi. Terima kasih atas pengertianmu sekalian selama ini di kala saya berlanglang buana dan mengembara di pelosok tanah air.”

Dia menyadari, tugasnya telah menyita waktu untuk keluarga. Sebelum menikah dengan Hanggarina Ambaroekmi Vascayati, 1958, sejak 1953 dia sudah melakukan survei, ekskavasi, rekonstruksi, dan preservasi kepurbakalaan ke gua-gua dan pelosok Nusantara. (berbagai sumber/Djulianto Susantio)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori