Oleh: hurahura | 30 September 2010

Menyingkap Mitos Piramida

Tempointeraktif.com, 17 April 2000 – SUDAH ribuan tahun piramida tergolek di hamparan padang pasir di Mesir. Sepanjang waktu itu pula sosok keajaiban dunia itu tetap menjadi teka-teki, terutama bagi para peneliti. Salah satu hal yang paling membuat penasaran mereka adalah bagaimana tumpukan batu berton-ton bisa tegak berdiri sekian abad lamanya. Pertanyaan itu tak urung membuat pusing para arkeolog sekaligus arsitek ulung. Seolah-olah begitu rumitnya, sampai-sampai para ahli sempat berkesimpulan bahwa tak mungkin membangun piramida baru. Soalnya, piramida ditengarai bukan dibangun oleh manusia, melainkan diciptakan oleh kekuatan lain di luar manusia.

Sudah sedemikian buntukah upaya para ahli untuk menelisik misteri piramida? Ternyata belum juga. Setidaknya hal itu dapat ditilik dari hasil penemuan dua arkeolog amatir Prancis, Jean- Yves Verd’hurt, 60 tahun, dan Gilles Dormion, 55 tahun. Verd’hurt adalah manajer real estate, sedangkan Dormion bekerja sebagai juru gambar di sebuah kantor arsitek. Akhir Maret lalu, dua orang itu berhasil menyingkap misteri piramida melalui penemuan adanya ruang dan lorong kosong dalam piramida Maydum yang berumur 4.600 tahun. Temuan itu diyakini sebagai kunci untuk mengetahui teknik pembangunan piramida. Sebab, ruang dan lorong kosong inilah yang diduga membuat sosok piramida yang beratnya berton-ton itu bisa tetap berdiri.

Sebelumnya, satu-satunya petunjuk untuk mengungkap rahasia kekuatan piramida hanyalah adanya kamar-kamar khusus, seperti pada piramida Cheops (4.500 tahun) yang tegak di dataran Giza di luar Kota Kairo. Kamar khusus itulah yang membuat efek gaya berat piramida terhadap kamar dan jalan yang ada di bawah kamar khusus tersebut berkurang. Namun, hasil penemuan di Cheops belum bisa digunakan untuk menganalogikannya dengan misteri piramida secara umum.

Baru pada penemuan Verd’hurt dan Dormion di piramida Maydum, satu misteri teknik pembangunan piramida terkuak. Memang, dalam proses penemuan itu, keduanya memperoleh ganjalan berupa terkuburnya sebagian besar tubuh piramida Maydum dalam lautan pasir. Untuk mengatasi kendala itu, pasangan arkeolog tersebut menggunakan metode endoskopi, laiknya pembedahan yang dilakukan dokter. Setelah mengebor tembok, mereka memasukkan pipa yang dilengkapi kamera di ujungnya.

Fokus utama penelitian pasangan arkeolog ini adalah dua ruang kecil yang sudah diidentifikasi sebelumnya di samping koridor yang menuju jantung piramida. Dua kamar ini memiliki atap datar. “Atap datar itu hanya bisa menahan beban minimum. Karena itu, pasti ada ruang kosong di atas dua kamar tersebut. Kalau tidak, pasti beban berat piramida tak bisa disangga oleh atap datar, sehingga badan piramida secara keseluruhan bisa runtuh,” kata Dormion.

Saat mencari ruang yang dimaksud, pertama-tama mereka menemukan satu lorong, yang disusul dengan dua kamar yang dilengkapi anak tangga. Kedua kamar ini kosong, tapi terlihat sangat tertata rapi. Mereka juga menemukan lorong panjang yang sejajar dengan lorong yang sudah teridentifikasi sebelumnya. Menurut Jean-Pierre Corteggiani, ahli Egyptology dari Prancis, temuan itu membuktikan bahwa sebelum piramida Cheops, bangsa Mesir terbukti telah mampu membuat ruang yang meringankan bobot bangunan secara keseluruhan. Maydum dibangun oleh Houni, kakek Cheops.

Persoalannya: hanya ruang peringan beban itukah yang membuat piramida mampu terbangun menyongsong langit? Ada beberapa fenomena yang diyakini sebagai faktor keberhasilan satu piramida tegak. Menurut Joseph Seiss, penulis buku A Miracle in Stone, pada abad ke-19, bertahannya piramida tak lain lantaran bangunan unik itu terletak pada pusat gaya berat benua-benua. Selain itu, piramida terletak tepat pada pusat semua daratan di dunia. Jadi, bila melalui piramida ditarik garis vertikal dan horizontal, akan didapatkan empat bagian massa daratan bumi yang setara besarnya.

Piramida juga terletak pada posisi 30 derajat bujur timur, yang merupakan daratan terpanjang di meridian. Ia pun berada pada posisi 30 derajat lintang utara, yang merupakan daratan sejajar terpanjang pada bola dunia. Lokasi piramida berada itulah yang diyakini sebagai satu-satunya tempat yang mempertemukan garis-garis terpanjang di dunia. Nah, berbagai kelebihan itu pula yang diyakini sebagai penyebab tercapainya keseimbangan pada sosok piramida, sehingga bangunan itu bisa lama bertahan.

Entah masih bisa dipertahankan atau tidak tesis lokasi piramida sebagai titik pusat gaya berat bumi itu. Demikian pula hasil penemuan dua arkeolog tadi tentang adanya ruang kosong sebagai penyangga daya berat piramida. Yang pasti, rentetan penemuan itu semakin menambah panjang daftar pertanyaan seputar misteri piramida.

Yusi A. Pareanom


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori