Oleh: hurahura | 11 Agustus 2017

Arkeologi dan Politik Identitas

Balar-sumsel-01Ekskavasi (penggalian) arkeologi di Bukit Siguntang oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan (Foto: Balai Arkeologi Sumatera Selatan)

Juli 2017 lalu publik dihebohkan oleh besarnya pemberitaan yang berhubungan dengan disiplin Arkeologi. Media-media online, cetak, dan media sosial dijejali berita yang menjadi viral itu, yaitu tentang Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Majapahit.

Berita tersebut sebenarnya muncul berdasarkan sebuah buku yang ditulis pada  2014 lalu. Entah kenapa menjadi pembicaraan ramai di kalangan publik baru tahun ini.  Yang menjadikan fenomena, buku ini menjadi perbincangan yang akhirnya membuat kalangan arkeolog harus melakukan pembicaraan dan klarifikasi kepada publik bahwa hasil kesimpulannya menyimpang dari kajian ilmiah (sejarah dan arkeologi). Kajian sejarah dan arkeologi yang kita ketahui bersama menghasilkan anggapan bahwa pada masa itu (abad ke-13 M) orang-orang di kerajaan Majapahit menganut Hindu dan Buddha. Meskipun ada beberapa aliran religi lain seperti Tantra, Karesiyan, dan Islam.


Politik identitas

Banyak orang mengatakan, munculnya fenomena di atas berhubungan dengan politik identitas sebuah kelompok. Politik berkaitan dengan soal penyelenggaraan pemerintahan dan Negara. Oleh karena itu kegiatan-kegiatannya diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan atas masyarakat dan berkaitan pula dengan pelaksanaan kebijakan publik.

Munculnya fenomena baru-baru ini mempertegas peran warisan budaya dalam kaitannya dengan politik, terutama politik identitas. Isu-isu tentang kebudayaan masa lalu yang lebih maju dari bangsa lain di dunia bisa memperkuat legitimasi golongan tertentu yang ditujukan pada publik sebagai alat kekuasaan atau eksistensi. Dalam salah satu tulisannya mengenai nilai penting warisan budaya, Daud A. Tanudirjo (2004) mengemukakan bahwa salah satu nilai penting yang dimiliki oleh warisan budaya adalah salah satunya aspek politis, yaitu ketika warisan budaya dipakai sebagai legitimasi politis kelompok atau negara tertentu.

Kita selayaknya bisa memilah-milah dan tidak berkompromi dengan hasil kajian yang melenceng, dalam artian menggunakan metode yang tidak jelas. Kebenaran sangat relatif dan tergantung masing-masing individu, tetapi melalui dialektika yang berdasar pada metode keilmuan yang sudah teruji lama dan banyak digunakan, tentunya kita dapat memilih kajian mana yang dapat diyakini. Kajian seperti fenomena di atas bukan hal baru dalam dunia keilmuan.

Sebagai contoh yang ramai beberapa tahun belakangan adalah hasil kajian dalam buku Chariot of God. Buku ini menghubungkan tinggalan-tinggalan arkeologi secara khusus di Meksiko dan beberapa contoh lain merupakan buatan makhluk ruang angkasa. Jika mencermatinya, kajian seperti ini telah menentukan tujuannya terlebih dahulu baru mencari data-data pendukung untuk memperkuat kesimpulannya.


Arkeologi Semu

Pemilihan data dipilah sesuai apa yang menjadi kesimpulan yang akan ia peroleh, artinya peneliti hanya mengambil data yang menurutnya dapat mendukung kesimpulannya yang telah ia buat terlebih dahulu itu dan mengesampingkan data lain yang tidak mendukung kesimpulannya. Para ahli menyebut kajian semacam ini dengan istilah Pseudo ilmiah atau Pseudo-Archaeology (Arkeologi Semu).

Kita juga harus lebih tajam (peka) memperhatikan fenomena sosial di sekitar kita akhir-akhir ini. Seperti isu perpecahan yang mengatasnamakan golongan tertentu, apalagi menyangkut salah satu agama di negeri ini. Peran kita semua sebagai individu adalah tidak ikut memperparah keadaan. Memang hubungan warisan budaya dengan kepentingan politik sangat dekat.

Henry Cleere (1990) mengatakan bahwa ada tiga pokok kepentingan yang ada dalam pengelolaan cagar budaya, yakni kepentingan ideologi dalam kaitannya dengan jati diri bangsa (politik), kepentingan akademik, serta kepentingan ekonomi dalam kaitannya dengan pariwisata. Identitas kebangsaan yang diambil dari tinggalan arkeologi sebagai gambaran atas informasi kehidupan masa lalu suatu bangsa akan memberikan rasa bangga yang menjadi identitas masyarakat sebagai pewaris budaya untuk menginspirasi masyarakat agar berusaha menjadi lebih baik setelah bercermin dari masa lalu. Tergantung menggunakannya secara positif atau negative. Contoh negatif seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Menggunakan potensi historiografi masa lalu dan tinggalan masa lalu untuk kepentingan eksistensi melalui politik identitas.


Media sosial

Hal lain yang juga marak adalah isu ‘peran dan kekuatan media sosial’ di kalangan publik. Munculnya media sosial mengakibatkan seseorang dapat dengan leluasa menyatakan pendapatnya dan langsung mendapatkan tanggapan dari orang lain. Sudah banyak kasus yang diakibatkan postingan pernyataan atau cuitan di media sosial yang membawa akibat fatal di dunia nyata. Lebih parah lagi berkaitan dengan ranah hukum. Fenomena kemunculan berita-berita di atas juga menjadi diskusi dan mendapatkan banyak tanggapan dari beberapa grup pecinta sejarah, arkeologi, budaya  di media sosial Facebook.

Berdasarkan pengamatan penulis di media sosial Facebook, grup-grup pecinta sejarah dan  budaya memiliki berbagai macam sifat dan tujuan yang berbeda tergantung minat dan motivasi anggota grup. Mayoritas yang menyamakan mereka adalah hobi blusukan situs arkeologi. Grup-grup ini paling banyak berbasis di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Anggota mereka beragam, ada yang akademisi, masyarakat umum, seniman, sampai pejabat. Mayoritas pandangan arkeolog, menganggap masyarakat awam masih meyakini cerita-cerita mistis pada tinggalan arkeologi yang pernah mereka kunjungi. Mungkin itu fenomena dahulu kala. Nyatanya sekarang ini sudah banyak grup yang melakukan diskusi ilmiah dan melakukan tukar-menukar buku literatur arkeologi, meskipun sebagian besar mereka bukan arkeolog atau orang yang berkecimpung dalam bidang budaya. Fenomena ini mungkin tidak lepas dari faktor teknologi informasi-komunikasi dan hadirnya kebersediaan beberapa arkeolog yang sering terjun langsung memberikan dukungan untuk mereka.


Penggalian liar

Disamping itu, munculnya beberapa grup ini bisa dijadikan arkeolog sebagai media memahami masyarakat yang selanjutnya dapat digunakan untuk sarana menyampaikan informasi arkeologi secara mudah dan efektif. Sebagai arkeolog, mencari kemitraan baru dengan para pemangku kepentingan (khususnya masyarakat sebagai stakeholder pelestarian), akan memberikan gambaran bagi mereka menghadapi tantangan untuk menemukan cara-cara baru mendengarkan dan berbagi perspektif yang berbeda di luar perspektif arkeologi adalah pencapaian penting di masa depan.

Hanya yang perlu untuk dijadikan catatan sekarang ini adalah kemunculan beberapa grup yang “tidak sehat” menurut kajian arkeologi. Beberapa kelompok melakukan cara-cara pelestarian menurut mereka yang justru merusak tinggalan arkeologis. Contohnya melakukan penggalian “liar” tanpa metode penggalian arkeologi, sudah banyak dokumentasinya di internet (Youtube). Kalau sudah begitu susah menghadapinya. Penulis punya pengalaman dengan kelompok seperti itu tetapi memang sifat dan kemauan mereka yang keras kepala dan sulit untuk terbuka menerima kritikan adalah salah satu tantangannya.***

Penulis: Yogi Pradana, Arkeolog Universitas Gadjah Mada

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: