Oleh: hurahura | 18 Februari 2012

Dari Ubin Hingga Loteng (4)

Warta Kota, Jumat, 17 Februari 2012 – Bangsa China di Batavia banyak berjasa dalam menyebarluaskan teknik-teknik penting dalam hunian. Keterampilan mereka banyak dipuji orang-orang Eropa pertama yang mendarat di Banten. Memang, sebelum kedatangan bangsa Eropa, banyak orang China sudah bermukim di Banten. Kualitas rumah-rumah mereka di Pecinan dipandang kuat, direncanakan secara masuk akal, dan lebih tahan terhadap api. Tembok tebal, atap dari genteng, dan adanya loteng menjadi ciri rumah China. Loteng adalah lafal China, biasanya untuk hunian malam hari yang berfungsi untuk menahan panas ruangan dan mengisolasi lantai dasar. Ruang-ruang ditata berderet, untuk mendukung aliran udara dan menjamin ventilasi.

Dinding rumah di-cat putih dan lantai dilengkapi ubin. Rumah berarsitektur China juga dilengkapi langkan (semacam pagar) dan pangkeng (kamar tidur). Untuk penguat kayu dan pemanis, digunakan engkah (lem kayu), di Betawi saat ini disebut ka, dan gincu. Untuk kebersihan rumah digunakan pengki dan kemoceng (bulu ayam). Agar dinding tidak kaku, dilengkapi dengan lonceng sambil makan sekoteng. Agar rumah aman perlu dijaga oleh centeng. Kata-kata asal China itu masih dikenal luas di Jakarta sampai sekarang, terutama untuk rumah Betawi.

Hanya disayangkan, rumah Betawi yang umumnya terbuat dari kayu, kini nyaris musnah. Kalau tidak segera dilestarikan, mungkin akan segera hilang dari khasanah budaya Jakarta. Budaya Betawi memang banyak terpengaruh budaya China, termasuk baju encim, baju koko, sanggul pengantin berhiaskan burung hong hingga tradisi angpao, petasan, lenong, dan gambang keromong.

Pecinan menjadi menarik dan pusat perdagangan karena dibangun sesuai kaidah feng shui. Ilmu tata letak ruang asal China ini didasari oleh gagasan kuno bahwa manusia harus hidup selaras dengan kosmos. Untuk menentukan arah, maka pakar menggunakan kompas khusus. Adanya kompas geomansi ini pernah digambarkan oleh Caspar Schmalkalden, perwira Jerman yang bertugas pada VOC (1646-1648) di Batavia (Nusa Jawa: Silang Budaya, 2, 1996). Feng shui yang baik dipercaya akan menarik keberuntungan yang baik pula.

Inti jaringan perdagangan China hampir selalu berada di toko. Kata yang berasal dari bahasa Hokian ini sudah baku dalam bahasa Indonesia. Kata toko bersinonim dengan kata kedai, yang berasal dari bahasa Tamil (India). Di Sumatera dan Semenanjung Melayu, kata kedai banyak digunakan. Sungguh masuk akal kalau ruko (rumah toko) yang dikenal sekarang, merupakan perkembangan dari toko-toko di Batavia. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori