Oleh: hurahura | 27 September 2011

Pelestarian Arsitektur China

Bangunan berarsitektur China di Pintu Kecil awal abad ke-20. Seluruh bangunan hilang karena pembangunan jalan tol pada tahun 1980-an.

Warta Kota, Selasa, 27 September 2011 – Keberadaan bangunan berarsitektur China semakin terdesak. Pesatnya pembangunan fisik, mulai rapuhnya kondisi bangunan, dan ketidaktahuan (ketidakpedulian) masyarakat termasuk pemerintah, menyebabkan bangunan-bangunan tersebut mulai sirna dari belantara Jakarta.

Pada 1980-an sejumlah bangunan di kawasan Pasar Pagi, hilang oleh pembangunan jalan tol. Beberapa tahun kemudian, bangunan sejenis di kawasan Senen, musnah oleh pembangunan Segitiga Senen. Memang disisakan satu bangunan—saat ini menjadi restoran—namun rumah tersebut bukan berarsitektur China. Bahkan bagian dalamnya sudah dirombak total.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan ada 59 bangunan yang menjadi cagar budaya. Seandainya pemerintah Orde Baru tidak membungkam kebudayaan Tionghoa, seharusnya bangunan berarsitektur China lebih banyak dari jumlah itu. Namun dalam perjalanan waktu, belum tentu bangunan-bangunan tersebut tetap utuh seperti desain awalnya. Soalnya, sebagian besar bangunan tersebut milik masyarakat. Hanya ada subsidi kecil dari pemerintah, itu pun tidak untuk seluruh bangunan. Ironisnya, pembangunan yang terjadi di masyarakat lebih berwawasan ekonomi, bukan budaya. Bukan tidak mungkin nantinya bangunan-bangunan tersebut akan berpindah tangan demi keuntungan komersial.

Pembangunan berwawasan budaya menyangkut kelestarian ciri-ciri budaya pada bangunan tersebut. Sebenarnya, boleh saja suatu bangunan kuno dimanfaatkan sebagai sumber ekonomi, misalnya restoran, toko, atau kantor. Namun tampak depan bangunan harus dipertahankan. Bahkan lebih bagus jika bagian dalamnya dilestarikan dan tetap seperti sedia kala.

Rumah Wan Seng yang bersejarah, sekarang menjadi restoran. Rumah ini bergaya Eropa, sayang bagian dalamnya dirombak total. Dulu di kanan kiri bangunan ini terdapat sejumlah bangunan berarsitektur China. Karena kekurangpedulian pemerintah dan pengusaha, maka semuanya musnah digantikan Segitiga Senen. (Foto-foto koleksi Candrian Attahiyat)

Jika ada bagian yang rusak, tentu saja boleh diganti dengan bahan-bahan baru, misalnya ubin abu-abu diganti keramik. Yang penting adalah ada dokumentasi foto bangunan lama tersebut sehingga ada rekaman sejarahnya.

Pelestarian benda cagar budaya, termasuk bangunan kuno, bukan tanggung jawab pemerintah semata. Pihak lain yang harus berperan adalah pemilik dan masyarakat. Sayangnya, ada trauma yang sulit dilupakan oleh para pemilik bangunan sehingga mereka tidak mau memperbaiki atau mengembalikan tampak bangunan seperti semula. Setiap kerusuhan, kaum minoritas ini memang selalu menjadi sasaran pertama. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Responses

  1. Malam.apakah anda memiliki foto2 lama arsitektur china di kawasan ketandan surakarta?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori