Oleh: hurahura | 26 Oktober 2012

Sejarah Daerah: Peradaban Maluku di Perpustakaan Rumphius

KOMPAS/A PONCO ANGGORO

Perpustakaan Rumphius di kompleks Pastoran Paroki Santo Franciscus Xaverius, Ambon, Maluku. Di perpustakaan yang didirikan pada 1964 ini terdapat hampir 4.000 judul buku dan ribuan majalah dari dalam dan luar negeri. Mayoritas dari buku-buku yang ada bertutur tentang Maluku.

KOMPAS, Senin, 22 Oktober 2012 – Berkunjung ke Perpustakaan Rumphius di kompleks Pastoran Paroki Santo Franciscus Xaverius, Ambon, Maluku, segala informasi mengenai Maluku bisa diperoleh. Perpustakaan yang dirintis tahun 1964 itu hadir di tengah minimnya ketersediaan informasi soal Maluku dan peradabannya.

Perpustakaan itu tak terlalu besar, hanya seluas 121 meter persegi. Namun, di perpustakaan yang terbagi menjadi dua ruangan itu terdapat hampir 4.000 judul buku dan ribuan majalah dari dalam dan luar negeri. Mayoritas buku bertutur tentang peradaban di Maluku, seperti budaya, sejarah, dan kehidupan suku terasing, mulai dari Morotai, pulau di ujung utara Kepulauan Maluku (masuk wilayah Maluku Utara) hingga Pulau Kisar di ujung barat daya Maluku.

Koleksi bukunya terbilang lengkap. Ada pula buku tua, seperti cetakan tahun 1724 yang berjudul Beschryving van Amboina (”Tulisan tentang Ambon”) karya Francois Valentyne.

Selain itu, ada juga karya naturalis Jerman, Georg Everhard Rumphius (1627-1702), yang bekerja untuk perusahaan kongsi dagang Belanda Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di Ambon. Koleksi karya Rumphius, yang bercerita tentang masyarakat Maluku hingga flora dan faunanya, menjadi yang terlengkap di dunia. Koleksi buku yang beragam dan lengkap soal Maluku membuat perpustakaan ini menjadi rujukan bagi peneliti asing atau dalam negeri.

”Setiap bulan pasti ada peneliti asing atau dalam negeri yang datang. Bahan yang mereka cari beragam, tetapi kebanyakan peneliti mencari tulisan Rumphius,” ujar Yola Dumatubun (35), anggota staf di Perpustakaan Rumphius.

Adalah Andreas Sol (96), Uskup Amboina tahun 1964-1994, yang mengumpulkan buku-buku itu dan menaruhnya di Perpustakaan Rumphius yang didirikannya. ”Saya hobi membaca dan mengumpulkan buku. Buku soal Maluku waktu itu sengaja saya kumpulkan sebab literatur tentang Maluku sangat terbatas. Kondisi itu memprihatinkan sebab suatu saat bisa saja orang Maluku tidak tahu lagi sejarah tentang Maluku,” tutur Sol.

Buku ini diperolehnya dari banyak donatur. Sebagian di antaranya dari biolog berkebangsaan Jerman, Wegner, yang pernah tinggal di Waai, Maluku Tengah. Pada 1970, ia kembali ke negara asalnya dan menghibahkan bukunya untuk perpustakaan itu. Buku tentang Maluku lalu ditaruhnya di perpustakaan. Majalah tentang biologi diserahkannya ke sebuah perpustakaan di Yogyakarta.

Donatur buku juga datang dari luar negeri, seperti dari Belanda. Koleksi tulisan Rumphius itu, antara lain, diperoleh dari seorang warga negara Belanda bernama Buiyze.

Sumbangan buku untuk Perpustakaan Rumphius tak pernah berhenti. Terlebih saat perpustakaan kian dikenal karena kelengkapannya akan literatur Maluku. ”Banyak penulis buku dalam dan luar negeri datang ke perpustakaan ini menyumbangkan bukunya,” ujar Yola lagi.

Tidak sebatas berburu buku tentang Maluku, Andreas Sol juga mengajak sejumlah orang untuk menerjemahkan buku yang masih berbahasa Belanda dan Latin ke bahasa Inggris atau Indonesia. Satu yang sampai sekarang masih diupayakan penerjemahannya adalah sejumlah karya Rumphius. ”Agar lebih banyak orang tahu Maluku,” ujar Sol yang mengagumi Rumphius karena dokumentasinya atas flora dan fauna di Maluku hingga menghasilkan 12 buku.

Upaya yang dirintis Sol sejak lebih dari 40 tahun lalu itulah yang membuatnya menerima penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Penghargaan itu diberikan dalam kaitan program nasional Pencanangan Gerakan Nasional Pembudayaan Gemar Membaca di Jakarta, pekan lalu. Namun, karena usianya yang sudah lanjut, Sol tidak bisa ke Jakarta.

”Saya terkejut ada perhatian pada Perpustakaan Rumphius. Saya ini sudah tua, tidak perlu dipuji,” tutur Sol. (A Ponco Anggoro)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori